TENTANG SI CHIMER

Saturday, March 5, 2016

BAB 6: WHAT NOW (MENCINTA TANPA PERCUMA)

Kelanjutan kisah MENCINTA TANPA PERCUMA akan saya publish di sini karena pihak admin GWP menginginkan kisah ini tidak dipublish kembali di web mereka. Kisah sebelumnya: http://gwp.co.id/mencinta-tanpa-percuma/

***


I found the one he changed my life,
But was it me that changed,
And he just happened to come at the right time.
I’m supposed to be in love but I’m not mugging.
WHAT NOW Rihanna

            Faya memasukkan mobilnya ke garasi yang kosong. Rupanya mamanya belum pulang. Mungkin ada rapat di kantornya. Faya membuka hape dan mengecek akun Path milik mamanya. Benar, ada rapat auditor di kantor cabangnya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Faya merasa perutnya keroncongan. Ia keluar mobil dan masuk lewat pintu samping rumah – yang langsung menembus ruang makan.
            Beberapa masakan sudah terhidang di meja. Papanyalah yang menyiapkan semua hidangan itu. Aroma yang sedap menguar ke seluruh penjuru rumah. Papanya berwajah lebar dengan pipi tembam kemerahan. Wajahnya selalu tampak tersenyum. Kontras dengan wajah mamanya yang selalu masam. Bukan berarti mamanya tidak pernah tersenyum, hanya saja mamanya tipe orang yang seperti membawa beban hidup.
            Melihatnya datang, papanya lekas mendatanginya, dan mengambil tasnya. “Fay, mau makan atau mandi dulu?”
            “Mandi dulu aja, Pa.” jawab Faya singkat. Faya melepas sepatunya. Papanya langsung mengatur sepatunya ke rak sepatu. Semua di rumah itu selalu tertata pada tempatnya.
            Faya langsung masuk ke dalam kamar dan melucuti pakaiannya. Ia melempar pakaiannya sembarangan. Ia yakin setelah keluar dari kamar mandi semuanya akan kembali rapi. Papanya biasa masuk kamarnya dan merapikan semuanya secepat kilat.
            Faya mencuci wajahnya dengan foam pembersih wajah, melapnya dengan handuk. Ia seharusnya langsung membasuh diri ke shower tapi ia justru menatap bayangannya. Mulai tumbuh keriput di kening dan di ujung mata. Ia sudah mulai mengalami penuaan.
Baginya waktu berjalan terlalu cepat dan tiba-tiba ia kini berusia dua puluh tujuh tahun. Ia terlalu fokus mengejar karir. Ia dibesarkan dengan pemikiran bahwa perempuan harus mengeyam pendidikan tinggi dan memiliki karir yang baik. Mamanya selalu berkata bahwa dunia terlalu kejam bagi seorang perempuan yang hanya mengandalkan wajah cantik. Seorang perempuan modern harus memiliki segalanya, kecantikan, pendidikan, karir, materi yang memadai, dan mungkin kekuasaan. Ia merasa harus menjadi paket komplit yang biasa dijajakan di restoran cepat saji agar bisa bersaing dengan perempuan-perempuan lainnya.
            Mulanya Faya pikir mamanya sudah cukup puas melihatnya sukses seperti saat ini. Ia pikir begitu sampai kemudian Hanung muncul atas kehendak mamanya. Hanung yang mungkin mengalami nasib sama sepertinya. Manusia-manusia yang dibesarkan dalam ketegangan kompetisi pencapaian dalam hidup. Manusia yang berlomba-lomba menjadi lebih dari yang lainnya sedari kecil. Hanung yang juga merupakan paket komplit restoran cepat saji bentukan kedua orang tuanya.
            “Hanung terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak sempat memikirkan kehidupan pribadi, Fay. Sama seperti kamu.” Mamanya berkata demikian siang tadi ketika Faya menanyakan perihal kemungkinan ia dijodohkan.
            “Usia begitu masih lajang, jangan-jangan malah sudah duda.” Faya menuduh.
“Faya, sayang… Hanung dari keluarga yang baik dan kaya. Dia belum pernah menikah. Dia bukan duda seperti yang kamu tuduhkan. Kamu tahu kan pilihan Mama tidak pernah salah.”
“Maksud Mama, Papa bukan sebuah kesalahan?”
“Faya, maksudmu apa?”
“Bukan apa-apa.” Faya menukas karena tidak ingin menyakiti mamanya.
Ada hal yang salah dalam keluarga mereka. Faya tidak menyadari itu sampai dengan seorang teman SMA-nya datang bermain ke rumahnya. Kawannya itu takjub dengan rumahnya. Sangat rapi dan teratur.
            Melihat Faya membawa seorang teman perempuan ke rumah, papanya sangat senang. Ia bolak balik mengantarkan makanan ringan dan minuman, menanyakan apa AC-nya cukup dingin, atau ada sesuatu yang lain yang ingin dimakan.
            “Fay, pembantumu rajin banget ya.” temannya itu berkata sambil menikmati onion ring yang masih hangat tersaji di meja.
            Faya mengerutkan kening. “Pembantu yang mana?”
            “Yang barusan. Hebat banget, baru kali ini aku lihat ada pembantu laki-laki tapi cekatan dan rapi banget kerjanya.”
            Faya tercekat.
            Itu adalah pertama kalinya Faya menyadari posisi papanya dalam rumah. Kepala keluarga dalam rumah ini adalah mamanya. Mamanya bekerja membantung tulang di luar rumah. Sementara papanya berberes di rumah. Dalam sebuah keputusan, suara yang paling dominan adalah suara mamanya. Papanya akan menurut tanpa banyak bicara. Faya dibesarkan dalam lingkungan yang mana seorang istri lebih dominan daripada suaminya.
            Kadang Faya berpikir kehadiran papanya dalam rumah ini tidak terlalu berpengaruh. Sosoknya bisa digantikan oleh siapapun itu, pria atau wanita asal ia bisa membereskan rumah. Ia berperan seperti itu saja. Ada dan tiadanya papanya tidak akan berpengaruh banyak hal dalam kehidupan mereka.

*

            Ketika Faya keluar dari kamar, ia melihat semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mama, Papa, dan juga Jiah – adik perempuannya yang masih SMA – sudah berada di kursi dan menunggunya. Faya menyeret kursi dan duduk. Papanya mengambil piring mama dan mengisinya dengan nasi. Mamanya masih sibuk membalas email melalui tablet. Jiah – adik perempuan Faya – sibuk membaca komik barunya.
            “Jiah, komiknya diletakkan dulu. Ayo makan.” Papanya berkata sembari meletakkan piring berisi nasi di hadapannya.
            Jiah sama sekali tidak menggubris. Ia malah membalik lembar komiknya dan terus membaca.
            “Jiah…,” papanya mengulang.
            “Berisik ah, Papa.”
            Papanya terdiam, wajahnya berubah muram.
            “Jiah!” Faya ikut menegur.
            “Apa sih, Kak? Komiknya sebentar lagi tamat. Lagipula Mama juga masih pegang tabletnya.”
            “Mama!” Faya ganti menegur mamanya.
            Mamanya terkejut dan menatap dengan bingung. Ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang baru saja terjadi di meja makan.
            “Makan dulu. Balas emailnya nanti dilanjut lagi.“ Faya berkata dengan nada rendah dan sopan.
            “Oh, iya iya… sebentar lagi. Ada email penting yang harus segera dibalas.” Mamanya kembali konsentrasi dengan tabletnya.
            Jiah meleletkan lidah. Ia kembali menekuri komiknya.
Faya menunduk menatap makananya. Hatinya seperti diremas-remas. Keluarga normalnya tidak begini kan?


*

TENTANG MENOLONG ORANG LAIN

Ada beberapa hal yang saya pelajari dalam hidup. Bahwa tidak semua orang layak mendapat pertolongan kita. Kadang kita harus tahu kepada siapa kita memberi pertolongan agar tidak menjadi pahlawan kesiangan.

Some people are jerks. They ask us some helps, but when we do, they blame us. You must choose wisely to whom you give help. The world sometime doesn’t care about your kindness. Human only care about their needs.


Tapi terlepas dari itu semua, tetaplah menjadi orang baik. Kebaikanmu bukan tentang pandangan dunia, tapi tentang pandangan Tuhan. Tetaplah menjadi orang yang suka meringankan beban orang lain, asal jangan jadi pahlawan kesiangan.

Wednesday, March 2, 2016

HAL HAL MEWAH DI MATA SAYA SAAT INI

Hai, chimers, apa kabar? Saya baru menyadari bahwa hal seperti blogwalking yang dulunya biasa saja ternyata adalah hal yang membahagiakan bagi saya. Saya rindu masa masa itu. Saya yang sekarang memiliki waktu yang sangat terbatas.

Kemarin saya izin nggak masuk kantor karena sakit. Kemarin saya menyadari betapa indahnya sakit itu. Saya bisa melihat hujan, ngobrol sama teman sekos dan juga nonton drama korea sambil tiduran. Saya lagi nonton Empress Ki ceritanya bagus sekali. Yah intinya saya melakukan hal yang saya sudah jarang bisa lakukan, bagi saya itu hal mewah saat ini.

Kerjaan saya masih habis habisan. Menghabiskan energi dan waktu. Untuk fokus menstabilkan kerjaan saya mutuskan untuk stop nulis novel dulu. Dan itu sudah berlangsung selama setahun sekarang.

Jiwa saya rindu menulis. Kemudian saya membuka arsip draft novel lama dan menemukan dua draft yang belum selesai, yakni Aruntem dan Mencinta Tanpa Percuma.

Saya iseng iseng meneruskan draft menggunakan platform GWP (gramedia writing project). Tujuan utama adalah untuk mencari pembaca, motivasi menulis, bertemu dengan penulis-penulis baru, tujuan selanjutnya adalah untuk menembus GPU.

Singkat kata baru saja memasuki bab 5 proyek menulis Mencinta Tanpa Percuma, saya dihubungi admin GWP. Ia bilang tertarik dengan naskah saya yang itu, meminta saya menyelesaikan, dan mengirimkan pada mereka.
Perasaan saya? Senang, pasti. Tapi ternyata ada perasaan yang lainnya. Saya kehilangan tempat untuk sharing dan itu menurunkan motivasi menulis.Sebab ketika sebuah naskah diminta oleh admin GWP, saya tidak diperbolehkan lagi memosting kelanjutan ceritanya.

Saya menyadari bahwa di dunia ini nggak ada pula yang gratis. Bahkan walau itu bakat menulis yang diberikan Allah, harus ditukar dengan rasa sakit, ketekunan, waktu yang tersita, serta belahan otak yang seharusnya digunakan untuk memikirkan hal hal keseharian. Siapa bilang jadi novelis itu gampang? Mereka mengorbankan banyak hal untuk apa yang kalian baca dalam bentuk buku.

Dan saya kini menyadari itulah perjuangan seorang novelis yang sebenarnya. Bagaimana agar dia terus berkarya tanpa lelah, tanpa bosan, tanpa ada kata menyerah.

Follower