TENTANG SI CHIMER

Saturday, May 31, 2014

ALL OF ME: SEGALAKU

Apa yang akan kulakukan tanpa mulut pintarmu?
Menenggelamkanku, dan kau mendepakku.
Kamu membuat kepalaku berputar, sungguh, aku tak bisa melupakanmu.
Apa yang terjadi pada pikiran indah itu?
Aku adalah kendaran magis misteriusmu.
Dan aku begitu pening, entah apa yang menghantamkanku, tapi aku akan baik-baik saja.

Kepalaku tenggelam dalam air namun aku bisa bernapas dengan baik.
Kamu gila dan aku kehilangan kewarasanku.

Karena segalaku mencintai segalamu.
Mencintai lekuk tubuh dan sosokmu.
Segala ketidaksempurnaanmu yang sempurna.
Berikan segalamu padaku, kan kuberi segalaku padamu.
Kamu adalah akhir dan mulaku.
Bahkan ketika aku kalah aku menang.
Karena aku memberimu segalaku.
Dan kamu memberiku segalamu.

Harus berapa kali aku harus mengatakannya?
Bahkan ketika kamu menangis kamu juga cantik.
Dunia menghajarmu, aku selalu ada di setiap kondisi.
Kamu adalah kelemahanku, kamu adalah pujaanku.
Distraksi terburukku, nada dan kesedihanku.
Aku tak bisa berhenti bernyanyi, terus berbunyi, dalam kepalaku untukmu.

Beri aku segalamu.
Kartu-kartu di atas meja, kita sama-sama menunjukkan hati.
Meresikokan segalanya, meski sulit.

(All of Me by John Legend - ditranslasikan ke dalam bahasa Indonesia oleh Annesya)
***
Lagu All of Me adalah lagu yang easy listening. Lagu ini lagi happening diputer di mana-mana, di mall, di kafe, di tempat-tempat umum. Yang menjadi ciri khas adalah suara John Legend yang berat. Happy listening, guys :)

 [Verse 1:]
What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright

[Pre-Chorus:]
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

[Chorus:]
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

[Verse 2:]
How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, in my head for you

[Pre-Chorus:]
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

[Chorus:]
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

[Bridge:]
Give me all of you
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard

[Chorus:]
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you

I give you all of me
And you give me all of you, oh

Thursday, May 29, 2014

KEINGINAN YANG BERMETAMORFOSA

Jujur sampai sekarang, kalau aku mah, selama di-ACC, dapat revisi juga nggak apa-apa. Tapi apa daya, jawaban yang selama ini ada itu hanya duaa: diterima atau ditolak. Dan lebih serignya ditolak sih. -_- Kalau aku jadi kamu sih, maaf lho yah, nggak apa-apa deh dapat revisi, walau harus mengubah esensi ceritanya. Coz... aku udah nunggu lama banget buat bisa nerbitin novel. Hahaha... Seriusan nih. :D

Dalam posting saya sebelumnya, Immanuel komentar seperti di atas. Komentar itu menggelitik masa lalu saya. Dulu saya juga punya pemikiran sama seperti Nuel tapi lucunya sekarang sudah bertubah. Di sini saya mau sharing sekaligus menjadi catatan pribadi.

Jadi begini, pada awalnya, saya juga tidak seperti ini. Dulu saya akan melakukan apa saja agar naskah terbit. Sekarang tidak lagi sama. Dulu saya menulis untuk mendapat uang. Sekarang, saya punya pekerjaan yang bisa menghidupi saya. Uang menjadi prioritas yang tidak lebih tinggi dari idealisme. Keinginan saya pun berubah. Saya tidak lagi mengirim naskah ke penerbit sembarangan.

Saya mulai mengumpulkan informasi penerbit mana yang memperlakukan naskah secara baik, membayar royalty tepat waktu, publikasi yang baik, dan display buku di toko buku. Saya mulai memperhitungkan itu semua, karena keinginan saya saat ini masih dalam tahap mencari pasar, menciptakan orang-orang yang akan memburu karya-karya saya.

Kemudian, saya memburu kepuasan batin. Di kehidupan sehari-hari saya berangkat kerja jam tujuh pagi pulang jam tujuh malam. Ketika pulang, saya melepas topeng saya, dan menjadi diri sendiri. Duduk di depan laptop dan menuangkan pikiran. Saya hanya menerima revisi yang tidak mengubah esensi cerita. Adalah hak penulis untuk mempertahankan idealismenya dan menerima resiko dari idealismenya tersebut. 

Dalam kasus saya, saya menarik naskah meski saya sebenarnya kesulitan “menjual” naskah tersebut. Saya yakin akan ada yang menerima naskah saya tanpa mengubah esensinya. Saya mengambil resiko itu. Saya tarik naskah, saya revisi sendiri, lalu saya kirimkan ke penerbit yang tak kalah bagusnya (atau lebih bagus dari penerbit sebelumnya). Menulis butuh keyakinan yang besar pada diri sendiri, menurut saya.

Bagaimana mungkin kepuasan batin saya terpenuhi kalau saya bahkan tidak bisa mengenali naskah saya sendiri? Kalau saya mengikuti keinginan penerbit begitu saja, ternyata buku saya gagal di pasaran, saya akan sangat menyesal. Tapi kalau saya tetap menjaga idealisme saya, ketika buku itu gagal di pasaran, saya tidak akan menyesal sedikitpun.

from we heart it
Saat ini keinginan saya masih sampai pada tahap tersebut. Seiring berjalannya waktu, keinginan saya juga pasti akan bermetamorfosa lagi. Saya rasa itu manusiawi. Keinginan yang terus tumbuh ketika keinginan-keinginan sebelumnya sudah terpenuhi. Keinginan-keinginan yang menuntut kerja keras dan ketekunan. Jadi, Nuel, sesederhana ini jawaban saya, keinginan saya bermetamorfosa. :)

Monday, May 26, 2014

ATRAN IN THE NEW PHASE AS "ELIPSIS"

Blurb...

Eeuwige liefde is liefde die niet meer terugkomt.
Cinta yang abadi adalah yang tak kembali.

Berpisah darimu bagaikan sebuah elipsis. Jeda yang tak terisi oleh kata-kata. Ketika kamu jauh aku menemukan bahwa di antara kita ada ikatan kasat mata, kata-kata yang tak terucap, rasa yang tak terungkap. Memori yang menguat seiring besarnya jurang pemisah.

Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang kau akan kembali. Kau mengatakan semua itu. Namun selalu ada ruang untuk meragu. Selalu ada elipsis yang kemudian diisi oleh rasa kehilangan, selalu ada jeda bagi hati yang kosong…


… ketika kamu jauh.
***
Atran pernah saya publish di blog ini. Ini adalah naskah yang saya tulis tiga tahun yang lalu. Atran adalah naskah saya yang paling banyak mengalami penolakan dari penerbit. Sederhana, karena naskah ini unik. Unik dalam artiannya berani mengungkapkan hal-hal yang tidak biasa. Atran mengalami banyak sekali revisi, dengan atau tanpa penerbit.

Atran bahkan pernah mendapat ACC dari sebuah penerbit mayor namun (karena penerbit meminta revisi yang mengubah esensi cerita) saya menarik naskah ini dari penerbit tersebut. Kisah penarikan naskah itu saya tuliskan di sini: http://whentheheartchimes.blogspot.com/2014/03/ini-mungkin-bukan-kabar-yang-baik.html. Ketika menarik naskah ini, saya benar-benar berpikir panjang. Apakah saya begitu ingin naskah ini diterbitkan? Ya, tentu. Namun kalau begitu, saya harus rela Atran menjadi naskah yang tidak saya kenali.

Kemudian saya kembali pada tujuan saya menulis. Saya memang sangat ingin tulisan-tulisan saya dipublikasikan. Bukan masalah royalti yang utama. Kenapa saya menuliskan kisah Atran adalah bagian dari memoar saya, perjalanan hidup saya, salah satu cara Tuhan menjaga saya tetap waras meski semua orang menganggap saya gila. Saya tidak mau Atran berubah menjadi naskah yang "bukan saya". Tujuan saya menulis adalah karena dengan menulis, saya menjadi diri saya sendiri. Saya ingin menuliskan apa yang selama ini tidak tertuliskan. Saya ingin, di suatu tempat, ada seseorang yang terselamatkan karena kisah ini. Saya ingin, seseorang di luar sana, merasa tidak sendirian. Jadi, saya berani menarik naskah ini. Saya tidak mau kehilangan esensi saya dalam menulis.

Kemudian setelah penolakan itu, saya kirimkan Atran ke penerbit mayor lain, mengubah judulnya menjadi ELIPSIS. Tiga bulan masa penilaian dan kini mendapat ACC. Atran dalam fase barunya sebagai #Elipsis kini memasuki tahap revisi dari sebuah penerbit. Semoga tidak berakhir tragedi seperti sebelumnya.

Thursday, May 22, 2014

CLARITY: KEWARASAN


Menyelam dalam gelombang beku di mana masa lalu kembali hadir.
Melawan rasa takut demi rasa sakit yang egois, adalah hal yang layak untuk dilakukan.
Bertahan sejenak sebelum bertabrakan sebab kita berdua tahu bagaimana ini akan berakhir.
Jam berdetak hingga gelas pecah dan aku kembali tenggelam padamu.

Karena kamu adalah bagian dariku, 
kuharap aku tak perlu lagi mengejar tanpa henti, 
terus berjuang dan tidak tahu alasannya.

Jika cinta kita adalah sebuah tragedi, mengapa kamu adalah obatku?
Jika cinta kita adalah sebuah kegilaan, mengapa kamulah kewarasanku?

Berjalan dalam parade merah dan menolak menebus kesalahan.
Memotong dalam ke tanah dan membuat kita melupakan semua akal sehat.
Jangan bicara ketika aku mencoba pergi sebab kita berdua tahu apa yang akan kita pilih.
Jika kamu menarik maka aku akan mendorong terlalu dalam dan aku akan kembali jatuh kepadamu.

Jika cinta kita adalah sebuah tragedi, mengapa kamu adalah obatku?
Jika cinta kita adalah sebuah kegilaan, mengapa kamulah kewarasanku?
(CLARITY sung by ZEDD ft Foxes, translated into Indonesia by Annesya)


***
Tengtong, tengtong, yang bikin saya jatuh cinta sama lagu adalah musik dan liriknya. Saya adalah penikmat kata. Jadi, ya, kalau ada lagu barat enak dan liriknya bagus, saya translasikan ke Indonesia. Temen bilang saya bagus kalau mentranslasikan lagu bule ke Indonesia. Ya sudah, saya juga suka kok mentranslasikan lagu-lagu. Selamat menikmati lagunya yang ber-beat cepat. Ajeb ajeb...


ORIGINAL LYRIC OF CLARITY- ZEDD FT FOXES

High dive into frozen waves where the past comes back to life
Fight fear for the selfish pain, it was worth it every time
Hold still right before we crash 'cause we both know how this ends
A clock ticks 'til it breaks your glass and I drown in you again

'Cause you are the piece of me I wish I didn't need
Chasing relentlessly, still fight and I don't know why

If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?

(Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey)

If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?

Walk on through a red parade and refuse to make amends
It cuts deep through our ground and makes us forget all common sense
Don't speak as I try to leave 'cause we both know what we'll choose
If you pull then I'll push too deep and I'll fall right back to you

'Cause you are the piece of me I wish I didn't need
Chasing relentlessly, still fight and I don't know why

If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?

(Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey)

Why are you my clarity?
Why are you my remedy?
Why are you my clarity?
Why are you my remedy?

If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?

ANNESYA

Wednesday, May 21, 2014

PULANG: MUARA RASA dalam Gramediana Writing Competition 2014

Blurbs...
Genre: fiksi, romance, drama keluarga, young-adult (55 halaman) 
Tiga sahabat berkumpul kembali ketika liburan semester dimulai. Val berkuliah di Surabaya, Flo berkuliah di Yogja, dan Febi berkuliah di Jakarta. Flo dan Febi pulang ke Surabaya untuk berkumpul dan mencari tahu muara rasa masing-masing.Flo diam-diam mencintai Val. Febi diam-diam mencintai Flo. Sementara Val mencintai Karen. Mereka bersahabat dari kecil dan kini mereka sudah cukup dewasa untuk dapat mengartikan perasaan yang bersembunyi di balik kata “sahabat”.Ketiga sahabat itu pernah mengalami kehilangan. Kehilangan yang membuat mereka goyah untuk menjalani hidup. Ketika Febi memutuskan untuk menyampaikan perasaan mereka, ketiga sahabat itu dihadapkan kembali pada kehilangan lainnya.
Namun setiap rasa pada akhirnya membutuhkan muara. Akhir dari perjalanan panjang. Akhir dari segala rasa sakit.

Sekitar bulan lalu, diadakan kompetisi menulis novelette (novel pendek) oleh lini penerbitan e-book Gramedia Group, Gramediana. Bertepatan dengan itu, saya sedang menulis novel pendek berjudul PULANG (Muara Rasa) dengan tokoh tiga sahabat bernama Vivaldi, Flora, dan Febi. “Pulang” menceritakan tentang perjalanan pulang tiga sahabat ini. Arti rumah bagi ketiganya.

Vivaldi kehilangan adik perempuannya karena kanker. Flora sedari kecil lahir di keluarga yang tidak lengkap. Febi mengalami tragedi yang mana saudara kembarnya bunuh diri. Tiga sahabat ini diam-diam saling bersinggah hati. Jatuh cinta dalam diam. Mereka pikir selama bersama, semua akan baik-baik saja. Namun tidak bisa selamanya mereka berpura-pura semua baik-baik saja.

PULANG: MUARA RASA adalah novelette yang saya publish dalam blog privat yang berisi kumpulan fiksi-fiksi saya. Beberapa dari chimer mungkin sempat membacanya. Sebagian besar mungkin belum. Kebetulan novelette itu selesai sebelum deadline Gramediana Writing Competition, jadi ya sudah saya ikutkan “Pulang” ke kompetisi tersebut.

Jadi kemarin adalah hari pengumuman Gramediana Writing Competition. Saya dapat email dari Gramediana. Enggak sih. “Pulang” ga menang juara 1, 2 atau pun 3. Melalui email itu saya mendapat pemberitahuan bahwa "Pulang" dilabeli sebagai juara favorit bersama beberapa novellete lain yang ga kalah kecenya.
Jadi... "PULANG: MUARA RASA" akan dipublikasikan secara online oleh Gramediana.com dan dijual dalam bentuk e-book. Get ready, guys! :)


ANNESYA

Sunday, May 18, 2014

KETIKA BUKU DITERBITKAN DAN PERTIKAIAN YANG (TIDAK) PENTING

Akhir-akhir ini banyak teman dunia maya yang bukunya diterbitkan. Teman yang dulunya membaca buku saya, kini dia punya buku sendiri. Saya yang memburu buku mereka. Saya senang dengan pergerakan ini. Sebab sebenarnya menjadi penulis itu adalah pencapaian tertinggi aktualisasi diri. Saya mau orang lain merasakan apa yang saya rasakan. Baik dan buruknya. Manis dan pahitnya. Saya percaya bahwa menulis adalah perpanjangan nyawa seseorang. Menulis adalah pekerjaan menuju keabadian, merunut kata-kata Pramoedya Ananta Toer.

Namun ketika buku diterbitkan, selalu ada resiko yang menyertainya. Itu yang akan saya bicarakan di sini. Kita akan bertemu dengan orang-orang yang kurang bijak mengomentari karya kita. Dan kita, sebagai penulis, kadang juga kurang bijak menanggapi komentar mereka. Intinya, semakin dunia melihatmu, kamu harus semakin siap menghadapi apapun. Sebagai penulis, saya juga belajar untuk menjadi bijaksana dalam menghadapi dunia. Jadi penulis butuh kedewasaan juga sebenarnya.

Mungkin beberapa chimer ada yang tidak mengerti maksud ucapan saya karena belum menjadi penulis, atau belum mengalami. Tapi nanti, ketika sudah menjadi penulis yang karyanya dipublikasikan, kalian akan tahu, bahwa tekanan-tekanan akan muncul seiring dengan terbitnya buku. Sebenarnya itu penting dan tidak penting. Penting karena kita menjadi salah satu kontributor dunia literatur, kita harus berani bersuara. Tidak penting karena debat kusir sering membawa kita pada kesia-siaan.

Saya harap buat teman-teman, keep calm and keep writing. Jangan terjebak dengan pertikaian-pertikaian yang tidak penting. Ingat, motivasi awal kalian masuk ke dunia kepenulisan. Itu yang terpenting. Jaga motivasi itu baik-baik. Jangan terbawa arus dengan pertikaian-pertikaian ga penting dunia maya.

Promo buku seperlunya. Komentar seperlunya. Diam pada saatnya. Terima kritik. Balas jika memang perlu, lalu diam pada saat yang tepat. Tinggalkan. Fokus pada tujuan utama menulis. Kalian menulis bukan untuk kemudian terjerumus dalam pertikaian yang tidak penting. Dunia kepenulisan adalah dunia sepi. Bekerja dalam sunyi. Jauhkan diri dari kebisingan. Good luck!

ANNESYA

Wednesday, May 14, 2014

CURCOL BANGUN TIDUR BACA MENTIONAN

Saya ga pinter nulis komedi.
Novel komedi memang dua sih yang terbit tapi itu nulisnya kesulitan bingit karena "not so me". Jadi kalau ada yang mention bilang novel saya #MayaMaia dan #UburUburKabur bikin ngakak, saya terharu. Ciyusan saya senang bisa bikin orang ketawa. Novel "gue banget" yang terbit cuma satu #X: Kenangan yang Berpulang. Novel tipe "gue banget" saya entah kenapa susah nembus penerbit.

ANNESYA

Tuesday, May 13, 2014

KABAR SAYA

Posisi saya sekarang di Solo. Solo adalah kota yang sangat indah, saya akui itu. Masih begitu banyak bangunan tua dan cagar budaya. Saya tipe orang yang suka bangunan tua. Saya suka berada di sini selama tiga hari ini. Walau menurut saya makanan di sini kurang cocok di lidah saya. Terlalu manis.

Kos saya yang baru dibayar kantor, cukup mewah untuk saya yang biasa ngekos anak kuliahan. Dengan televisi, AC, dan kamar mandi dalam. Yah, apalah… gaya amat gembel macam saya ngekos di kosan yang ada kamar mandi dalamnya. Biasanya juga mandi di selokan. Berangkat kantor cukup jalan kaki 10menit.

Kantor saya yang baru sepi. Ketika saya buka laci, serasa bledek datang menyambar. Jeder jeder. Semoganya semuanya berjalan baik-baik saja di kantor. Saya harap semuanya akan lebih baik. Bahasa Jawa saya di sini kurang sopan, saya lebih sering pakai bahasa Indonesia.

Nah, yang mengejutkan, di Solo ternyata ada Mall bagus. Katanya, mall di Solo lebih bagus daripada di Semarang. Eh cieh… ini kartu Starbucks bisa dipake lagi. Eh cieh bisa nonton pilem baru di XXI.

Hal baik saat ini :
1. Bangunan dan kota yang lebih bersahabat.
2. Lebih dekat dengan kakak saya. Kakak saya bisa mampir kos buat belanja di Mall.
3. Kosan kece yang dibayari kantor.
4. Mall yang ga kalah kece dari Surabaya.
5. Tukang becaknya ga sesongong di Surabaya. Masih mau dibayar 5000 buat jarak dekat.
6. Ke mana-mana dekat dari satu mall ke mall lain. Taksi ke mana-mana cuma 20rb-an.

To do list:
1. Cari laundry-an yang terpercaya.
2. Belum cuci underwear.
3. Belajar naik mobil.
4. Beli peta Solo.
5. Kerja, kerja, kerja.
6. Berserah pada Allah.


 Ini ga ada yang mau mampir-mampir ke solo nengokin saya? Hehehe... 

Follower