TENTANG SI CHIMER

Saturday, November 30, 2013

UNCONDITIONALLY: TANPA SYARAT

Oh tidak, apa aku terlalu dekat?
Oh, aku hampir melihat apa yang sebenarnya.
Segala ketakutanmu.
Semua pakaian kotormu.
Tak sekalipun ku berkedip.

Tak bersyarat, tanpa syarat.
Aku akan mencintaimu tanpa syarat.
Tak ada lagi rasa takut.
Lepaskan dan bebaskan!
Aku akan mencintaimu tanpa syarat.

Datanglah padaku sebagaimana dirimu.
Tak perlu meminta maaf.
Kau harus tahu bahwa kau berharga.
Aku akan mengganti hari-hari burukmu dengan kebaikanmu.
Berjalan menembus badaipun aku rela.
Aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu, aku mencintaimu.

Jadi buka hatimu dan biarkan ini dimulai.
Buka hatimu dan biarkan ini mulai.

Penerimaan adalah kuncinya
Untuk menjadi benar-benar bebas.
Maukah kau melakukan hal yang serupa untukku?
lirik ditranslasikan dalam bahasa Indonesia oleh Annesya, Katy Perry - UNCONDITIONALLY


 ***

Again, a great song sung by a great singer, Katy Perry. She never stops making people thrills. She does amazing works. I hope she can always do the same or may be better. The way she sings is absolutely inspiring. 
***

Original Lyrics

"Unconditionally"

Oh no, did I get too close?
Oh, did I almost see what's really on the inside?
All your insecurities
All the dirty laundry
Never made me blink one time

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

Come just as you are to me
Don't need apologies
Know that you are worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through the storm I would
I do it all because I love you, I love you

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

So open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart

Acceptance is the key to be
To be truly free
Will you do the same for me?

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
And there is no fear now
Let go and just be free
'Cause I will love you unconditionally (oh yeah)
I will love you (unconditionally)
I will love you
I will love you unconditionally

Saturday, November 16, 2013

KISAH GELAP (part 2)

Kau. Aku melihat semua yang kau lakukan. Kau tahu itu. Tapi memang kau selalu mengabaikanku. Meski setiap malam aku hanya memelukmu dalam lelap, berharap kau kembali menjadi yang dulu. Harapan adalah satu-satunya yang bisa kulakukan.
Hari-harimu menjadi lebih mudah sekarang. Ketika seseorang berenang mengikuti arus, seseorang tidak perlu berusaha terlalu keras, arus akan membawamu begitu saja. Kau menjadi seperti itu kini. Kau menjadi seperti kebanyakan.
Dulu kau bagaikan ikan yang berenang menantang arus. Kau menjadi berbeda dan luar biasa. Orang-orang dulu iri dengan keberanianmu, diam-diam memujamu. Sayangnya kau tidak sadar itu. Orang-orang dulu iri dengan caramu menentang yang salah, sebab mereka tidak memiliki keberanian yang serupa. Dulu.
Hari-hari di kantor tak lagi semenyulitkan dulu. Bekerjasama dengan seniormu memudahkan hari-harimu. Kau menjadi jarang bercerita padaku. Kau sudah semakin mengabaikanmu. Kau semakin tidak membutuhkanku.
Kau sudah mendapat kepercayaan penuh dari orang-orang di sekelilingmu. Kau terkenal jujur dan tidak mau melakukan hal di luar aturan. Bukan hal yang sulit bagimu memalsukan laporan keuangan sesuai keinginan beberapa orang. Kau semakin cantik sekarang. Rambutmu terawat dan tebal. Gigimu putih efek bleaching. Wajahmu yang dulu cantik kian bercahaya. Ah! Kau menjadi luar biasa sekarang.
Kau bahkan mampu mengirim uang lebih ke kampung halaman. Rumahmu di kampung kini sudah bertembok dan tak lagi berubin. Orang tuamu telah mampu membeli keramik mahal yang membuat rumahmu kini masuk jajaran rumah mewah di kampung halaman. Kudengar kau menelepon orang tuamu masalah keberangkatan haji dengan paket ONH plus. Wah, kau luar biasa! Kau mampu meraih apapun yang kau inginkan.
Sayangnya aku sudah mulai muak menjadi bayanganmu. Aku adalah bayangan gelap yang terbentuk ketika cahaya menimpamu. Aku adalah bayangan yang mengikutimu sejak kau lahir. Aku diciptakan untuk selalu bersamamu dan diberi kesempatan untuk selalu mencintaimu. Dulu. Kini rasa muakku sudah keterlaluan. Aku muak melihatmu menasihati orang lain tentang kejujuran dalam etos kerja. Tentang hidup dan kesuksesan yang kau raih adalah berasal dari kerja kerasmu.
Tidak. Kau tidak bekerja sekeras itu. Kau tidak bekerja sekeras dulu. Kau memilih menyerah dan membiarkan arus kehidupan menyeretmu pada kemunafikan. Satu-satu orang yang mengagumimu mulai menemukan kebusukanmu. Para bayangan hitam lainnya yang sering mengelu-elukanmu, berbalik mengejekku. Mereka semuanya kecewa. Bagaimana mungkin seorang dewi bisa berubah menjadi iblis? Mereka pikir Lucifer hanyalah dongeng belaka.
Baiklah, mungkin sudah saatnya aku berhenti menjadi bayangannya. Aku sudah mengajukan surat resign pada Tuhan. Alasan pengunduran diri adalah karena si Manusia melakukan hal-hal menjijijikkan dan memaksaku pula – yang juga merupakan dirinya – melakukannya sebagai bayangan hitamnya. Ah! Berikut Tuhan membalas surat resign-ku:

Dear Bayangan Hitam  Rianti,

Kontrak kerjamu masih belum berakhir. Selama sisa kontrak saya harap kamu bekerja sebaik mungkin sebagai bayangan hitam Rianti (kecuali kalau kamu mau membayar penalty sebagai ganti rugi pembatalan kontrak).
Namun mengingat keluhanmu, Rianti akan saya beri bencana (pilih salah satu opsi ini: a. menderita wasir menahun, b. bisul parah di bagian pantat) atas tindakannya sebagai SP1. Semoga itu bisa memperbaiki kenyamanan kerjamu, wahai Bayangan Hitam Rianti.

Salam dan semoga sukes.

Ah! Menyebalkan! Hidup itu menyebalkan! Baiklah, sebaiknya aku mencabut surat resign-ku saja dan bertahan sampai kontrak kerjaku berakhir. Kenapa pula aku harus berbisul dan berwasir? Ih!

***
(TAMAT)

KISAH GELAP (part 1)

Aku pertama kali jatuh cinta padamu…
                Ah, kapan itu ya? Aku sudah lupa. Aku hidup terlalu lama denganmu dan selama itu pula kau mengabaikan aku.
Tidak adil?
                Hidup memang bukan pengadilan. Kita tidak bisa menuntut hidup untuk membenarkan yang benar. Hidup berjalan sebagaimana mestinya, berputar tanpa ujung, dan perasaan ini kian menggantung.
                Punggungmu bersandar pada dadaku, kau menghela nafas. Andai aku bisa merasakan apa yang biasa tak sengaja kubaca pada novel romantis tentang jantung yang berdebar karena bahagia. Andai aku bisa merasakan deskripsi seperti merasakan lekuk tubuh hingga wangi aroma tubuhmu. Ah, tapi tidak. Aku tidak mencintaimu karena masalah sesepele itu. Rasa cintaku jauh melewati batasan fisik.
“Aku lelah.” Katamu. “Aku lelah terus berusaha. Sampai kapan aku harus terus berjuang sementara orang-orang seperti mereka,” kau berdecak gemas, “hidup berkecukupan dengan melakukan hal-hal jahat.”
                Kau sudah lama mengeluhkan tentang hidupmu padaku. Aku sudah lama mendengarkanmu. Bukan. Aku sudah lama menyaksikan perjuangan hidupmu. Kau berjuang sangat keras. Sejak duduk di sekolah dasar kau belajar mati-matian meraih peringkat pertama. Bagimu prestasi akademis adalah sebuah pertarungan untuk mempertahankan beasiswamu.
                Kau seperti itu. Kau bercahaya karena impianmu. Mimpimu untuk merubah nasibmu menjadi lebih baik. Mimpimu mengangkat derajat kedua orang tuamu yang hanya buruh menjadi seseorang dengan tingkat status sosial yang lebih tinggi.
                Pintu kamar mandi berderit terbuka. Seseorang masuk. Kau berdiri tegak dan berlagak merapikan spanmu. Padahal kau ke kamar mandi tidak karena ingin buang air kecil. Kau hanya mencari ruang untuk “bernafas”.
Wanita dengan cepol sangat tinggi di puncak kepalanya mirip unta betina berjalan congkak. Kacamatanya berujung lancip, lipstiknya merah culas, dan centimeter hak sepatunya tidak wajar. Sesuatu tak wajar dengan penampilannya.
Wanita itu mengabaikan kamu. Dia menghadap cermin dan tersenyum. Dia baru saja memasang secuil berlian di sela-sela giginya. Itu adalah tanda status sosialnya meningkat. Seniornya di kantor. Auditor yang terkenal piawai mengotak-atik laporan keuangan perusahaan. Dia adalah alasanmu mengucapkan kata-kata keluhan yang kubenci.
“Sudah kamu benerin itu laporannya?”
Benerin? Itu fraud namanya!, kau membatin jengkel. Namun garis bibirmu kini sudah mulai lihai melengkungkan senyum artifisial. “Iya, Bu, akan saya benarkan segera. Nanti sore saya bawa hasil auditnya ke meja Ibu Siska.” Jawabmu.
Ibu Siska menatapmu dari cermin dan berkata dengan nada datar. “Kamu, Rianti, jangan terlalu idealis. Di mana-mana kerja ya seperti ini, ga melulu harus mengikuti aturan. Kamu harus bisa luwes. Kebanyakan orang baru ya kaya kamu gini, terlalu idealis. Akhirnya apa? Baru masuk kerja beberapa bulan, udah keluar, alasannya ga cocok. Padahal nanti di tempat kerjamu yang baru juga sama aja!“
Kau. Bukan cuma sekali kau mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang menyiratkan bahwa menjadi idealisme adalah sebuah keburukan. Kau tahu kau bukan tipe orang yang hidup karena idealismemu. Kau selalu melakukan hal yang benar selama ini. Kau selalu meraih pencapaianmu dengan kerja kerasmu. Aku harap kau tidak pernah menyerah menjadi sepertimu. Jangan biarkan hidup merubahmu.
Wanita culas itu berlalu.
Kau menatap bayanganmu sendiri di cermin. Kau membatin tentang pencapaianmu selama ini. Kau membatin apakah kerja keras selama dua puluh enam tahun kau hidup di dunia akan berakhir sia-sia. Kau meraba bayanganmu di cermin toilet, ada kerutan di bagian mata yang kian jelas dari waktu ke waktu.
Dulu, dalam bayanganmu, kau akan menua bersama kesuksesan. Dalam bayanganmu, kau akan cukup mapan di usia dua puluh enam sehingga kau bisa melakukan treatment untuk menjaga kecantikan wajahmu. Namun hidup membawamu pada kenyataan bahwa gaji yang kau dapatkan tidak mencukupi untuk memenuhi impian-impianmu di masa lalu. Kau menua. Impianmu pun kian menua.
Ah, tidak, entah kenapa aku merasa akan ada sesuatu yang buruk dari caramu menatap bayanganmu sendiri. Aku tidak pernah melihat tatapan seperti itu sebelumnya memancar dari matamu. Tatapan dendam, sedih, dan kecewa.
Ketika impian terbentur realita, bukankah seseorang akan berubah?

***
(berlanjut ke part 2)

Thursday, November 7, 2013

DRAMA KOREA: I HEAR YOUR VOICE (2013)




Drama dengan setting dunia hukum ini bergenre komedi romantic dan misteri. Jang Hye Sung adalah seorang pengacara publik yang melakukan tugasnya dengan setengah hati. Baginya tidak penting seseorang salah dan benar, sebab ia pernah mengalami ketidakadilan ketika ia masih kecil. Masa kecil Hye-Sung berhubungan dengan kematian ayah Park Soo-ha. Park Soo-ha menyaksikan kematian ayahnya di depan mata namun tidak sanggup bersaksi karena mengalami shock. Saat itu Hye-Sung menjadi saksi kematian ayah Park Soo-ha yang dibunuh oleh psikopat Min Joon-Gook.
Sepuluh tahun kemudian, ketika Min Joon-Gook keluar dari penjara, ia membalas dendam pada Hye-Sung. Ia akan membunuh gadis itu. Namun Park Soo-ha (yang telah beranjak brondong dewasa) selalu melindungi Hye-Sung.

Awal cerita, standar drama Korea tentang cinta yang berawal dari balas budi. Saya pikir drama ini akan biasa saja. Tapi di pertengahan cerita, saya tahu ada yang berbeda dari drama ini. Drama ini menyajikan kronologi dalam ruang persidangan yang biasanya di-skip pada drama Korea umumnya. Lalu kisah cinta Brondong dan noona (beda usia 10 tahun) yang diramu dengan manis. Cinta segitiga yang rumit dengan bumbu kasus pembunuhan. Klimaks konflik terjadi di episode delapan, ini di luar kebiasaan drama Korea. Saya sudah sangat lama tidak menangis karena drama Korea. Bahkan saya lempeng aja nonton That Winter The Wind Blows – bisa dibilang ngantuk sih, apaan drama kok isinya lebay-lebayan. Tapi memang saya akui saya sempat menangis pada klimaks konflik drama ini. Selamat menonton dan menyaksikan klimaks yang saya maksud. Saya puji penulis skenarionya yang bisa menyusun plot dengan rapi serta membuat tiap adegannya menjadi tidak membosankan!!!


Very recommended drama.

Tuesday, November 5, 2013

TIPS BELANJA JAM TANGAN

Akhir tahun emang musimnya sale, semua-semua yang mahal jadi murah. Jadi di akhir tahun saya belanja keperluan yang biasanya mahal seperti tas, jam tangan, sampai dengan baju kerja. Ngomong-ngomong The Executive lagi diskon up to 80%. Ish baju yang biasanya harganya tiga ratus ribuan jadi cuma cepek. Sincay lah. Saya gunakan momen sale akhir tahun kali ini untuk belanja baju murah dan jam tangan murah.

Baju kerja saya masih lumayan banyak stock-nya, jadi saya hemat demi alokasi dana kursus mengemudi. Yang masalah adalah jam tangan saya kebanyakan sudah mati. Mau ganti baterai pun, chasing-nya sudah jelek. Cincay lah beli baru diskonan ga masalah. Beli yang banyak, buat ganti-ganti. Rusak, beli lagi. Lagian ngapain pula beli jam tangan mahal-mahal kalau sudah ga mode kan males juga pakenya.

Begitunya sampai di depan etalase, ternyata toh saya galau mau memilih jam tangan jenis apa. Ada yang model jadul yang talinya bisa diganti-ganti, ada yang talinya model kepang, dan ada yang model gelang-gelang gitu. Berhubung saya lagi muncul jiwa kelelakiannya, saya pilih jam tangan rantai besar. Memang sih aslinya untuk laki-laki, tapi saya beli aja dengan pedenya. Pas saya pake toh ga ada yag nyangka kalau itu jam tangan cowok. Soalnya bentuk pergelangan tangan saya memang lebar. Hahaa…

Ngomong-ngomong soal barang mahal, saya adalah tipikal orang yang tidak percaya bahwa harga mahal barang menjamin kualitas. Jaman sekarang pedagang jualannya juga edan-edanan. Mereka jual dengan harga selangit padahal produknya biasa aja. Jadi sebagai konsumen, kita yang harus jeli. Gimana pokoknya supaya kita bisa dapat barang berkualitas dengan harga terjangkau.

Memang sih ada juga barang branded yang harganya cukup mahal namun menawarkan kualitas yang terjamin. Kalau memang seperti itu, saya tutup mulut. Cuma kalau dengan budget terjangkau, untuk mendapatkan produk berkualitas, kita harus pinter-pinter memilih barang dan waktu. Misalnya dengan membeli barang di toko terpercaya atau hanya berbelanja ketika ada sale.


jam idola zaman SD saya -pict from here-

Salam,

Follower