TENTANG SI CHIMER

Wednesday, October 22, 2014

MAAF, UNTUK SEMENTARA "KITA" DIBERHENTIKAN

Cerbung "KITA" untuk sementara diberhentikan. Alasannya? Saya sedang menggarap proyek nulis pemberian penerbit. Saya sebenarnya agak kagok dipesan naskah. Karena saya penulis liar, sukanya nulis di hutan belantara. Eh, maksudnya, saya suka nulis sesuka dan semau saya. Jadi, nulisnya pun selama ini tanpa synopsis dan outline.

Sekarang, ketika dipesan. Saya harus bikin synopsis dan outline sebelum novelnya jadi. Itu sulit buat saya. Terus terang saja. Saya ga bisa. Tapi bukannya selalu ada yang pertama dalam hidup? Proyek pesanan ini juga adalah proyek naskah pesanan pertama buat saya, sebagai penjualan gorengan, eh maksudnya sebagai penulis.


Sekian. Bye. 
Minta doanya…

Saturday, October 11, 2014

KOVER ANAK KE-6: MUSE

Ada banyak hal yang perlu saya syukuri di tahun. Di tahun ini tiga novel saya sudah terbit :
1. X : Kenangan yang Berpulang (Februari, 2014)
2. QUEEN (Agustus, 2014)
3. ELIPSIS (September, 2014)

Dan mungkin akan menjadi 4 novel yang terbit di tahun ini. Saya mendapat kabar baik dari editor dan kover novel untuk anak ke-6 saya sudah keluar. Jadwal terbit kemungkinan bulan November. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Berikut previewnya…


Blurbs…

Aku sahabat dari istrimu, tempat kau biasa mendiskusikan segala hal. Aku sahabat dari istrimu, tempat di mana kau selalu meminta nasihat dalam menghadapi kegilaan istrimu. Aku sahabat dari istrimu, dan aku jatuh cinta padamu.

Jatuh cinta pada Jonas adalah apa yang tidak pernah Renatha rencanakan. Namun begitulah adanya, ia jatuh cinta pada Jonas, suami dari Nadia – sahabatnya. Mulanya itu hanya sebuah rasa tanpa perlu mendapat pengakuan. Mulanya…

"Kau… mau sampai kapan kau akan lari, hm?“
“Kenapa tidak? Kalau perlu aku lari lagi sekarang. Aku akan pergi ke tempat di mana aku tidak akan menemukan satu orang pun yang mengetahui masa laluku. Terutama kamu! Adalah sebuah kesalahan mempercayaimu malam itu!“



Tuesday, October 7, 2014

"KITA: MENCINTA TANPA PECUMA" BERPINDAH KE BLOG PRIVAT

Belajar dari kesalahan di masa lalu, ketika saya memajang novelet di sini dan ide saya dicuri oleh orang lain. Sialnya, dia menerbitkannya dalam bentuk novel, fufufu. Saya sedang sial.

Dengan ini, saya memajang KITA sampai di sini. KITA masih bisa diikuti dalam blog private http://awww-awesome.blogspot.com/ (only administrator dan undangan yang bisa membukanya).

Bagi yang masih ingin mengikuti, jangan khawatir, kalian bisa mencantumkan alamat email blog kalian di kolom komentar di bawah. Saya akan memasukkannya. Terima kasih yaaa... #ciumSatuSatu

Btw, KPG bikinin banner lucu buat novel kelima saya, ELIPSIS. Elipsis akan membawa kalian ke romance yang berbau paranormal, family, dan mental dissorder. Atran yang didiagnosis mengidap skizofrenia, ibunya ingin Atran sembuh, tapi Atran tahu ia tidak sakit. Ia hanya menjadi milik dari dunia yang berbeda.



Salam hula hula,
Annesya

Thursday, October 2, 2014

10 KITA: MENCINTA TANPA PERCUMA

            Hanung menelan ludah. Hari ini Faya menggunakan rok sepan dengan belahan di pinggir. Ketika ia menyilangkan kaki, mau tidak mau Hanung memperhatikan paha Faya yang bersih dan jenjang. Faya tidak sadar Hanung memperhatikannya, ia sedang membaca buku menu. Hanung merasa dirinya brengsek, tapi dia laki-laki. Pada dasarnya laki-laki menyukai keindahan. Hanung membela diri.
            “Gurami saos nanas, plecing kangkung, sama minumnya air mineral.” Faya menulis pesanannya di kertas pesanan. “Kamu apa, Nung?”
            Hari ini Faya menguteks kukunya warna hitam, tapi kuku jari tengahnya dikuteks merah darah. Paduan yang kontras. Kenapa hanya jari tengahnya saja yang dikuteks berbeda dengan lainnya? Pertanyaan seperti itu yang pasti muncul ketika melihat seorang perempuan menguteks kukunya demikian.
            “Hanung?” Faya mengulangi.
            “Oh, ya, sama aja. ”
            Faya mengangguk dan mengisi lembar pesanannya. Seorang pelayan menghampiri, mengulangi pesanan mereka dan membawa lembar itu pergi. Kini mereka berdua bertatapan agak lama.
              “Oh iya, bilyet dan buku tabunganmu sudah jadi.” Faya mengeluarkan berkas-berkas dan menyodorkan apa saja yang perlu ditandatangani. ”Tandatangani bagian ini dan ini, juga ini.”
            Setelah urusan serah terima selesai, mereka bertatapan lagi dalam diam. Padahal sebelumnya mereka berencana membicarakan tentang perjodohan mereka. Bahkan mereka masih diam sampai pelayan restoran membawakan pesanan mereka. Mereka makan siang dalam diam. Tanpa bicara. Tanpa merasa terganggu satu sama lain.
Mereka menjadi diri mereka sendiri.
              *
            Hanung mengantarnya sampai kantornya sebab Faya membawa mobil sendiri. Hanung mengantarnya sampai pintu mobil dan mereka kembali bertatapan. Hanung sedikit terpesona dengan bulu mata Faya yang panjang dan lentik. Mungkin efek maskara tapi Hanung tidak peduli. Baginya gadis di hadapannya itu menarik. Ia cantik dan mandiri. Hanung berharap gadis itu juga merasa ia tidak cukup buruk untuk menjadi suaminya.
            “Mengapa kamu menyetujui perjodohan ini?” tanya Faya.
            Hanung menerawang sejenak. Ia memikirkan sesuatu yang terdengar menginspirasi tapi ia takut jadi gombal. Ia ingin bilang ia mencintai gadis itu tapi pada kenyataannya perasaannya belum mencapai tahap itu. Mereka bukanlah remaja yang antusias dengan konsep cinta pada pandangan pertama. Mereka adalah dua orang dewasa.
“Terus terang saja, bagiku pernikahan adalah salah satu fase hidup. Cepat atau lambat pasti juga akan kualami. Pada akhirnya semua perempuan juga ingin menikah dan memiliki keturunan. Walau ia mengelak bisa hidup tanpa laki-laki, walau ia mengelak ia bisa bahagia sendiri, pada akhirnya… perempuan tetaplah perempuan. Aku menyadari itu semua.” Faya mengutarakan alasannya terlebih dahulu. Dengan logis dan jujur. Hanung jadi makin pusing.
Ia mencari-cari jawaban yang sama jujurnya dengan jawaban Faya dan akhirnya ia menemukannya. “Entah kenapa, aku merasa… bersamamu, hidupku akan menjadi lebih baik. Bukankah kita seharusnya tetap tinggal dengan jenis orang yang seperti itu? Seseorang yang membawa kita pada fase yang lebih baik dari fase kita sebelumnya?”
Faya menatap mata laki-laki itu sejurus. Ia masih sedikit mendongak menatapnya padahal ia menggunakan heel setinggi 7 sentimeter. Ia juga cukup semampai untuk ukuran perempuan. Hanung ternyata cukup tinggi, ia menyadari.
“Kalau begitu, kita akan tetap melanjutkan ini?”
“Aku setuju.” Jawab Hanung mantap.
Faya mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Faya menjalankan mobilnya sampai keluar dari kompleks kantor Hanung. Selama itu pula, Hanung berdiri di sana, mengantarkan kepergiannya.
Faya menatap bayangan Hanung dari kaca spion mobil. Sesuatu dalam hatinya terasa hangat. Hanung menghidupkan kembali rasa yang sudah lama ia lupakan. Ia pikir ia tidak akan lagi peduli dengan hubungan lawan jenis. Ia pikir ia sudah berhenti memikirkannya. Namun ia tetap perempuan biasa dan pada dasarnya semua perempuan itu sama saja.

*

Follower