TENTANG SI CHIMER

Sunday, March 12, 2017

5 DAN SELAMANYA...

            “Tolong... tolong aku, Ibu,”
            Sebuah tangan kecil mencengkeram lengannya kuat-kuat.
            Nina terkesiap melihat wajah kecil yang begitu pucat. Tubuh dalam pelukannya sangat ringkih, Nina mendekapnya erat-erat seakan-akan tubuh itu akan berserakan jika ia tidak mendekapnya demikian. Sebab ia menginginkan anak itu tetap utuh. Sebab ia menginginkan mata itu menatap matanya untuk hari-hari ke depan.
            “Ibu…,” anak itu masih bergumam, tubuhnya panas oleh demam yang sangat tinggi.
            Saat itu Nina mengetahui apa yang bisa membuat dirinya menjadi seorang ibu. Anak itu. Anak yang kini duduk di hadapannya dengan mata almondnya menatapnya lurus-lurus. Sepuluh tahun berlalu sejak kejadian itu dan Nina masih belum tahu cara menangani anak itu.
            Nina menghela napas panjang-panjang.
            “Ma,” panggil Victor dengan nada dibuat sedikit manja.
            Panggilan itu adalah senjatanya. Victor sangat tahu kelemahannya. Kadang Nina berpikir siapa yang lebih membutuhkan dari siapa. Victor tampak membutuhkannya, tapi dalam lubuk hati, mereka sama-sama tahu bahwa Nina-lah yang lebih membutuhkan Victor.
            “Victor.” Nina berusaha membuat suaranya tampak sedingin mungkin.
            “Ma, itu bukan salahku. Orang itu tiba-tiba datang dan mukulin aku. Mama lihat sendiri aku bahkan sama sekali nggak bales dia.”
            Nina hanya diam dan menelusuri luka-luka di sekujur tubuh Victor. Untunglah tidak ada luka yang serius, hanya lebam-lebam dan jahitan di ujung bibir. Selain itu Victor baik-baik saja, tidak ada luka trauma di kepala meski menurut penuturan teman-temannya, Victor membentur lantai. Semua teman-teman dan guru membela Victor. Ada laki-laki asing yang tiba-tiba menerobos masuk ke area sekolah dan menyerang Victor. Tidak jelas apa alasannya dan pihak sekolah justru memohon maaf atas keteledoran mereka hingga ada orang tidak dikenal memasuki area sekolah.
            “Kamu kenal laki-laki itu?”
            Victor terdiam, tapi Nina menangkap senyuman tersembunyi. Victor mengenalnya. Orang itu tidak menyerang tanpa alasan. Meski ketika diinterograsi ia tetap bungkam.
            “Victor!” bentak Nina kesal.
            “Ma,” panggilan manja itu lagi, “aku nggak tahu kalau Juli sudah punya pacar. Dia nggak bilang kalau dia punya pacar dan pacarnya lagi kuliah di Jakarta. Bukan salahku juga kalau Juli mutusin pacarnya dan milih aku. Mama lihat sendiri di sini aku cuma korban.”
            “Victor!” bentak Nina lagi. Ia membentak lagi bukan karena marah. Ia hanya tahu ia akan kalah jika tidak segera menghentikan ini semua. Ia akan kalah dengan rengekan manja Victor dan aktingnya yang meyakinkan. “Victor, semua kartu kredit dan uang saku kamu Mama hentikan sebagai hukuman.”
            “Hah?!” Victor membelalak. “Ma, salah aku apa, coba!”
            Nina berdiri dan menatap puteranya dengan tatapan yang ia usahakan terlihat dingin dan tanpa perasaan. “Victor, kali ini jangan harap Mama akan percaya sama cerita kamu. Mama tahu kamu. Kali ini Mama akan tegas sama kamu.”
            Seketika senyum di wajah Victor merekah. Senyuman sinis dan tatapan mata yang menusuk. Ia tertawa kecil. “Mungkin aku harus cari cara lain.”
            “Victor!”
            Victor menatap Nina lurus-lurus. Matanya tampak dingin dan juga sedih. Ada kesedihan yang terendap begitu dalam hingga hanya ketika seseorang sungguh memperhatikan ia bisa melihatnya. Dan Nina bisa melihat kesedihan itu dalam mata puteranya. Sesuatu yang dipendamkannya. Luka yang disimpannya.
Dulu, ketika Victor melakukan kesalahan seperti saat ini, Nina akan memeluknya erat-erat dan menciumi puncak kepalanya. Nina akan berusaha mengambil rasa sakit itu dari Victor. Nina berharap pelukannya akan meredakan segalanya. Tapi Victor kini sudah berusia tujuh belas. Sudah sangat jelas bahwa cara itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Nina tidak bisa melakukan hal yang sama berulang-ulang kali dan mengharapkan hasil yang berbeda.
            Maka kali ini Nina memilih menjadi orang jahat. 
            Ia bangkit dari kursinya, menatap Victor sekali lagi. Victor balas menatapnya dengan mata menantang. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun terpancar dalam sorot matanya yang hitam pekat. Nina tersenyum sedih dan melenggang keluar dari kamar puteranya. Di luar kamar, Nina berjalan menyusuri lorong dengan air mata bercucuran.
            Ia masih ingat tangan kecil itu menggenggam erat lengannya.
            Mata almond itu menatapnya dengan ketakutan dan penuh harap.
            Dan suaranya yang dalam serta sedih berbisik kepadanya, “Tolong aku, Ibu…,”


*

No comments:

Post a Comment

satu tambah satu, kenapa harus sama dengan dua? Maksudku apa itu arti "satu"??? Oh Well, math! The logic that never explain its logical reason! So, just leave your comment bellow, I prefer to use MODERATION comment mode. Just making sure I read the comment one by one :))

Follower