TENTANG SI CHIMER

Saturday, September 27, 2014

9 KITA MENCINTA TANPA PERCUMA

                “Aku lihat akhir-akhir ini kamu jadi rajin ke kampus.” Beno mengusap dagu dengan lagak detektif. “Jangan bilang kamu sekarang insyaf dan mau melanjutkan kuliah sampai lulus? Terus setelah lulus kamu mau melanjutkan bisnis keluargamu dan jadi anak yang berbakti pada kedua orang tua? Ah, mulia sekali kau, Nak.”
                “Hahahahaha, lucu.” Sahut Tyo sarkastis. Pada kenyataannya ia hanya berangkat ke kampus, bermain ponsel selama jam pelajaran, dan makan siang di kantin Fakultas Sastra.
                Sudah berhari-hari ia tidak bertemu dengan Saraz. Tiba-tiba ia merasa khawatir. Apakah gadis itu baik-baik saja? Atau ia sudah pulang ke rumah suaminya? Tyo merasa heran karena ia terus memikirkan Saraz.
                 Kelas Ekonomi Pembangunan telah selesai, mereka menyusuri tangga bersama. Lukman – yang juga baru keluar dari kelasnya – berlari ke arah mereka dengan senyuman lebar. “Wah wah… Tyo rajin ngampus sekarang. Kita makan siang di mana? Ke Kantin Sastra lagi?”
                Tiba-tiba Beno berteriak. “Ya ampun! Jangan bilang kamu rajin ke kampus gara-gara Saraz?”
                Tyo mengedikkan bahu. Ia berjalan mendahului dua sahabatnya.
                “Tyo, Saraz itu sudah menikah. Dia menikah waktu berusia lima belas tahun.” Beno mengejarnya.
                “Dari mana kamu tahu?”
                “Suaminya sering datang ke kampus, menghajarnya, dan menyeretnya pulang. Saraz itu bukan perempuan baik-baik. Ayolah, Tyo, kamu tidak jatuh cinta sama dia kan?”
                “Bukan hakmu mengatakan hal seperti itu.”
                “Tyo, Saraz itu bisa tidur dengan sembarang laki-laki demi uang. Sudah jelas dia perempuan nggak bener. Semua orang di kampus tahu itu.”
                Tyo mengangkat tangan agar Beno diam. Matanya nyalang. Wajahnya memerah karena amarah. Tyo tidak tahu kenapa ia merasa panas karena kata-kata Beno. Ia tidak mau seseorang mengatakan hal yang buruk tentang Saraz. Tyo ingin percaya bahwa ia tidak jatuh cinta dengan percuma. Ia ingin percaya bahwa ia tidak mungkin jatuh cinta pada perempuan yang buruk.
*
                Sesuatu dalam nada suara gadis itu terdengar kelu. Rambutnya yang berwarna mencolok sangat kontras dengan matanya yang sayu dan tampak menderita. Tyo tiba-tiba bisa melihat sosok sebenarnya dari gadis itu. Ia bisa membayangkan Saraz tanpa cat rambut dan make up dramatisnya. Ia akan terlihat sangat rapuh dan cantik.
                “Dia suamiku.”
                “T-tapi…,”
                “Aku dinikahkan ketika aku masih berusia lima belas. Bukan dinikahkan, aku… diberikan oleh orang tuaku kepada laki-laki itu untuk melunasi hutang-hutang mereka.”
                Tyo merasa dirinya terseret ke suatu dunia yang berbeda. Dunia yang jauh berbeda dari dunianya. Ia yang terlahir dalam keluarga yang berada dan serba berkecukupan. Tidak pernah merasa kelaparan. Tidak pernah dipukuli. Tidak pernah tahu bahwa drama yang dihadirkan dalam film, ternyata bisa terjadi dalam dunia nyata. Saraz adalah perwujudan drama yang nyata. Bagi Tyo, ucapan Saraz barusan seperti tidak nyata.
                “Aku pulang sekarang. Kalau suamiku melihatmu, dia akan membunuhmu. Aku tidak bohong, ia bisa melakukannya.” Saraz tersenyum dan membalikkan badan. Ia menempelkan botol minuman dingin ke bibirnya dan melangkah pergi menembus gelapnya malam hari itu.
                Tyo masih mengingat semuanya seakan kejadian itu terjadi kemarin malam. Namun ia ada di sini, sendirian menikmati gado-gado di kantin Fakultas Sastra. Ternyata gado-gadonya enak. Tyo tersenyum.
                Tiba-tiba ia mengingat satu hal. Ia memiliki nomor telepon Saraz. Tyo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor tersebut. Tanpa diduga, Saraz mengangkatnya dengan sangat cepat. Bahkan satu nada sambung pun belum selesai.
                “Kamu ke mana aja? Cepat ke sini sekarang, mereka sudah ada di sini untuk menagih!” suaranya terdengar panik.
                “Halo, Saraz?“ Tyo masih bingung.
                “Kamu di mana!? Cepat ke sini sekarang. Jangan lupa bawa uang 3 juta!“
                “Hah? Apa? Ada apa?“
                “Tiga juta, Ton. Kumohon, Ton, datang segera! Aku percaya kamu tidak sebrengsek itu meninggalkanku seperti ini! Datanglah, kumohon!“
                Barulah Tyo menemukan kesadaran ketika suara Saraz tampak memelas. Gadis itu sedang dalam kesulitan. Ia tidak ingin berlama-lama, “Aku ke sana sekarang, beritahu posisimu di mana lewat sms, Raz.”

*

Thursday, September 18, 2014

Selamat Datang Ke Dunia, Anak Kelima Saya, ELIPSIS

Elipsis (yang dulunya berjudul Atran) akan beredar di toko buku pada 29 September 2014. Bergenre paranormal romance, psychology, dan family. Saya menulis naskah ini tahun 2011 (3 tahun yang lalu). Elipsis adalah naskah saya yang paling banyak menerima penolakan dari penerbit. Mungkin karena mengusung tema yang riskan? Saya kurang tahu pasti karena penerbit-penerbit yang menolaknya juga tidak memberi alasan pasti.

Elipsis juga pernah mendapat kontrak penerbitan dari penerbit lain. Namun karena proses revisi yang mengubah esensi cerita, saya dan penerbit sepakat untuk membatalkan kontrak penerbitan. Waktu berlalu dan naskah ini pun kemudian berhasil lahir ke dunia dalam bentuk eksemplar dan bisa kalian temukan di toko buku. ELIPSIS kini diterbitkan oleh Penerbit POP, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Berikut preview kover dan blurbs-nya... :)





Eeuwige liefde is liefde die niet meer terugkomt.
Cinta yang abadi adalah yang tak kembali.

Atran sudah berhenti menghubunginya. Kalea memutuskan untuk terus menjalani hidup dengan menerima lamaran laki-laki lain. Kendati demikian, kenangan bersama Atran tak akan pernah memudar barang sedetik. Atran bukan laki-laki biasa. Ia bisa berbicara dengan angin dan pohon. Ia selalu tahu kapan hujan akan turun, kapan kematian mengepakkan sayap. Ia mampu berbicara dengan roh dan semesta. Namun, dengan segala kemampuan supernatural yang dimilikinya, mengapa Atran mengabaikannya? Tak bisakah Atran mendengar panggilannya? Dua
tahun berlalu dan ia dibiarkan meragu.

Berpisah darimu bagaikan sebuah elipsis—jeda yang tak terisi oleh katakata. Ketika kau jauh, aku menemukan bahwa di antara kita ada ikatan tak kasat mata, kata-kata yang tak terucap, rasa yang tak terungkap, memori yang menguat seiring besarnya jurang pemisah antara kita. Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang kau akan kembali. Namun selalu ada ruang untuk meragu. Selalu ada elipsis yang kemudian diisi oleh rasa kehilangan. Selalu ada jeda bagi hati yang kosong.

Follower