TENTANG SI CHIMER

Friday, August 31, 2012

AWARD KE-12: SAHABAT BLOGGER AWARD

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT. Lalu pada Mami saya yang saya cintai, kakak saya, adek-adek saya. Lalu kepada teman-teman Heartchime sekalian yang mau-maunya baca tulisan saya. Kaya ga ada kerjaan aja… #dikeplak

Kenapa tiba-tiba begitu?

Karena saya barusan dapat AWARD dari  A. Y. Indrayana. Dia kasih award ke saya mungkin karena saya cantik menthik menthik. Mau bagaimana lagi, punya wajah cantik itu emang sering bikin orang-orang lain simpatik sama saya. Preeet.


Makasih yaaa… sukses buat giveaway-nya. Oh ya dia bikin giveaway, sana gih ke sana, lihat hadiah-hadiah yang menanti.

Salam culalit culalit ow culalit culalit o’ow,
Annesya

Wednesday, August 29, 2012

RACAUAN PAGI HARI


Akhir-akhir ini saya yang cepat bosan ini nonton drama korea yang berepisode-episode itu. Terus terang saya ga kuat, saya sukanya nonton film sekali habis. Tapi teman-teman kasih rekomendasi drama-drama yang bagus. Saya memutuskan untuk ga jadi cupu-cupu amat. Saya tontonlah semampu saya dan ternyata memang bagus.

Saking asiknya nonton saya jadi lupa packing buat training kerja. Dan memang briefing yang dilakukan by email dan by phone itu kesannya gimana gitu ga asik. Pagi ini ada beberapa hal yang saya harus lakukan, cuci baju, ngurus formulir ini itu, packing, isi lagu bagus di hp, blablabla.

Di fase kehidupan saya yang baru ini saya tak henti-hentinya berdoa. Semoga saya berada di tempat dan waktu yang tepat. Melakukan yang benar dan belajar menjadi lebih dewasa. Dalam banyak hal saya merasa sangat kurang dari lainnya.

Aku yang sedang patah hati… #malahNyanyi

Tanggal 1 saya naik pesawat jam 7 pagi. Salah seorang teman akan nganterin saya ke bandara. Baik sekali dia, sayang skripsinya ga kelar-kelar. Semoga skripsi teman saya itu cepat kelar. Amin. Saya mual denger dia curhat soal skripsi. Pengen saya ceplesi.

Saya juga ingin telpon teman saya, Renny. Dia akhir-akhir ini susah dihubungi. Saya berpikir nantinya karena pekerjaan dan jarak, saya jadi bakal lebih kesulitan ngobrol sama dia. Tapi mereka yang sudah lebih dulu kerja memng sedang sibuk-sibuknya sekarang. Mungkin suatu waktu semesta akan mengumpulkan saya dan teman-teman saya di surga #luoh!

Ya sudahlah ini racauan saya pagi ini.

wake up coffee
wake up coffe from here
 Salam iwak peyek sego jagong,

Annesya

Tuesday, August 28, 2012

FASE HIDUP YANG BARU

Tiba-tiba teringat sesuatu, sudahkah saya cerita kalau saya diterima kerja di suatu perusahaan perbankan? Err, rasa-rasanya belum ya? Beberapa akhir terakhir ini saya menghabiskan waktu menikmati hari-hari terakhir saya sebagai pengangguran. Teman-teman saya mengingatkan bahwa kerja di perbankan akan sangat menyita waktu. Mereka berpesan macam-macam, intinya saya harus jaga kesehatan.

Mulai tanggal 1 September saya akan berangkat ke Bogor untuk mengikuti training program percepatan karier, jadi terhitung hari itu, Heartchime akan terganggu keberlangsungannya. Dengan ini saya menyampaikan surat izin seretnya postingan baru. Tapi tetaplah berkunjung. Setiap komentar yang masuk moderasi akan selalu saya baca dan pasti mendapat kunjungan balasan dari saya.

Terima kasih atas semangat dan doa yang selalu kalian berikan semasa saya jobseeker. Kalian tahu kalian adalah makhluk Tuhan paling seksi. *senyum

Dan saya harus bersiap berangkat ke fase hidup yang baru. Dengan segala kerendahan hati saya mohon restunya dari bapak ibu sekalian. *sungkem

Yang masih kuliah, buruan skripsi. Yang masih jobseeker, tetaplah semangat cari kerja. Yang mau nikah, banyak-banyaklah puasa senin-kamis. Yang mau punya anak, berkonsultasilah ke dokter anak. Yang mau nguliahin anaknya, siapkan dana besar untuk memasukkan anak Anda ke universitas yang baik – berhubung biaya kuliah kini membludak. Yang mau cari mantu buat anak laki-lakinya yang ganteng, coba hubungi saya. Preeet.

nganggur tuh kadang asik, seharian bisa ngelakuin hal ga guna
kaya kucing di atas
pict from VisualizeUs

Sekian dan penuh cinta,
Annesya

Sunday, August 26, 2012

WRITTEN DOWN


Jadi sepertinya sudah lama dari terakhir saya mengapdet blog ini. Kenyataannya adalah karena jaringan internet sedang buruk-buruknya, mungkin karena banyak yang menggunakan jaringan internet ketika liburan panjang?

Well, I’m doing fine lately. Masih jarang mandi. Masih jarang makan. Masih suka bikin onar. Masih suka ngowoh. Ga ada yang berubah. Oh ya maafkan salah-salah dan ketidaksempurnaan yang saya miliki guys. I really sorry.

Waktu lebaran datang, kami masak-masak kue kering dan bikin sajian makan khas lebaran. Ketupat, opor ayam, bistik kentang, melinjo, pecel, dan lain-lain. Adik-adik saya sudah besar. Saya yang paling kecil di rumah. Imut amit gitu.

Saya mengunjungi rumah beberapa teman-teman saya. Beberapa lainnya sudah tidak bisa dikunjungi karena mereka bekerja di luar kota. Beberapa teman saya juga berkunjung ke rumah, tak banyak yang berubah.

art_apocalypse: Алексей Титаренко3
from here

Nothing is changing yet my heart still broken…
This is pain that time hardly heal.
For every sin I’ve ever make, I’d died.
For every smile I fake, I’d lost my way.
It’s all written down.
My life like a big joke.

Annesya

Monday, August 20, 2012

BAD GUY/BAD MAN/BAD BOY: DRAMA KOREA (2010)

Bad Guy-SBS-p3.jpg
Kim Nan Gil yang aktingnya sip banget
Shim Gun Wook (Kim Nam Gil) diadopsi oleh grup Haesin dan kemudian dibuang begitu saja ketika hujan deras mengguyur. Orang tua Gun Wook yang bisu tuli meninggal karena sebuah kecelakaan dan semenjak itu ia hidup sebatang kara.
Dua puluh tahun kemudian Gun Wook kembali. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan menarik. Ia datang dengan rencana matang untuk menghancurkan grup Haesin. Dendam yang ia simpan sekian lama perlahan-lahan ia eksekusi. Satu persatu anak dari grup Haesin jatuh dalam genggamannya.
Mula-mula Gun Wook mendekati Mo Ne si bungsu, kemudian ia menghancurkan rumah tangga Tae Ra – yang sudah bersuami dan memiliki seorang anak. Gun Wook tidak berhenti sampai di situ, ia terus bergerak dan menghancurkan grup Haesin hingga habis.
Terus terang yang membuat cerita ini hidup adalah akting Kim Nam Gil yang bagus. Ide ceritanya juga sangat menarik: “bagaimana jika kau membalas dendam terhadap keluargamu sendiri”. Twist dari drama korea ini adalah tentang balas dendam yang menghancurkan segalanya. Biarpun ada kisah cinta di dalamnya, tema utama dari drama ini adalah tentang balas dendam.  Pada ending terkesan terburu-buru sebab film ini dimampatkan dari 20 menjadi 17 episode sebab bertabrakan dengan jadwal wajib militer yang harus dilaksanakan Kim Nam Gil. Kendati rating drama ini tidak terlalu bagus, saya menyukai drama ini. Lagipula saya memang orangnya tidak peduli dengan rating. Kalau bagus ya bagus saja.
Annesya

Sunday, August 19, 2012

PALUNG HATI

pict from here

Hatiku…
Aku takut kau akan tenggelam di dalamnya.
Bahkan cahaya tak mampu menebar sayap.

Lemparkan jaring keingintahuanmu, Kasih.
Jika ingin tangkap gelagat riak.
Biarkan ujung jaring dan kailmu tentukan arah.
Atau kau menyelam saja!
Temukan butir mutiara tersembunyi dalam cangkang rasa.
Sebab...
Tak pernah mampu kuraih kailmu.

Kamu tahu…
Ini terlalu dalam, 
mustahil temukan rasaku mengapung di permukaan.
Kamu mengerti…
Cinta ini terlalu besar, 
sia-sia mengharapkannya terdampar di pinggir pantai.
Ia tenggelam mencumbu gravitasi.
.

 Annesya

Tuesday, August 14, 2012

ORANG YANG TERJEPIT DI TENGAH

pict from VisualizeUs

Orang yang paling menderita di dunia ini bukanlah orang yang hidupnya sangat sulit. Ialah mereka orang yang terjepit di tengah. Mereka hidup dengan mengetahui banyak orang yang hidupnya jauh lebih baik dari mereka.

Sementara orang yang sedari awal hidupnya sudah menderita, seringkali tidak menyadari betapa menderitanya mereka. Sampai mereka diberitahu, jutaan orang hidup lebih baik dari mereka. Mereka hidup bahagia dalam rasa sakit. Terlahir menderita mati tak berubah. Menjalani hidup dalam ketidaktahuan. Ikhlas apa adanya.

Orang yang sedari awal hidupnya sangat mudah dan bahagia, seringkali tidak menyadari betapa beruntungnya mereka. Dari awal mereka sudah dibiasakan dengan kemudahan, mereka tidak bisa merasakan bagaimana rasanya menggapai, berusaha. Terlahir dengan kemudahan, matipun demikian. Tidak ada gejolak. Congkak dalam ketidaktahuan.

Orang yang paling menderita di dunia ini adalah orang yang terjepit di tengah-tengah. Menyadari penderitaan mereka. Menyadari ada batas yang tidak bisa diraih. Hidup demi mimpi, mati pun masih bermimpi.

Orang yang terjepit di tengah, adalah orang yang paling memahami apa arti menderita dan bahagia sesungguhnya. Mereka mengetahui banyak hal untuk bermimpi, terluka, dan mensyukuri yang mereka miliki.

Dan sebenarnya… beruntung dan menderita adalah masalah sudut pandang.

Annesya

Sunday, August 12, 2012

ANJING YANG TIDAK BISA MENGGONGGONG #2

pict from here
Baca cerita sebelumnya:
ANJING YANG TIDAK BISA MENGGONGGONG BAGIAN 1


Mati rasa sekujur tubuhnya. Lapar. Dingin. Sepi. Kardusnya koyak oleh sekumpulan anjing dan kucing jalanan. Begitu melihatnya, anjing dan kucing jalanan itu memaki-maki, berharap isi kotak itu dendeng busuk yang dibuang manusia. Setidaknya dendeng busuk masih bisa dimakan, bukannya seekor anjing yang tidak bisa menggonggong.

Dulu ibunya selalu meringkuk di atas tubuhnya agar ia selalu hangat. Nyaman ia bergumul bersama saudara-saudaranya. Rasa aman yang sempat ia cicipi, membuatnya makin nelangsa. Rasanya sudah lama sekali sejak ia dibuang dalam sebuah kotak kardus tebal.

Diam-diam ia duduk di pinggir jalanan keras dari beton, beberapa manusia berlalu lalang, memercik becek ke sekujur tubuhnya. Ingin ia gonggongi mereka. Mereka membuat tubuhnya bau.  Sekumpulan manusia dalam ukuran kecil mengitarinya. Ujung sepatu hitam mereka menendangi. Mereka tertawa-tawa. Mereka mengatakan sesuatu.

“Diam aja nih! Ga nggonggong! Bisu kali, bisu, makanya dibuang!”

Anjing yang tidak bisa menggonggong itu kebingungan. Tidak tahu mau lari ke mana. Ia tidak punya tempat atau seseorang untuk berlindung. Tidak ada ibunya yang menggonggong galak seperti saat mereka dipisahkan. Ia lari tunggang langgang tanpa arah, sembunyi di sela-sela tumpukan seng.

Anak-anak itu tidak menyerah. Mereka mengejarnya dengan tangan menggapai-gapai. Tangan mereka kecil, anjing yang tidak bisa menggonggong itu semakin mengerut dalam tumpukan seng yang disandarkan ke dinding beton gang. Dari belakang sebuah tongkat kayu basah menghentak tubuhnya. Tongkat itu mendorongnya maju. Dari depan tangan gemuk milik anak bergigi ompong meremasnya erat-erat seakan ia baju basah yang perlu diperas. Anjing yang tidak bisa menggonggong itu pikir ia akan mati.

“Anak-anak! Hei!” Seorang manusia ukuran besar mendatangi mereka. Ia marah. Anak-anak nakal itu ketakutan dan lari.

Anjing yang tidak bisa menggonggong itu mulai berharap. Mungkin manusia itu mau membawanya pergi ke suatu tempat hangat. Namun manusia besar itu hanya diam menatapnya kasihan, lalu berlalu begitu saja. Manusia besar itu berjalan di antara keramaian.

Anjing yang tidak bisa menggonggong tidak menyerah begitu saja. Di antara jejak kaki orang-orang yang berderap, ia mengikuti aroma tubuh orang besar. Orang besar itu berjalan sangat cepat, ia sampai harus berlari, terengah-engah.

Sampai akhirnya ia menemukan orang besar itu berdiri di antara tong tong besar berbau tidak sedap. Orang besar itu mencari sesuatu di sana. Anjing yang tidak bisa menggonggong berhenti sebentar sambil mengatur nafas. Lidahnya menjulur keluar.

Orang besar itu akhirnya menemukan benda yang sepertinya ia cari, sebuah bungkusan warna cokelat. Orang besar kembali berjalan, anjing yang tidak bisa menggonggong mengikuti lagi. Orang besar itu berhenti di sebuah kardus di pinggir rel kereta api. Anjing yang tidak bisa menggonggong ikut berhenti.

Orang besar itu merunduk, berusaha masuk ke sebuah kardus. Orang besar itu duduk di dalam kardus dan memakan nasi basi dari bungkusan yang ditemukannya barusan. Setelah habis dalam beberapa suap, orang besar itu tidur memeluk lutut, menahan dingin ia menggigil.

Anjing yang tidak bisa menggonggong itu tertegun. Ia berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Lebih baik ia mati kelaparan daripada harus kembali ke dalam kardus.

 Annesya

Saturday, August 11, 2012

ANJING YANG TIDAK BISA MENGGONGGONG

pict from here
Anjing kecil yang tidak bisa menggonggong itu dimasukkan dalam kotak kardus tebal kala hujan deras mengguyur. Gelap di dalam, terasa lembab, dan pengap. Anjing yang tidak bisa menggonggong itu dipisahkan dari ibu dan saudara-saudaranya. Sementara ia hanya bisa menggonggong dalam diam, selotip menutup rapat celah di antara kardus.

Di luar terjadi sedikit perdebatan akan dibawa kemana dirinya. Tak ada yang mau menerima anjing yang tidak bisa menggonggong. Menghabiskan uang, memberi makan seekor anjing yang tidak bisa menggonggong. Untuk apa memelihara anjing yang tidak bisa menggonggong?

Seseorang mengangkatnya. Bisa ia rasakan goncangan dan suara deru mesin mobil. Jarak tercipta. Tak selang berapa lama, tetesan-tetesan hujan merembes masuk. Bulu-bulunya mulai basah. Seseorang mengangkatnya sambil berjalan tergesa. Udara semakin pengap. Ia ketakutan. Sangat ketakutan.

“Brak!”

Kardus yang dilempar sekenanya. Menabrak benda keras, mungkin dinding, mungkin sesuatu terbuat dari seng. Bau-bau tak sedap menguar masuk. Seperti bau sampah atau memang betul bau sampah. Anjing yang tidak bisa menggonggong itu melompat, meronta, entah sampai kapan, mungkin sampai ia lelah, sampai ia menyerah. Berharap ditemukan, diselamatkan. Dan seandainya ia bisa menggonggong sangat keras, ini semua tak perlu terjadi. 

Annesya

Wednesday, August 8, 2012

SKRIPSI DALAM MEMORI #2

Dalam seminggu saya cuma bisa sekali bimbingan skripsi, selalu hari Rabu jam 10. Dosen pembimbing (DP) saya orang yang sangat pintar dan resiko orang pintar, Beliau sangat sibuk. Setiap hari kerjaannya sibuk proyek akademisi dan seminar-seminar sampai ke luar negeri. Kalau saya telepon ga pernah diangkat, kalau saya sms tidak pernah dibalas, dan kalau saya email ya apalagi…

Seperti biasa, hari Rabu jam setengah sepuluh saya nongkrong di KP HI (ruang dosen). Ngintipin dari luar DP saya sedang kelihatan sibuk telponan sambil ngetik di lappinya. Saya duduk-duduk dulu di sofa, nungguin jam 10 sambil mempelajari proposal saya. Mangatur alibi-alibi yang mungkin akan Beliau lontarkan. Setengah jam nunggu, saya intipin lagi. Beliau sudah beres teleponan tapi masih ngadep lappinya.

Saya pun ngesot-ngesot mendekati sambil komat kamit baca Al fatehah. 

Saya membungkuk-bungkuk sambil senyum lebar kaku. “S-se-elamat pagi, Bu?”
DP: (bergeming) 
S : Bu, Selamat pagi!

Saya kencengin suara. Beliaunya ngadep saya, tapi dengan muka bête gitu. Kayak orang banyak pikiran eh lha kok ikan asin buat sarapannya dicolong kucing garong.

DP : Hem?!
S : Bu, ada waktu, Bu?
DP : Ada apa kamu?! (muka sengak)
S : Ssssaya mau Bimbingan Skripsi, Bu. Ada waktu?
DP : Loh? Memangnya kapan?! Bukan sekarang kan?!
S : Loh? Sekarang, Bu.
DP : Ck… (mukanya bête ngeliatin arloji)
S : Kan Ibu sendiri yang bilang minggu lalu kalau saya bimbingan tiap hari Rabu jam sepuluh. Selain hari itu Ibu sibuk.

DP manggut-manggut biarpun jidatnya masih mengerut, dan bibirnya masih merengut. 

DP : Kamu…! 
S :  Ya, Bu?
DP : Kamu... siapa ya?!

*MAK DIES

Alamak... aligator bunting, ga sekalian ngomong: Kamu siapa? Aku siapa? Aku di mana? Apa yang baru saja terjadi??

mak dor...
pict from VisualizeUs

Annesya

Saturday, August 4, 2012

TAK PERNAH SEMPAT

Aku tidak pernah sendiri. Walaupun tak ada siapapun di sisi. Aku tidak pernah sendiri. Di keramaian himpit manusia dalam bus ekonomi, pun aku tak terhimpit sendiri. Puluhan jiwa terjebak dalam raga, menjerit.

Supir bus mengumpat, lalu meludah-ludah, mungkin kering kerongkongannya berteriak. Tanpa pernah sekali didengar siapapun. Kondektur terus tertawa, mungkin lelah dirinya ditertawai dalam hidupnya. Laki-laki merokok, kepulan asapnya mencekik tenggorokan penumpang lain. Ia dimarahi, ia abaikan sumpah serapah penumpang lain. Di tempat penuh orang asing ini, mereka semua mencari pelampiasan. Saling menyakiti hati tanpa peduli.

Berapa lama sampai aku tiba, tak pernah aku menghitung jarak antara jiwa. Yang terpisah semu oleh realita. Tak pernah aku peduli, kecuali pada bulir air AC yang menetes di jendela. Mengering oleh ditampar angin. Atau pohon-pohon atau tiang-tiang listrik atau cakrawala senja yang menarik batas dunia. Sebuah kabar tentang gelap yang sebentar lagi memeluk belahan dunia tempat aku tinggal.

Laju kencang menerjang rumah kardus di pinggir jalan. Gelandangan malang itu mengumpat dan menatap pilu rumahnya yang rubuh. Bukan salah bus, rumahnya saja yang terlalu renta. Seperti dirinya. Namun enggan ia memaki diri. Lebih mudah memaki dunia. Kondektur tertawa. Supir meludah lagi melalui kaca jendela di sebelah. Pengendara motor di belakangnya terciprat riak. Jancuk!, ia berteriak.

Dan aku hanya sosok kecil yang terkucil.Tak seorang mengenali apalagi peduli. Semua sibuk sendiri. Sebagaimana aku yang sibuk mengilhami. Abai saja aku pada masalah hidup mereka, apa peduli ku? Abai saja pada supir yang terus mengumpat, apa peduli mereka?. Abai pula pada korban kecelakaan yang kejang-sekarat. Barusan terlindas truk katanya, tak selang waktu lama, kini jadi mayat. Membuat laju kendaraan-kendaraan di jalan tol melambat. Kembali supir mengumpat. Mayat itu bikin jalan busnya terhambat. Mesin busnya jadi berat, panas, kewalahan bus mengangkut beban manusia di dalamnya (beserta dengan beban-beban hidup mereka, tentunya).

Di sela himpitan orang-orang asing ini, di antara sumpah serapah dan bau keringat menyengat; setetes air hangat mengalir lambat. Dari pelupuk mata menggurat pipi, melewati dagu. Leheran kemeja cokelat jadi tadah tanpa persiapan. Tak sempat terusap, membekas di pipi. Cepat mengering oleh hempas angin dan debu. 


Bus melaju cepat…

pict from here

Annesya

Friday, August 3, 2012

BUMI, BULAN, DAN TELAGA

autors: sweety29 welcome to my world.
pict from VisualizeUs

Kau terhenti. Tergagu kau bertanya. Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku. Yang pasti kau tak menatap tepat ke arahku.
“Siapa… kamu?”
Namaku bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis.
Namaku bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap.
Namaku telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu.
“Untuk apa?”
Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma.
Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu.
Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin.
“Aku tak mengerti.”
Itu bukan pertanyaan maka aku tak bisa menjawabnya.
“Aku tak mengerti,” kau mengulangi.
Itu pernyataan dan aku tidak bisa memberi tanggapan.
“Aku tak mengerti,” kau mengulangi, lagi dan lagi.
Kau kembali berjalan.
Aku kembali diam.
Kita tak lagi berbincang.
Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu.
Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi.
Kita masih melakukan hal yang sama.
Masih berada di tempat yang terpisah.
Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku.

Annesya

Thursday, August 2, 2012

OASE

Kamu adalah oase dalam padang kering luas tak berpenghuni (aku tinggal di dalamnya). Aku sendiri terdampar di sana. Keberadaanmu kuragukan kenyataannya.

Bagaimana mungkin surga turun ke bumi?, begitu otakku berkata. Bagaimanapun kau hadir ketika kaki ini lelah melangkah (sudah tak ada lagi tujuan). Berpendar ketika mata ini hampir lelap memejam (semuanya hitam, gelap, dan pekat).

Kamu adalah kebohongan yang menerima keberadaanku (tak ada yang rela mendekap, kalau bukan kamu). Dalam oase, aku berlari, dan kamu membenamkanku dalam-dalam (dalam kebahagiaan imitasi yang membuatku memilih tinggal).

Aku bergantung penuh. Kasihan sekali…
Aku yakin, keberadaanmu “benar”. Kasihan sekali…

Dalam gelap, oase adalah cahaya, dan kedua belah mata ini menangis (belum pernah kutemukan cahaya).
Oase adalah matahari. Satu-satunya arah bagi mataku tertumbuk, tunduk (tak ada lagi yang tersisa di sekitar untuk dilihat).
Ketika oase itu pergi, aku menyadari. Aku tergiring keluar dari badai.
Ketika oase itu pergi, aku menangis kehilangan (namun telah kutemukan matahari).
Ketika oase itu pergi, tak ada lagi tempat bertumpu (sebagai gantinya, aku berdiri sendiri).
Ketika oase itu pergi, aku sudah menjadi lebih kuat (aku tak pernah menyadari sampai…).
Ketika oase itu pergi…  

pict from  VisualizeUs
it's you, where I can be such a happy fool in this insanity world


Annesya

Wednesday, August 1, 2012

ALL SHE KNOWS: (SATU-SATUNYA) YANG IA TAHU

Lagi-lagi kau pulang sendiri,
Air mata membanjiri matamu.
Dan aku di luar sini,
Tahu bahwa kau satu-satunya yang kumau.
Namun aku tak bisa melakukan apapun,
Aku tak berdaya, sayang.

Setiap harinya hal yang sama terjadi,
(dia) begitu terbiasa merasakan sakit.
(dia) tak pernah merasakan cinta yang sebenarnya,
Dan itu memang bukan salahnya.

Ia tahu yang lebih baik namun
Ia tak bisa menghentikannya.
Ingin (aku) memberitahunya,
Tapi bisa saja itu egois…
Bagaimana mungkin kau bisa menyembuhkan,
Sebuah hati yang tak bisa merasakan, remuk.
Cinta (laki-laki) itu adalah satu-satunya yang ia tahu,
Satu-satunya yang ia tahu.

Kau sudah menjalaninya sekian lama,
Kau tak bisa (lagi) mengetahui perbedaannya.
Dan ini benar-benar menyakitiku,
Sebab kau menutup mata padaku,
Sampai-sampai kau masih saja tak bisa melihat (cintaku).

Satu-satunya yang ia tahu (hanya) rasa sakit.
Di sudut rumah hampa,
Ia masih bertahan.
Aku ingin ia tahu,
(Bahwa keadaan) ini bisa lebih baik dari ini.
Aku tak bisa berpura-pura,
Kuharap kita (bisa) menjadi lebih dari sekedar teman.
(ALL SHE KNOWS-BRUNO MARS TRANSLATED IN INDONESIA BY ANNESYA)


Lagu Bruno Mars ini tentang seorang perempuan yang terus dilukai pasangannya. Namun tidak beranjak karena ia sudah terbiasa terluka dan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sementara dari sisi Bruno Mars, dia mangkel karena cewek itu ga sadar kalau dia terus disakiti. Mau nyatakan cinta tapi takut dianggap egois - sebab ia juga berharap pada cewek itu. 
Selamat menikmati lagunya :)
Annesya

Follower