TENTANG SI CHIMER

Monday, March 31, 2014

SEBUAH "ALASAN"

Jadi saya telah sampai pada sebuah titik di mana saya menemukan alasan untuk mengenakan hijab. Saya yang selama ini mengelak mengenakan hijab karena ingin menemukan “jawaban” sendiri. Saya yang selama ini berkata bahwa suatu saat akan mengenakan hijab namun tidak sekarang.

Sayangnya keputusan ini mungkin sudah sedikit terlambat. Saya menemukan "alasan" ketika saya tidak bisa mengenakan hijab di kantor. Sedikit ironis memang. 

Jadi terhitung sejak kemarin saya mengenakan hijab ketika keluar. Namun ketika berangkat kantor saya melepas hijab saya. Kita anggap saja ini sebagai proses saya belajar mengenakan hijab. Kita sebut saja bahwa ini adalah ujian yang harus saya lewati untuk “naik kelas”, untuk kemudian layak menjadi “yang berhijab”. Mungkin saat ini saya belum layak menyandang predikat itu. Mungkin saja. Entahlah.


Dalam hati kecil saya, timbul ketakutan. Saya takut dengan kondisi saya yang “memakai-melepas hijab” karena alasan pekerjaan. Saya takut kehilangan momentum untuk naik kelas di hadapan Allah SWT. Saya harap kesempitan saat ini akan membawa saya pada kelapangan di masa depan untuk mengenakan hijab seutuhnya. 

Amin.

ANNESYA 

Saturday, March 29, 2014

THE RAID 2: BERANDAL

Habis nonton The Raid 2: Berandal sama dua bebeb-friends, alias dua temen: Anggik dan Sonny. Diputernya jam setengah sepuluh. Malam banget. Tapi gimana lagi jadwal puter The Raid-nya yang ga nabrak jam kantor ya jam segitu.

The Raid adalah sebuah kepercayaan bahwa Indonesia bisa bikin film berkualitas tanpa harus mempertontonkan hantu dan roman picisan. Pertama kali The Raid keluar, saya underestimate, tapi setelah nonton (di laptop -__-“), saya cuma bisa bilang: Wow! Amazing, I gotta watch this sequel!!! No matter what!

Jadi pas The Raid 2 nongol, saya langsung nonton di bioskop sebagai salah satu bentuk apresiasi atas karya yang dibuat dengan baik. The Raid 2 menceritakan Rama yang kehilangan kakak dan identitasnya karena aksinya di The Raid yang pertama. Untuk itu ia menyamar sebagai Yoga untuk mendekati Uco (anak mafia besar di Jakarta, Bangun). Tujuannya adalah untuk memberantas otak di balik mafia-mafia tersebut dan membalas dendam pada pembunuh kakaknya, Bejo,

Oke, apa yang membuat The Raid berbeda adalah tempo. Sutradaranya pintar memainkan tempo kapan ketegangan ditingkatkan kapan harus diturunkan sehingga menciptakan efek thrilling yang oke. Memang dalam urusan plot, The Raid masih banyak lubang. Entah itu, aneh bro, kok ini mafia ga ada yang bawa pistol dan ngeliatin aja Iko Wais mukul-mukul. Tembak jeder, kan, beres, bro! Tapi kemudian otak saya bicara: bro, kalau langsung jeder mana seru? Mana ada ceritanya. Oh iya… ya udah lah nonton ga usah mikir. Terus bro, jalanan Jakarta kok bisa sepi gini ya, bro, dipake kebut-kebutan lucu. Mana jalanan Jakarta tuh sempiiit yang dipake balapan, hahaha (nonton sambil ketawa #gagalfokus).

Ada lagi lubang yang paling kentara, ada adegan turun salju. Salju, bro! Salju! Sementara di latar belakang ada warung makanan bertuliskan: Lomie Ayam, aneka masakan. Brooo!!! Ini di Indonesia? Jakarta hujan salju!!! Syalalala… #gagalFokus

Oh ya setting tempat penjara dan lain-lain masih kurang original. Setting penjara mirip penjara Prison Break (baik itu penjara, toilet, ruang menerima tamu, sampai ruang makan), dan lain sisanya, mirip setting video games. Tapi ini bukan masalah yang berarti sih. Sebab saya menghargai proses imitasi sebagai metamorfosa menemukan ciri khas diri.

Saya suka dengan selipan mafia Jepang di sini. Mereka memberi warna tersendiri. Saya suka sama bos mafia Jepangnya, aktingnya bagus. Cuma pas dia bilang “semua bisa diatur” aneh, kelihatan lucu, malah bikin ngakak, bukannya ngeri. Anaknya terlalu unyu buat jadi mafia, mending dia bikin boyband #gagalFokusLagi.

terlalu unyu buat jadi mafia

Saya juga suka dengan tokoh mas baseball (kesiniin bolanya! Jdies!) dan mbak Palu alias Jullie Estelle. Tapi somehow, saya merasa Jullie masih bisa digas pol di sini, karena kemunculannya masih memunculkan kesan “film drama”, gerakannya kurang mantap. Tapi yang jelas, pas Jullie mati, cowok sebioskop melenguh: yah, sayang, barang bagus #merekaGagalFokus. Kemunculan Marsha Timothy malah memunculkan kesan comedy romance. Ah embuhlah, sak karepmu…

mbak Jullie bikin ga fokus, antara lihat aksinya sama mau ngintip dalemannya. Dia beraksi pakai rok soalnya. Mana bening pisan -___- 

Setting tempat balapan dan komputerannya kurang halus.

Arifin Putranya ganteng. Sebagai salah satu tokoh sentral, karakter yang ia mainkan sebagai Uco adalah karakter yang sangat menarik. Anak mafia yang haus akan pengakuan dan pencapaian. Sedikit sinting. Walau sudah dimainkan dengan baik oleh Arifin Putra, saya merasa masih kurang. Dalam banyak adegan, saya berharap Arifin melakukan like bang! Atau sesuatu yang membangkitkan geliat emosi. Uco adalah tokoh yang sangat emosional. I wish he could do more than this.

Berbeda dari karakter Uco yang sangat menarik namun kurang menancap di hati, karakter Bejo malah menangkap perhatian saya. Dengan kaos tangan hitam dan tongkat. Olah suaranya juga bagus. Dia muncul di awal dalam adegan pembuka and yes, he captivates me until the end.

i looooovveeee Bejo 

Terlepas dari plot hole dan kekurangan, The Raid 2: Berandal membuat saya menjerit, tertawa, dan pingin muntah. Temponya oke. Aksinya keren. Dan, ya, saya memuji humor di sini. Humor yang menyatukan dunia mafia dengan dunia keseharian kita. Setelah nonton The Raid saya pengen jualan kaca buat dijual ke mafia-mafia itu. Pasti mereka butuh banget renovasi kan yah. Oh ya, di film The Raid 2 saya menemukan tokoh-tokoh baru yang menarik, yang sebenarnya berpotensi untuk digali kisah hidupnya menjadi sebuah film sendiri.

dua tokoh yang berpotensi dibikinin film sendiri: mas baseball dan mbak palu.

Saya mempersiapkan diri untuk The Raid 3. Semoga mereka lekas membuat sekuel yang sama kerennya atau… lebih keren lagi!!! Setiap orang punya batasannya… ehcie… kebayang-bayang quote itu saya #nyemplungTambaknyaBangun (isi batu yang banyak!)


ini adalah scene yang paling breath-taking! Begitu scene ini berakhir, seluruh gedung bioskop bertepuk tangan. Dan saya baru ingat, kalau saya lupa ga ngambil napas. 

Selamat menonton teman temin,
ANNESYA



Sunday, March 23, 2014

ALI SHAW: The Girl with Glass Feet (Gadis dengan Kaki dari Kaca)

6063110



Banyak hal aneh terjadi di Kepulauan St. Hauda. Binatang-binatang putih yang sebenarnya tidak albino, burung-burung yang bisu, dan lanskap rawa-rawa yang selalu tertutup salju. Di sini Ida bertemu dengan dengan Midas dan jatuh cinta. Di kepulauan ini Ida mencari kesembuhan atas tubuhnya yang bermetamorfosis dengan aneh, tubuh Ida perlahan-lahan berubah menjadi kaca, dimulai dari kakinya.

 ***

I love this book. I love everything about it, the title, the story, the plot, the hero and heroine, how they interact in an awkward way, everything. I can read the way Shaw is thinking about the world through this story. It is very detailed and hopeless romantic. It is also very unique written. He wrote the story that anyone would never ever trying to write.

What I love the most about this book is the philosophy I capture. That anything strange might happen in this world and we don’t need to know the reason why. Some bad things also sometimes just need to be accepted rather than to fight. We name it “fate”. I think not many people understand this. Yes, that is because Shaw wrote the unwritten. Or may be this is just my personal favorite literature? I have no idea. I just love it.

At the ending, I do not cry, I just, you know, feeling uneasy. Kind of feeling sad mixed with happiness for Ida-Midas that they made it until it ends. At least they did a right thing, took the last chance to love each other.
    
Shaw wrote this story beautifully yet creepy. I love his work. I love it. I do not count how many “love” I typed in this review. I feel like I need to find The Man Who Rained also. Due to I read Indonesian edition, thanks to Tanti Lesmana, the translator, who was doing a great job. She translated this story as beautiful as the original edition.

And I am also looking forward for his third novel. Good luck, Shaw! Shit, I really love it! 


ANNESYA

Saturday, March 22, 2014

ANGIN KOSONG

Setelah sekian lama, akhirnya kita berada di sini, duduk berhadapan dengan sepiring iga bakar yang sudah habis. Bagaimana aku bisa memulai semua ini? Bagaimana aku bisa berpura-pura tidak tahu ketika aku berulang kali menangkap matamu yang menatapku dengan memuja? Aku merasa jadi brengsek.

“Jadi… gimana soal kemarin?” aku memulai.

Kamu tampak tercekat. “Ya, itu jelekku. Aku gampang marah.”

“Apa ada yang kurang jelas… soal yang kusampaikan kemarin?”

“Ya, dari awal aku sudah tahu kita ga mungkin akan ke mana-mana. Aku cuma suka jalan sama kamu.”

Dari sisiku, aku cuma tidak mau terlalu melukaimu. Walau pada akhirnya aku tetap saja melakukannya. Aku, si brengsek yang setiap kata yang kuucapkan hanya akan terdengar brengsek. Setiap kata yang kukeluarkan hanya akan jadi angin kosong yang tidak berarti.

“Bagiku, kamu spesial. Cowok yang mendapatkanmu sangat beruntung.”

“Haha, sekarang aja kamu bilang gitu! Ntar begitu ketemu jelekku juga ga bakal bilang gitu!” aku berusaha melucu.

”Nah itu, aku belum nemu jelekmu.”

“Jelekku banyak! Cuma kamu aja yang tutup mata.” Aku masih berusaha tertawa, tawa memaksakan sebenarnya.

“Seharusnya kamu jahat sama aku. Biar seperti orang jatuh, sekalian aja diinjak terus didorong masuk jurang.”

Aku menelan ludah dan menatapnya sungguh-sungguh. “Kamu mau aku seperti itu? Kalau kamu benar mau, aku ga apa-apa.” Ujarku. Sebenarnya aku ingin berusaha meringankan rasa sakitmu dan juga rasa bersalahku. Aku akan melakukan apapun.

Kamu menggeleng. “Kita berteman saja.”

Kamu dengan gugup memotong-motong timunmu. Aku dengan gugup mengaduk-aduk es campurku. Kamu tidak tahu betapa merasa brengseknya aku. Dan aku mungkin tidak akan pernah tahu betapa terlukanya kamu. Kita sama-sama tidak tahu. Atau mungkin, kita hanya sepakat tanpa suara, untuk pura-pura tidak tahu.

“Aku berusaha mengalihkan padanganku tapi setiap hari aku ketemu kamu dan melihat kamu. Sialnya, setiap hari kamu semakin terlihat…,” kata-katamu menggantung.

“Apa kita sebaiknya ga usah bicara?” potongku. Aku tidak ingin mendengar lanjutan dari kata-katamu. Aku terlalu egois.

Kamu lagi-lagi menggeleng. “Kita berteman saja.” Kamu menghela nafas. “Menyukai bukan berarti memiliki kan?”

Itu kata-kata basi sebenarnya, tapi, entahlah, aku yang biasanya tidak mempercayai itu tiba-tiba mempercayainya. Kita beranjak pergi dengan perjanjian itu. Kita berteman saja. Berteman. Sebagai teman yang baik kamu mengantarku pulang. Sekali lagi, sebagai teman. Digarisbawahi dan dipertebal.

Kamu memastikan aku sampai masuk ke balik pagar. Aku sekali lagi harus berakting pura-pura tidak tahu, harus berakting dingin, dan tidak terlalu bersikap manis padamu. Akting yang kuharap membuatmu tidak terlalu terluka. Aku benci berada dalam posisi ini. Aku benci berada dalam posisi yang harus menyakiti orang sebaik kamu.

Aku sebenarnya ingin bilang terima kasih. Terima kasih karena repot-repot menyukaiku yang aneh ini. Terima kasih karena sudah menyukaiku dengan cara yang begitu baik dan begitu berbeda. Terima kasih karena sudah mau terluka karena menyukaiku. Terima kasih.

Namun, ucapan terima kasih ini hanya akan menjadi angin kosong kan? Tidak berarti dan tidak akan mengubah apapun. Jadi aku memilih menelannya di pangkal kerongkongan.


ANNESYA

Thursday, March 13, 2014

SEPULUH TAHUN YANG LALU, JUGA HUJAN

Akhir-akhir ini setiap jam pulang kantor, hujan turun dengan derasnya. Sambil berjalan sendirian di trotoar, saya menggenggam payung, dan memori saya berputar ke kejadian 2004 silam, sepuluh tahun yang lalu. Kejadian yang butuh waktu delapan tahun lamanya untuk menyembuhkan trauma yang saya alami akibat kejadian itu. Saya benci berada di luar dan sendirian ketika hujan deras turun. Saya sangat membencinya.

Saat itu, sepuluh tahun yang lalu, hujan turun sangat deras dan saya sendirian. Saat itu saya berteriak sangat kencang meminta pertolongan tapi tidak ada yang datang. Saya berusaha memanggil mobil yang lewat, namun mereka berlalu. Suara saya mungkin teredam petir dan derasnya hujan yang menampar jalanan. Saya tidak tahu. Entah karena mereka tidak mendengar atau tidak peduli. Saya tidak tahu. Saya tidak mau tahu. Segalanya sudah tidak penting lagi.

Sepuluh tahun yang lalu, saya menangisi kejadian itu. Saat itu saya tahu bahwa manusia bisa menjadi demikian tidak berhati nurani. Saat itu saya tahu bahwa dunia di luar sana begitu kejam. Saat itu usia saya empat belas tahun. Walau saya tidak mengalami kehilangan yang berarti, sesuatu dalam diri saya berubah. Ketakutan yang menghantui saya bertahun-tahun lamanya. Mungkin hingga saat ini saya belum mampu mengatasinya. Mungkin saat ini saya hanya sekedar berpura-pura berani. Mungkin. Entahlah.


Ini adalah kisah yang tidak bisa saya bagikan kepada banyak orang. Namun ini adalah kisah yang perlu saya sampaikan pada banyak orang. Selalu ada alasan kenapa Tuhan menyelamatkan saya dari kejadian itu. Selalu ada alasan kenapa Tuhan masih mempertahankan saya di dunia ini. Saya akan mencari alasan itu. Saya hidup demi mencari alasan itu.

ANNESYA

Tuesday, March 11, 2014

MAHA (GA) PENTING

Saya dan teman saya pergi ke Indomar*t berniat membeli kapas wajah. Orang-orang ramai berlalu lalang keluar masuk minimarket. Ketika saya hendak mengantongi kunci yang saya bawa ke celana olahraga yang saya kenakan, saya merasa ada yang salah.

Saya (S) : Mbak, sini deh!

Teman saya (TS) : (mendekat) Apa?

S : Aku punya cerita lucu.

TS : Apaan?

S : Celanaku kebalik.

TS : (melongo bentar, memperhatikan celana yang saya kenakan, ngakak puas)   


ANNESYA

Friday, March 7, 2014

INI MUNGKIN BUKAN KABAR YANG BAIK

Saya tidak mau bilang ini adalah kabar buruk. Saya yakin segala keburukan akan membawa kita pada kebaikan yang lebih besar. Jika penerimaan membuat kita semangat, penolakan seharusnya membuat kita kuat.

Itu yang terjadi pada naskah #Atran. Naskah ini sebelumnya sudah mendapat ACC dari sebuah penerbit. Menjalani masa revisi dan menunggu jadwal terbit yang seharusnya bulan Maret ini. Namun pada perjalanan ke belakang, saya dan penerbit tersebut memiliki ideologi yang berbeda. 

Saya dengan ideologi saya sebagai penulis. Mereka dengan ideologi mereka sebagai penerbit. Naskah ini resmi saya tarik dari penerbit tersebut. Mungkin setelah ini akan dikirimkan surat pembatalan MOU sebab saya sudah tanda tangan kontrak.

Kami menyelesaikan ini secara kekeluargaan.

Setelah ini, saya harus memperjuangkan anak saya #Atran kepada penerbit lainnya. Saya tahu itu tidak mudah. Tapi saya tidak menyerah. #Atran adalah anak saya yang paling banyak menerima penolakan dari penerbit. Naskah ini selalu saya jaga originalitasnya, selalu saya pertahankan ideologisnya. Untuk itu saya tidak akan menyerah. Saya yakin #Atran cukup kuat untuk menghadapi dunia, nanti, ketika ia sudah beredar dalam eksemplar. Amin. #Atran akan semakin kuat setelah perjalanan panjang dan berbelit menuju penerbitan.

Saya mohon maaf bagi mereka yang menunggu naskah ini terbit. Dan juga saya butuh doa kalian. Lagi. Terima kasih :')))

Salam,

Annesya

Monday, March 3, 2014

SKYSCRAPER: PENCAKAR LANGIT

Langit menangis, aku memandang.
Menangkap tetesan air mata dalam genggaman.
Hanya senyap sebagai akhir.
Seakan kita pernah punya kesempatan.
Haruskah kamu membuatku merasa seakan tak ada lagi yang tersisa dariku?

Kamu bisa mengambil semua yang kumiliki.
Kamu bisa menghancurkan segalaku.
Seakan aku terbuat dari kaca.
Seakan aku terbuat dari kertas.
Teruskan dan coba jatuhkan aku.
Aku akan bangkit dari tanah.
Seperti pencakar langit.
Seperti pencakar langit.

Begitu asap menghilang, aku terbangun.
Dan menguraimu dariku.
Apakah kau merasa senang melihatku berdarah?
Semua jendela pecah.
Namun aku masih berdiri di atas kakiku.

Pergilah lari, lari, lari.
Aku akan tetap bertahan di sini,
Melihatmu menghilang.
Pergilah lari, lari, lari.
Ya, cukup jauh untuk terjatuh.

Namun aku semakin dekat dengan awan di sini.
(Demi Lovato, Skyscraper, translated into Indonesia by Annesya)
***

"Skyscraper"

[Verse 1:]
Skies are crying, I am watching
Catching tear drops in my hands
Only silence as it's ending
Like we never had a chance
Do you have to make me feel like
There's nothing left of me?

[Chorus:]
You can take everything I have
You can break everything I am
Like I'm made of glass
Like I'm made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

[Verse 2:]
As the smoke clears, I awaken
And untangle you from me
Would it make you feel better
To watch me while I bleed?
All my windows still are broken
But I'm standing on my feet

[Chorus:]
You can take everything I have
You can break everything I am
Like I'm made of glass
Like I'm made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

[Bridge:]
Go run, run, run
I'm gonna stay right here,
Watch you disappear
Yeah, oh
Go run, run, run
Yeah, it's a long way down
But I am closer to the clouds up here

[Chorus:]
You can take everything I have
You can break everything I am
Like I'm made of glass
Like I'm made of paper
Oh Oh
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper
Like a skyscraper

(Like a skyscraper)

Like a skyscraper
Like a skyscraper

Love love,
Annesya

Sunday, March 2, 2014

THINGS WILL GET BETTER: SEMUA AKAN MEMBAIK

Akulah orang yang selalu berada di sini.
Kendati melewati malam terkelam.
Dan memberanikan diri menantang gelombang untukmu dan untukku.

Yang kubutuhkan cuma kamu.
Kamu tidak perlu khawatir.
Apa yang terjadi pada kita?
Apa yang terjadi pada cinta?

Setiap langkah akan membuatnya sedikit lebih baik.
Kesalahan kecil tidak begitu penting.
Aku ingin semuanya baik-baik saja.
Selama aku memilikimu dan kau memilikiku, kau bilang
Semua akan menjadi lebih baik.

Cermin seharusnya kini menjadi begitu bening.
Setiap bayangan bagaikan pecahan kaca.
Bisakah kita memperbaiki masa lalu bersamaku dan kamu?

Mungkin aku seharusnya menghadapi kenyataan.
Aku butuh kau menjadi apa yang kutahu kau bisa.
Jangan menyerah pada kita.

Jangan menyerah pada cinta.

(Things Will Get Better, Agnez Mo, translated into Indonesia by Annesya)
***

Lirik Asli

"Things Will Get Better"

I'm the one that's always been here
Even thru the darkest nights
And brave the tide for you
And me

All I ever needed was you
You never have the worry at all
What happen to us
What happen to love

Every step seems just a lil better
Lil mistakes don't really seem to matter
I want that going ok.
As long as I got you and you got me

I've been saying to myself be stronger
Like work it out; its gonna take a lil bit longer
As long as I got you, you got me, you say
Things will get better

A mirrors now would've been so clear
Every shadow like a broken glass
Can we mend the past with me
And you

Maybe I should face the truth
I need you to be what I know you can be
Don't give up on us
Don't give up on loooveeeee

Every step seems just a lil better
Lil mistakes don't really seem to matter
I want that going ok
As long as I got you, and you got me

I've been saying to myself be stronger
Like work it out; its gonna take a lil bit longer
As long as I got you, you say
Things will get better

Ohh yeaa yeaa
Hmm yeaahh
Uhmmm mmm

Things will get better

Love love,
Annesya



Saturday, March 1, 2014

ANOTHER DRAFT

Kita pernah punya cerita. Tentang cinta yang bersemi dalam badai. Hujan yang deras menenggelamkan cerita kita dalam lumpur pekat. Namun kita bertahan dan berkembang.

Kita pernah punya kisah. Tentang luka yang menganga. Luka itu kemudian sama-sama membuat kita meragukan cinta.

Kita pernah punya cinta. Ketika kita bersama menghadapi dunia. Saling menggenggam tangan dan menguatkan. Mengira tidak seorang pun bisa mengalahkan kita. Namun kemudian kita sadar kita kalah. Dengan menunduk, kita berpisah.

Kita pernah punya rasa. Rasa yang tak tertangkap. Karena kita terlalu sibuk menyembuyikan luka masing-masing. Karena kita terlalu sibuk memusnahkan cinta dan mencabut akar-akarnya.


Kita pernah memiliki itu semua dan hanya rasa sakit yang tersisa…

#myAnotherDraftWithNoName

***

Ini saya sebenarnya sedang dalam misi membuat blurb untuk #NovelQueen yang mungkin terbit bulan depan, kalau tidak ada halangan yang berarti. Tapi saya malah bikin blurb yang ga ada hubungannya sama #NovelQueen. Ngok banget deh saya...

Saya tidak pernah tenang dengan nasib naskah saya sampai dengan melihatnya bertengger di toko buku. Sesuatu bisa saja terjadi. Apa saja. Saya berulang kali mengalaminya.

Oh ya btw cukup banyak yang menanyakan nasib #NovelAtran. Naskah ini tidak terbit sesuai dengan deadline. Jadi saya mohon maaf bagi yang menunggu-nunggu naskah ini. Semoga kalian bisa bersabar dan mencoba menikmati novel saya #MayaMaia (plotpoint, 2013) dan #NovelX (terbit bulan Februari ini).

Ngomong-ngomong soal novel X (Kenangan yang Berpulang), kali ini genrenya romance-adult yah. Beda dengan novel Maya Maia dan Ubur-Ubur Kabur yang masih bisa dinikmati semua kalangan usia dari remaja sampai young-adult.

Kembali ke topik blurb Novel Queen, ini adalah naskah yang pernah saya preview di blog ini. Terima kasih banyak yang dulu membaca naskah ini melalui blog dan memberi masukan. Berkat doa dan masukan kalian, naskah ini akan menemui kalian dalam bentuk eksemplar dalam waktu dekat. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Amin.

Kiss you all, chimers, muah muah!
Annesya



Follower