TENTANG SI CHIMER

Saturday, August 30, 2014

-

Pada dasarnya kegagalan membuatmu belajar lebih banyak ketimbang keberhasilan. Pada dasarnya ketidakpuasan selalu membawa manusia pada rasa penasaran dan pencapaian. Pada dasarnya kemudahan seringkali melemahkan. Pada dasarnya jatuh membawa manusia pada kebangkitan. Pada dasarnya sesuatu yang sulit tidak mudah dipahami. Sama halnya seperti hidup.

Monday, August 25, 2014

.

Ada kebanggaan tersendiri ketika saya keluar dengan menggunakan hijab. Bukan sebuah kecongkakan melainkan sebuah pengetahuan, bahwa saya kini dianggap Allah cukup layak mengenakan penutup kepala. Saya cukup layak menjadi salah satu representasi muslim. Walau belum cukup baik, setidaknya saya sedang berusaha.

Saya mengalami perjalanan panjang hingga sampai di titik ini. Saya memilih mencari tahu alasan mengapa seorang muslim harus berhijab, dalam perjalanan saya, saya menemukan rasa sakit dan ketidakadilan. Sebuah perjalanan yang tidak membahagiakan namun memang itu jawabannya.

Saya menemukan banyak alasan untuk lebih mencintai Allah. Saya menemukan banyak alasan untuk memilih dekat dengan-Nya. Sebab hidup terlalu singkat. Sebab manusia bisa menjadi demikian kejamnya. Sebab segala pujian bisa dengan sekejap berubah menjadi makian. Sebab dengan mengenakan hijab saya memiliki lebih banyak kesempatan bertemu dengan orang-orang yang baik. Sebab dengan berhijab orang lain akan lebih memperlakukan saya sebagai muslim.

***

                “Mbak, tahu nomor telepon saya darimana?” tanya si tukang ojek
                “Dari teman, Pak, teman saya itu langganan ojek taksinya Bapak.” Jawab saya.
                “Mbak, ini kartu nama saya, kalau mau pesan ojek lagi.“
“Saya dari luar kota, Pak, kadang datang malam. Kalau malam ada batas jamnya?“
“Enggak ada, Mbak. Oh, ya, ada juga ojek yang perempuan, yang nyetir ibu-ibu, tapi mahir banget naik motornya.“
                “Oh iya? Keren, ya, Pak.“
Si Bapak cengengesan senang dengan pujian saya.
Saya tersenyum.
Mungkin dia melihat hijab saya hingga menawarkan jasa ojek perempuan.

Thursday, August 21, 2014

SOMEBODY TO DIE FOR: SESEORANG YANG AKU RELA MATI KARENANYA

Aku bisa menyeretmu dari lautan.
Aku bisa menarikmu dari kobaran api.
Dan ketika kau berdiri dalam bayang-bayang,
Aku mampu membuka langit.

Aku bisa menyerahkan kesetiaanku hingga akhir waktu.
Dan kau tak kan pernah terlupakan, denganku di sisimu.

Dan aku tidak memerlukan hidup ini.
Aku hanya butuh…

Aku tidak memiliki apapun untuk membuatku bertahan hidup.
Namun aku juga tidak memiliki alasan untuk mati.
Namun ketika aku berdiri di tiang gantungan, aku akan menatap langit.
Sebab tidak penting ke mana mereka akan membawaku.
Aku akan tetap bertahan melawan kematian.
Dan aku tidak akan pernah terlupakan, denganmu di sisiku,

Dan aku tidak memerlukan hidup ini.
Aku hanya butuh…

Seseorang yang aku rela mati karenanya.
Seseorang yang aku rela menangis karenanya.
Ketika aku kesepian.

Ketika aku berdiri di tengah bara api.
Aku akan menatapnya tepat di matanya.
Dan aku akan membiarkan iblis tahu bahwa aku cukup berani untuk mati.
Dan tidak akan ada neraka yang mampu menunjukkanku,
Yang lebih dalam daripada harga diriku.
Sebab aku tak akan terlupakan, selamanya aku akan melawan.

Jangan lengah pada malam.
Lawanlah cahaya yang redup.
(lirik dialihbahasakan ke Indonesia oleh Annesya. Somebody to die for dinyanyikan oleh Hurts)

***

Saya lagi tergila-gila dengan lagu-lagu Hurts karena musiknya yang unik dan liriknya yang gelap. Tapi ya gitu deh video klipnya geje semua. Sebenarnya lebih enak didengar tanpa lihat video klipnya. Nguknguk


Lirik asli : "Somebody To Die For"

I could drag you from the ocean,
I could pull you from the fire
And when you're standing in the shadows
I could open up the sky
And I could give you my devotion
Until the end of time
And you will never be forgotten
With me by your side

And I don't need this life
I just need…

I've got nothing left to live for
Got no reason yet to die
But when I'm standing in the gallows
I'll be staring at the sky
Because no matter where they take me
Death I will survive
And I will never be forgotten
With you by my side

Cause I don't need this life
I just need…

Somebody to die for
Somebody to cry for
When I'm lonely

When I'm standing in the fire
I will look him in the eye
And I will let the devil know that
I was brave enough to die
And there's no hell that he can show me
That's deeper than my pride
Cause I will never be forgotten
Forever I'll fight

And I don't need this life
I just need…

Somebody to die for
Somebody to cry for
When I'm lonely

And I don't need this life
I just need…

Somebody to die for
Somebody to cry for
When I'm lonely

Don't go gentle into that good night
Rage on against the dying light


Friday, August 15, 2014

BLIND: BUTA

Sejak hari di mana aku meninggalkanmu, aku mendengar suaramu di setiap suara.
Sejak hari di mana aku meninggalkanmu, aku melihat wajahmu di setiap keramaian.
Tidak mau hilang.

Namun setiap aku merasa kamu dekat,
Aku menutup mata dan mematung.
Sebab kini satu-satunya yang kutakutkan adalah melihatmu lebih baik sendiri.

Aku ingin melepas mataku dan menjadi buta.
Aku ingin melepas mataku dan menjadi buta.

Seakan beban dunia teremban padaku, aku tak mampu mengangkat kepala.
Jadi jika kamu bertemu denganku di jalan, berbaliklah, dan berlalu.

Sebab setelah segala keindahan yang kita hancurkan,
Aku terjun dalam kehampaan,
Aku tahu suatu waktu hatiku akan terobati.

Aku beritahu kamu.
Setelah segala hal yang telah kita lakukan.
Aku tak mau menjadi diriku sendiri.
Aku beritahu kamu,
Bahwa aku tercabik-cabik.
Jika aku melihatmu bersama orang lain.
(Blind by Hurt, dialihbahasakan oleh Annesya)
***

Saya dalam fase revisi novel #elipsis (dulu berjudul #atran) dan saya memang butuh asupan lagu-lagu galau yang dark dan ga penting. Blind yang dinyanyikan Hurts menjadi salah satu teman revisi. Naskah ini adalah naskah yang selalu membawa saya pada perasaan tidak nyaman. Karena novel ini sebenarnya bagian dari memoar. Realita yang dibawakan dalam bentuk fiksi. Ya udah lah yah, ini lirik aslinya...
***

BLIND
sung by HURTS

Since the day I left you I hear your voice in every sound.
Since the day I left you I see your face in every crowd.
It won't go away

But every time I feel you near
I close my eyes and turn to stone.
Cause now the only thing I fear
Is seeing you’re better off alone. Yeah.

Cut out my eyes and leave me blind
Cut out my eyes and leave me blind.

With the weight of the world upon me I can’t hold my head up high.
So if you see me on the street turn away or walk on by.

Cause after the beauty we’ve destroyed
I’m cascading through the void,
I know in time my heart will mend.
I don’t care if I never see you again. Yeah.

Cut out my eyes and leave me blind
Cut out my eyes and leave me blind.

Girl, I told you
After all we’ve been through
I don't wanna be by myself.
Girl, I told you
That it would tear me in two
If I see you with someone else.

Cut out my eyes. And leave me blind.
Cut out my eyes. And leave me blind.
Cut out my eyes. And leave me blind.


COME TO THINK ABOUT IT

Come to think about it. Tentang saya dan tanggal 18 nanti. Ini sebenarnya bukan tentang kekalahan saya atas kehendak manusia lainnya. Ini adalah kemenangan saya dalam mendekatkan diri pada Tuhan. Tanggal 18 adalah kelahiran saya sebagai seorang yang berhijab. Saya sudah dinilai layak oleh Tuhan untuk mengenakan hijab penuh. Saya sudah naik kelas. Walau hadiah dari kenaikan kelas tersebut adalah ujian yang lainnya. Namun tidak penting seberapa berat ujian yang saya hadapi nanti, selama saya punya Tuhan. Itu sudah lebih dari cukup.


Saya tidak perlu mempertanyakan lagi apa yang saya lakukan benar atau tidak. Saya sudah mengetahui jawabannya. Tuhan sudah memberikan jawabannya. Tidak penting apa yang manusia nilai tentang saya. Yang terpenting adalah bagaimana Tuhan menilai saya. Hidup hanya hidup. Yang tak akan lama dan segera berakhir tanpa kita pernah memikirkannya. Hidup hanya seperti itu itu saja…

Tuesday, August 12, 2014

BAIK BAIK SAJA

“Wah, aku ga tahu kalau ternyata kamu ada masalah itu.” ujar teman saya. “Ternyata kamu juga ada masalah juga, ya. Padahal aku pikir, kamu kaya ga ada masalah gitu.”

Cukup banyak teman yang berkata demikian ketika saya menceritakan kisah saya di masa lalu atau masalah saya yang sudah usang. Mereka terkejut. Beberapa sangat terkejut. Kemudian saya diam dan berpikir, ternyata akting saya selama ini sangat sukses.

Saya sering menyimpan masalah saya. Menceritakannya hanya pada teman dekat atau ketika diperlukan. Bagi saya, masalah hidup, bukanlah makalah yang perlu dipresentasikan di khalayak ramai dan meminta mereka untuk memahami masalah saya. Saya sudah melewati banyak kejadian yang membuat saya menyimpulkan bahwa “tidak pernah ada seorang manusia pun yang benar-benar bisa memahami posisi saya, karena mereka tidak pernah merasakan.”

Bukan berarti saya sinis. Dalam banyak kejadian, saya mungkin juga tidak bisa benar-benar memahami masalah teman saya. Saya juga tidak pernah berada di posisi mereka.

Saya percaya hanya saya dan Tuhan yang benar-benar bisa mengerti. Saya berhenti bercerita dan memperbanyak berdoa. Di hadapan lainnya, saya akting baik-baik saja. Kadang gagal, dan menutupinya dengan tingkah alay. Namun, overall, sejauh ini, mereka lebih menangkap kealayan saya ketimbang masalah yang saya sembunyikan.

Yah, bisa dibilang, saya cukup sukses akting baik-baik saja. Cukup menyakitkan, sih, ketika orang lain salah memahami kita. Tapi bukankah itu yang saya inginkan? Saya ingin orang lain melihat saya baik-baik saja. Saya memilih salah dipahami. Mereka tidak perlu tahu. Mereka toh tidak akan paham.

Bukan sinis. Ini cuma kenyataan hidup.


Saturday, August 9, 2014

KETIKA SENDIRI

Ketika sendiri saya sebnarnya tahu saya tidak benar-benar sendiri. Ketika tidak ada seseorang yang bisa memahami, saya tahu ada yang benar-benar bisa memahami posisi saya. Saya bicara dengan-Nya melalui dzikir dan kepasrahan. Melalui keinginan untuk semakin mendekat kepada-Nya.

Saya sudah melalui masa-masa sulit di mana membenci-Nya menjadi cara saya bertahan hidup. Mencari bukti bahwa manusia terlahir bukan sebagai wayang, mereka bisa menentukan takdirnya sendiri. Namun sejauh apapun saya lari saya kembali pada-Nya. Sejauh apapun saya memutar, saya ingkar, saya membenci, saya selalu kembali kepada-Nya.

Di saat sulit seperti ini saya tahu saya harus melepaskan semuanya. Saya telah menentukan pilihan. Saya memilihNya. Pada dasarnya semua pilihan menghadirkan resiko. Ketika saya memilihNya saya pun menghadapi resiko. Namun memang pada akhirnya semua pilihan selalu menghadirkan resiko. Apa yang harus ditakutkan?

Maka saya ingin memilih yang benar. Maka saya ingin terluka karena mempertahankan yang benar. Saya ingin jatuh di tempat yang benar dan bangkit di tempat yang benar. Saya sudah lelah berlari dan ingkar. Saya sudah lelah berkata saya belum siap dan menipu diri sendiri.


Saya sudah menemukan jawabannya sekarang. Maka saya tidak akan lari lagi dan ingkar. Saya akan mulai memperbaiki semuanya. Saya akan berdiri di sisi-Nya. Saya tidak akan menjadi bunglon lagi. Saya akan menjadi diri saya sendiri. Apapun yang terjadi. Di masa depan. 

Friday, August 8, 2014

NOVEL KEEMPAT SAYA "QUEEN" TELAH TERBIT


Entah sejak kapan Ares selalu mengikutiku, aku tidak begitu peduli. Bagiku, Ares hanya teman masa kecil yang pernah mencuri pakaian dalamku, tidak lebih. Ares mungkin menyukaiku tapi apa peduliku?

Ketika kini aku bekerja di Kafe Tante Mariam bersamanya, tidak banyak pula yang berubah. Ares hanya teman yang kebetulan bekerja sebagai koki. Ares
hanya teman yang, dengan tanpa malu, memamerkan celana renangnya.

Namun sebagian dari diriku tahu, bahwa perlahan Ares mulai memasuki kehidupanku dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku harus menghentikan kegilaan ini sebelum terlambat!

“Kadang lelaki, sehebat apapun dia, bisa juga melakukan hal bodoh. Misalnya, jatuh cinta sendiri.” – Ares.

***

Dear Chimers, lama tak jumpa. Ada banyak masalah di dunia nyata yang membuat saya berhenti mengurus Heartchime. Terlalu banyak yang terjadi hingga saya kehilangan kemampuan saya untuk mengisi blog tempat curahan hati ini. Kadang, dalam kondisi sulit, saya lebih suka diam.

Kendati demikian, dalam fiksi saya selalu bisa menjadi diri sendiri. Fiksi adalah alasan saya tetap waras. And there she is my fourth child, QUEEN, anak keempat saya lahir di bulan Agustus. Dibidani oleh penerbit Sheila, Andi publisher - penerbit yang juga membidani anak pertama saya, Ubur Ubur Kabur.

Queen akan segera hadir di toko-toko buku kesayangan kamu. Grab it and enjoy the comedy romantic. Love you all.


DOA YANG TERJABAHKAN

Saya mulai takut. Pada dasarnya saya masih manusia egois. Saya ingin Tuhan menolong saya. Maka Ia mendekat. Namun ketika saya rasa Ia dekat, saya menjadi penakut. Setiap ucap dan doa menjadi terlalu cepat ditanggapi. Sementara sisi manusia saya belum siap menghadapi resikonya.

Sebagaimana hubungan dengan manusia, hubungan dengan Tuhan pun ada timbal baliknya. Ketika Tuhan terasa semakin dekat dengan saya, saya tahu saya harus merelakan beberapa bahkan banyak hal duniawi yang saya sukai, demi mendekat dengan-Nya. Pada dasarnya saya masih manusia biasa yang masih menyukai hal-hal duniawi. Saya harus ikhlas dengan kesulitan yang menguji iman saya pada-Nya. Pada dasarnya saya merasa iman saya tidak terlalu baik. Saya meragukan diri saya sendiri.

Saya mulai takut dengan doa yang terjabahkan terlalu cepat. Hingga saya merasa setiap laku dan tindak saya diperhatikan oleh-Nya. Saya mulai takut. Namun bukankah kita seharusnya memang hanya boleh takut pada-Nya di dunia ini?

Begitu saya kemudian menyadari.

Follower