TENTANG SI CHIMER

Sunday, March 19, 2017

7. DAN SELAMANYA...

“Dah, Kak, Lany berangkat dulu! Muahhh!” Lany melayangkan kiss bye dari dalam mobil. Di sebelahnya Nina duduk dengan tatapan lurus ke depan.
            Victor berdiri di sisi mobil, ia melongokkan kepala ke jendela dan berusaha berbicara dengan Nina. “Ma, Mama yakin Victor nggak boleh berangkat bareng? Mama kan cuma bilang nggak akan kasih uang jajan dan bekukan credit card. Ini seharusnya nggak masuk dalam hukuman dong!”
            Nina pura-pura tidak mendengar rengekan Victor.
            “Ma, Victor bisa telat datang ke sekolah!”
            Nina mengeluarkan tablet dari dalam tas kerjanya dan mulai sibuk memeriksa schedule. Ia menatap supir dari kaca spion tengah dan berkata, “Berangkat, Pak, saya ada janji sama pasien lima belas menit lagi.”
            “Baik, Bu.” Sopir pun memasukkan gigi.
            “Ma! Please!
            Mobilpun melaju pergi. Victor termangu selama kurang lebih lima menit di depan rumah. Dua pembantu yang menyaksikan kejadian itu menahan tawa. Victor menatap mereka, begitu akan didekati, mereka sudah kabur duluan. Nina menyuruh mereka agar tidak menggubris Victor, tidak membantunya dalam menjalani hukuman, apalagi meminjaminya uang. Victor merasa memiliki penyakit menular karena hukuman ini. Bahkan Lany yang biasanya menempel kepadanya, jadi menjauhinya.
            “Nanti kalau Mama marah, Lany nggak jadi dibeliin sepatu baru yang ada lampu-lampunya itu, Kak!”
            Victor mengumpat pelan. Ia harus cari akal. Hukuman yang diberikan Nina tidak diberikan batas waktu. Ia berharap Nina memberitahunya masa hukuman berlaku, entah itu satu minggu atau satu bulan. Tapi batas waktu hanya akan membuat Victor merasa angkuh, Victor akan memutar otak untuk bertahan pada masa hukuman, maka Nina tidak memberi masa berlaku hukuman. Hukuman yang sebenarnya adalah ketakutan bahwa hukuman itu akan berlangsung selamanya.
            Di dalam mobil Nina menerima pesan dari rekan dan juga sahabatnya, Tantri. Ia cerita tentang kelakukan Victor kemarin. Tantri yang selama ini membantunya mengurus Victor setuju bahwa Victor perlu diberi hukuman. Hanya saja, Tantri takut kalau Victor akan mangkir dari sekolah karena kejadian barusan.
            Nina tersenyum dan mengetikkan balasan pesan pada sahabatnya.
            Kamu tenang aja. Aku kenal Victor. Dia nggak akan mangkir dari sekolah cuma karena nggak dikasih uang jajan. Dia pasti bisa sampai sekolah dengan caranya sendiri.

*

            “Harusnya aku tidur lebih cepat.” Gerutu Sheena kesal sembari menguncir rambutnya tinggi-tinggi ke atas. Arloji di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh. Biasanya pukul segitu ia sudah berada di sekolah. “Ah, sialan! Ngapain juga semalam aku mikir yang enggak-enggak sampai susah tidur?!”
            Sheena mencangklong tasnya dan berlari keluar rumah. Ia biasanya sempat membuat sarapan untuk dirinya dan ayahnya, tapi kali ini ia tidak sempat membuatnya. Di ruang tengah ia melihat ayahnya menatapnya dengan tatapan acuh.
            “Yah, Sheena berangkat dulu, kesiangan, bye.” Sheena balas mengacuhkan ayahnya. Ia berlari keluar rumah, menuju halte bus terdekat. Ia beruntung ada bus lewat dan Sheena langsung melambai-lambaikan tangannya. Ia melompat masuk ke dalam bus dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Jantungnya masih berdetum-detum karena belari. Ia merogoh tasnya untuk mencari uang.
            Seseorang duduk di sebelahnya. Seseorang dengan seragam sekolah sama dengannya. Sheena menoleh dan menemukan sosok itu balas menatapnya. Saat itu Sheena merasa ia sedang mimpi buruk. Mungkin sebenarnya ia masih tidur dan belum bangun-bangun juga sampai sekarang. “Shit….Ia mengumpat pelan.
            Kondektur bus mencolek bahunya dan melakukan isyarat meminta uang. Sheena menoleh dan sadar bahwa ia tidak sedang mimpi buruk. Ini adalah sebuah kenyataan bahwa saat ini Victor berada dalam satu bus dengannya dan memilih duduk di sebelahnya – dari sekian banyaknya kursi kosong di bus.
            Sheena menyerahkan uangnya pada kondektur.
            “Dua, Pak!” Victor mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya ke atas.
            Pak Kondektur tak jadi memberikan uang kembalian pada Sheena dan langsung ngelonyor pergi. Sheena ternganga melihat kejadian barusan. Victor meliriknya sekilas dan langsung berpindah tempat duduk ke belakang.
Tanpa berkata apa-apa.
Tidak penjelasan.
Tidak pula ucapan terima kasih.


*

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower