TENTANG SI CHIMER

Wednesday, June 25, 2014

REVIEW FILM: MALEFICIENT (2014)

Maleficent (2014) Poster


Seorang peri terkuat bernama Maleficient jatuh cinta pada manusia. Suatu ketika kerajaan manusia menyerang kerajaan hutan. Sang raja dikalahkan namun sang raja mengutus siapapun yang mampu membunuh Maleficient. Orang tersebut akan mendapatkan tahta kerajaan. Seorang pemuda yang berambisi, mengiyakan. Pemuda itu mengenal Maleficient. Pemuda itu adalah cinta pertama Maleficient. Namun pemuda itu mengkhianati cinta Maleficient, memotong sayapnya, dan menjadi raja. Terluka dan merasa dibodohi, Maleficient mengutuk putri sang raja. Kutukan yang berhubungan dengan cinta sejati dan sebuah ciuman.

Maleficient adalah kisah Sleeping Beauty diambil dari sisi si Peri Jahat. Yang membuat film ini hidup adalah akting Angelina Jolie. Saya terpukau dengan akting Jolie. Secara visual film ini nyaman di mata. Ceritanya setipe dengan Frozen, twistnya pun sama. Tapi emang Mbak Jollie ini juara! Oh ya, di sini anaknya Mbak Jolie-Abang Pit nongol jadi Sleeping Beauty sewaktu balita.

Tuesday, June 24, 2014

REVIEW FILM: X-MEN (DAYS OF THE FUTURE PAST) 2014

Di masa depan, robot Sentinel membasmi semua mutan dan manusia yang terjangkit mutan. Sentinel membunuh siapapun. Mereka tak terkalahkan karena mampu beradaptasi dengan segala jenis kekuatan mutan. Sentinel memiliki DNA Mistique (mutan yang mampu beradaptasi menjadi siapapun). Mutan dan manusia dihadapkan pada kepunahan. Hingga kemudian Xavier dan teman-teman mutannya menemukan ide untuk mengirimkan kesadaran seseorang ke masa lalu. Wolverine mengajukan diri. Ia harus menemukan Xavier muda untuk mencegah DNA Mistique jatuh ke tangan proyek Sentinel.
X-Men: Days of Future Past (2014) Poster
Xavier muda dan tua
Daya tarik film X-Men kali ini adalah Jennifer Lawrence yang memainkan Mistique. I must say premisnya cukup klise. Seseorang yang merubah masa lalu untuk masa depan yang lebih baik. Yang membuat film ini menarik adalah para mutan yang terlibat. Dan saya sangat sedih melihat Halle Berry dan Wolverine menua. Saya sedih pada artis kece yang menua. Manusia memang tidak bisa melawan waktu. ß gagal fokus.

Sunday, June 22, 2014

REVIEW FILM: OCULUS (2014)

Dua bersaudara Kaylie dan Tim, akhirnya bertemu setelah Tim keluar dari rehabilitasi kejiwaan karena dituduh membunuh ayah mereka. Yang tidak orang-orang ketahui dari tragedy masa kecil mereka adalah bahwa makhluk supranatural turut andil dalam kematian kedua orang tua mereka.

Kaylie melacak keberadaan cermin penyebab tragedi masa kanak-kanak mereka. Kaylie sudah merancang sebuah pembuktian mengenai cermin tersebut. Memaksa Tim yang telah dicuci otak untuk kembali mempercayai ingatannya. Dalam malam pembuktian, kedua bersaudara tersebut mengalami halusinasi-halusinasi yang mempengaruhi hidup mereka di masa lalu dan juga di masa depan.

banner-nya kece badai


Film Oculus punya banner yang sangat kece. Seorang gadis yang melangkah keluar dari cermin. Film ini juga punya premis yang sangat menarik. Namun ternyata lebih condong ke film drama dengan sedikit horor ketimbang film horor. Tidak ada adegan seram dan mengagetkan. Hm, atau emang karena saya yang ga gampang takut ya? Entahlah. Ceritanya bagus. Tapi efek horornya ga dapet, suaranya kurang dramatis, scene-nya juga. Padahal cerita sudah bagus. Di akhir cerita, saya ga mendapat pesan apapun. Saya ga paham apa gunanya menonton film ini. Rasanya, the heck, ini ngapain ibunya manggil-manggil anaknya ke arah cermin coba? #bengong. Berharap banget ada versi remake yang mengemas film ini karena kisahnya sangat berpotensi.

Wednesday, June 18, 2014

DISINDIR DI MEDIA SOSIAL?

Lagi asik-asik ngobrol ini itu, tiba-tiba nemu status yang nyindir tindakan kita. Pasti pernah mengalaminya kan? Saya sering. Lagi promo novel yang baru liris di twitter, tiba-tiba ada yang nge-tweet yang isinya bilang: nerbitin novel di penerbit mayor itu terlalu gampang, jadi kualitas terbitannya pun ecek-ecek. Mendingan self publisher karena pendapatannya bisa berpuluh juta.

Dia online di jam yang sama dengan saya. Dia menulis tweet di waktu yang sama dengan saya promo novel.

Tindakan saya?

Diam aja. Ngapain diurusin? Dia menulis tweet itu dengan maksud saya tersinggung. Dan saya tidak mau merasa tersinggung. Tersinggung hanya untuk orang yang berjiwa lemah.  Saya tahu benar bahwa menerbitkan indie penghasilannya tidak sebanyak yang ia ucapkan. Karena saya juga pernah berurusan dengan penerbit indie.

Lalu, saya lagi ngadain giveaway. Tiba-tiba ada status facebook menyatakan: bikin giveaway sih asik, tapi kalau syaratnya sesulit itu, apa cukup berharga?

Tindakan saya?

Cuekin aja. Namanya juga giveaway buat seru-seruan. Ngapain tersinggung? Kalau dia ga suka ya ga usah ikut. Ga ada yang maksa.

Kasus terbaru, di salah satu media sosial, ada teman penulis promo novelnya dengan mengetag banyak orang sekaligus. Lalu ada salah satu teman penulis lainnya menulis status: promo dengan menge-tag sejuta umat itu sungguh tidak elit.

Yang biasa promo buku dengan mengetag sejuta umat, tersinggung, dia menulis status dengan menjawab sindiran tersebut dengan menge-tag orang-orang. Dia bilang betapa pentingnya promo bagi sebuah buku. Dikomen oleh sejuta umat dan disaksikan pula oleh sejuta umat.

Kemudian saya miris melihat fenomena tersebut. Pertengkaran kecil seperti itu kan sebenarnya bisa dihindari. Dengan cara saya, cuekin. Kalau ada tag yang saya ga suka, tinggal di-remove.

Sindir menyindir no mention itu bagi saya tindakan yang kekanak-kanakan dan pengecut. Namun kita memang tidak bisa memaksakan kedewasaan orang lain. Jika tingkat kedewasaannya masih sebatas itu, yam au bagaimana lagi? Yang lebih dewasa ngalah.


Bukan berarti saya sudah cukup dewasa dalam berpikir. Kadang saya juga masih melakukan kesalahan. Oleh karena itu, saya menulis post ini sebagai pengingat. MUDAH TERSINGGUNG HANYA UNTUK ORANG BERMENTAL LEMAH. #ngomongKeDiriSendiri

Monday, June 16, 2014

REVIEW FILM: THE PHILOSOPHERS (AFTER THE DARK)

Dalam ujian akhir kelas Filosofi di Sekolah Internasional Jakarta, mereka mendapat ujian filosofi. Dua puluh orang di dalam kelas, dengan kualifikasi masing-masing. Hanya ada satu bungker yang bisa menampung sepuluh orang saja. Mereka harus memilih 10 orang yang layak menjadi pembangun peradaban pasca kiamat. Mereka tidak boleh memilih orang yang salah.


Jadi film The Philosophers ini (sepertinya) terinsiprasi dari soal psikotes tes ujian masuk kerja. Ada sekian orang, dengan kualifikasi tertentu. Dalam bungker hanya bisa menampung orang terbatas. Mana yang harus diselamatkan untuk membangun umat manusia pasca kiamat? Mana yang harus dibiarkan mati? Saya sering mendapat soal psikotes demikian. Di film ini hanya didramatisasi saja kok.  #kemudianTerkenangMasaJobseekerYangNyesek 

Film The Philosopher ini sebenarnya memiliki premis yang menarik. Hanya saja menurut saya kurang dicetarkan. Bagus, tapi nggak buagus banget. Agak kecewa ketika sadar, at the end of the day, ini bukan masalah jenius dan tidak jenius. Karena orang paling jenius sekalipun bisa saja "kalah". Film seheboh yang ga heboh ini (kalau kalian sudah nonton, kalian akan paham kenapa saya bilang begitu) ini berangkat dari nafsu paling primitif manusia: cinta.

Film ini tidak sefilosis yang saya bayangkan. Tapi lumayan buat mind blowing. Dan tempat-tempat wisata Indonesia kurang dieksplor, sayang, padahal saya pikir bakal dieksplor abis. Ternyata lebih banyak seting bungkernya.  Pedih om ngapain syuting di Indonesia kalau cuma nyomot seting Prambanan dan Bromo? Berasa seting tempelan.


Oh ya ketinggalan, mengenai penampilan Cinca Lola di film The Philosopher (yang ganti judul AFTER THE DARK di internasional). Hm, dialognya Cinca ga banyak, aktingnya juga masih sama. Pas di film dandanan Cinca agak tebal. Entah karena tuntutan peran atau cuma terlalu semangat. Di antara artis-artis muda yang menonjolkan make up natural, Cinca jadi terlihat berlebihan. Untuk film debut internasional pertama, Cinca lumayan banyak di-shoot. Walau, kehadirannya memang belum memberikan sesuatu yang lingering. Saya mau lihat aksi Cinca di Resident Evil. Katanya Cinca main jadi anak presiden. Cus! 

OH YA GIVEAWAY NOVEL X: KENANGAN YANG BERPULANG ada di widget sebelah. Klik saja :)  >>>

Sunday, June 15, 2014

NOVEL DAN PROSES PENDEWASAAN

Hai hai apa kabar…
Beberapa hari terakhir ini saya sibuk posting di blog fiksi satunya. Saya merevisi draft novel saya tiga tahun yang lalu, berjudul Lonceng Angin. Genrenya: drama, family, dark, school life, romance. Novel yang saya tulis tiga tahun yang lalu ini saya pikir adalah masterpiece saya. Ternyata, ketika membaca ulang, banyak yang direvisi.

Saya jadi terhenyak. Mungkin suatu saat tulisan yang saya anggap masterpiece saat ini, yakni X: Kenangan yang Berpulang, akan menjadi banyak cela di masa depan. Saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh berhenti menulis. Saya harus menulis dan menulis. Saya nggak boleh stuck hanya karena merasa tulisan saya saat ini adalah tulisan terbaik saya.

Di masa depan, saya harus membuat tulisan-tulisan yang lebih baik. Seperti itu. Sepertinya benar kata mak Anin, bahwa saya tumbuh bersama tulisan-tulisan saya. Ya, benar, tulisan-tulisan saya mencerminkan kedewasaan saya saat menuliskannya.

Hal yang paling keren dari menulis fiksi adalah kadang kedewasaan itu barulah tumbuh ketika menulis. Pemikiran-pemikiran yang sebelumnya tidak terpikirkan, justru datang. Kadang novel saya bisa menjadi lebih dewasa dari saya. Kadang justru proses penulisan fiksilah yang mengajari saya menjadi lebih dewasa.

Seperti itu…

Ya, sudahlah, naskah Lonceng Angin sudah beres direvisi dan dibuatkan synopsis global. Saya akan mengirimkannya ke penerbit. Semoga mendapat kabar baik.


JANGAN LUPA IKUTAN GIVEAWAY NOVEL X: KENANGAN YANG BERPULANG. Hanya perlu klik widget di sidebar kanan :D

Tuesday, June 3, 2014

ANOTHER GIVEAWAY: X (KENANGAN YANG BERPULANG) ON GOODREADS

Hai hai, saya ngadain giveaway di Goodreads, hayo ramaikan.
Cuma perlu isi alamat doang. Di akhir periode, sistem goodreads akan memilih sendiri siapa pemenangnya, mengirimi alamat pemenang dan saya kirimkan eksemplar bertandatangan saya. :)
WIDGET GIVEAWAY ada di sebelah ---->>>

mamak Anin yang mengirim foto ini. Makacih, Mamak.
On Gramedia, Mall of Indonesia, Jakarta
X (kenangan yang berpulang) on bestseller novel

Salam,

Follower