TENTANG SI CHIMER

Wednesday, August 12, 2015

I WONDER I WONDER

Kekuasaan atau kemampuan menjatuhkan orang lain adalah sesuatu yg tricky. Dalam beberapa kesempatan saya menyadari betapa manusia begitu tergoda menjatuhkan orang lain ketika ia mampu dan mau. Ketika tidak suka dan punya kemampuan untuk menjatuhkan, manusia akan tergoda untuk menunjukkan kemampuan itu.
Saya merasakan hal seperti itu juga kadang terlintas dalam pikiran saya yang bukan siapa siapa. Bayangkan hal demikian terlintas dalam pikiran mereka yang berkuasa. Mereka mungkin tidak akan segan bertindak sebagai Tuhan.

Wednesday, August 5, 2015

THAT AFTERNOON

“Mencari itu mudah, tapi menemukan yang cocok itu yang susah.” Kamu berkata demikian ketika aku bertanya kenapa aku? Kenapa bisa?

Barangkali ketika kamu mengucapkan itu kamu sedang membicarakan dirimu sendiri di masa lalu. Bersama perempuan-perempuan sebelum aku yang menjadikanmu berpikir seperti itu.

Dan karena tidak menemukan alasan untuk menolakmu, aku mengiyakan, mengizinkamu masuk dalam hidupku. Saat itu aku hanya ingin menemukan jawaban.

Lalu di saat lain aku datang kepadamu dengan membawa berita bahwa aku mungkin akan pergi meninggalkanmu. Mutasi. Barangkali luar jawa. Barangkali.

Hidupku yang dipenuhi dengan barangkali. Sudah berapa banyak laki-laki yang menyerah dan aku tidak berharap kamu untuk bertahan. Aku bisa memahami kalau kamu seperti yang lainnya. Bukan hal yang mudah berurusan denganku.

“Lalu apa masalahnya?” kamu bertanya.

“Lalu kita gimana?“ aku kembali bertanya.

“Hubungan kita? Aku nggak melihat adanya masalah. Kalau kamu memang ditempatkan di luar Jawa, memangnya kenapa?” jawabmu dengan nada sedikit kesal.

Aku diam saja, mendengar suara angin yang menerpa wajahku.

“Kamu mau kita gimana? Kalau aku mau terus lanjut. Sekarang aku tanya apa maumu?“

Bagaimana mungkin kamu sebegitu yakin sementara aku tidak?

Tapi akan sangat jahat jika dengan jujur saat itu aku berkata aku ingin semuanya berakhir jika memang aku harus pergi.

Sebegitu saja.

Kamu bilang aku nggak boleh berpikir aku bisa hidup tanpa lelaki.

Aku bilang aku telah melewatkan dua puluh lima tahun hidupku tanpa kehadiran laki-laki di saat-saat terburukku. Toh aku bertahan hidup sampai hari ini. Aku sudah pada batas di mana aku menyadari bahwa perempuan bisa terus hidup tanpa eksistensi laki-laki.  Setidaknya aku jenis perempuan yang seperti itu. Entah dengan perempuan-perempuan lainnya di luar sana. Yang rela menyembah dan mendewakan lelaki. Entah dengan jalan berpikir mereka. Itu bukan urusanku.

Sebagaimana cara berpikirku yang juga bukan urusan mereka.

Kamu diam saja.

Aku juga diam.

Tanganmu meraih tanganku, menggenggamnya, dan berkata, “Jangan pergi. Aku sulit menemukan yang seperti kamu.”

Aku tidak berani menatapmu. Karena aku tidak berani menjanjikan apapun. Petang hari itu aku membiarkanmu menggenggam tanganku karena aku berpikir itu adalah terakhir kalinya. Itu adalah sebuah perpisahan. Aku tetap berpikir atas kemugkinan meninggalkanmu.

Aku berkata padamu di lain kesempatan bahwa barangkali kamu tidak benar-benar menyukaiku. Barangkali kamu hanya menyukai apa yang telah kamu dapatkan. Aku hanya bagian dari pencapaianmu. Barangkali kamu menyukai eforia ketika teman-temanmu menyebutku begini dan begitu.

Ketika masa-masa itu berlalu dan ternyata aku tetap di sini. Bersamamu. Aku baru menyadari betapa mengerikannya pemikiran pemikiran itu. Betapa mudahnya aku melepaskanmu. Betapa aku sudah tidak mampu lagi memercayai siapapun. Betapa seharusnya aku merasa beruntung atas kehadiranmu.  

“Jangan menyerah semudah itu. Kamu seharusnya nggak menyerah semudah itu. Kalau aku berusaha kamu harusnya juga begitu.“

from visualizeus
Saat itu dari seberang telepon aku menangis. Entah kamu tahu atau tidak.

Follower