TENTANG SI CHIMER

Wednesday, June 29, 2011

AKHIRNYA SAYA MENGERTI

sebuah dile jpeg random di laptop


 Tuhan, akhirnya saya mengerti. Saya memang harus melewati ini semua. Saya memang harus terluka. Saya memang harus menangis. Saya memang harus “mati” untuk kemudian “lahir” kembali.

Tuhan, akhirnya saya mengerti. Bahwa hidup itu adalah ketika bahagia dan sakit datang berganti. Bahwa ketika fase gelap dan terang adalah fase yang harus dijalani. Bahwa memandang dari sudut yang berbeda akan membuat saya semakin bijak.

Tuhan akhirnya saya mengerti rasa sakit ini bukanlah yang menyebabkan saya mati melainkan yang menyebabkan saya terus hidup.

Tuhan akhirnya saya mengerti, rasa sakit ini meyakinkan saya bahwa saya manusia yang masih bisa terluka dan melukai. Bahwa saya masih memiliki “hati” yang harus saya jaga dan saya lindungi sebaik mungkin. Demikian dengan hati orang-orang terdekat saya.

Tuhan akhirnya saya mengerti. Ini bukan tentang saya menderita masokisme atau apa. Tapi dalam fase ini saya memang sudah mampu mengatasi rasa sakit ini dan berdamai dengannya. Itu sebabnya saya merasa nyaman bersama-nya.

Tuhan akhirnya saya mengerti. Saya tidak gila, saya hanya berharap saya gila agar saya bisa lari dari kenyataan.

Tuhan akhirnya saya mengerti. Saya harus diperlakukan dengan sangat kasar agar saya mampu mensyukuri “sesuatu“ yang mana anugerah-Mu yang harus saya jaga sebaik mungkin.

Tuhan akhirnya saya mengerti. Kamu memang tak pernah mengabulkan doa-doa saya karena doa-doa saya kekanak-kanakan. Kamu tidak pernah mengabulkan doa-doa yang bolak balik bilang ingin “hilang selamanya dari muka bumi“. Kamu pun abai pada celetukan saya yang bolak balik bilang “ingin mati”. Kamu tahu saya hanya meluapkan emosi dan dengan pengertiannya memaklumi.

Tuhan saya mengerti dan mungkin Kau akhirnya berhasil membuat saya mengerti kali ini. Congratz ya, Tuhan…

*nyalain petasan* *bakar kembang api segerobak* *lempar bom ke JW Marriot*

Maaf, Tuhan… yang terakhir saya cuma bercanda. Ah, tapi Kamu ngerti kan saya cuma bercanda? Jangan jahat-jahat sama saya, saya ntar nangis loh. Kalau nangis, saya susah berentinya. Dan Kamu mungkin bisa pusing dengar rengekan saya.

Tuhan, saya membenci-Mu karena Kamu begitu mencintai saya dengan cara-Mu yang menyebalkan. Tuhan saya membenci-Mu karena walaupun Kau menyebalkan saya tidak bisa berpaling dari-Mu.

Tuhan, apa kamu juga membenci saya?

Kamu benci karena saya begitu seksi…  maksud saya karena saya begitu nakal, keras kepala dan sulit diatur?

Mau bagaimana lagi Tuhan, saya memang masih kekanak-kanakan dan suka berbuat aneh-aneh. Seperti halnya saat ini, saat saya sedang ngobrol dengan-Mu, saya malah mengajakmu bercanda haha hihi. Saya memang sulit serius, mungkin karena saya sedang lelah menjadi super serius menjalani hidup.

Tuhan, Kau Maha Berlelucon juga kan?

Bagaimana mungkin tidak? Hidup yang Kau ciptakan penuh dengan lelucon begini?
Aniwei, Tuhan, terima kasih sudah menghidupkan saya. Karena dengan demikian saya bisa tahu betapa menyebalkannya menjadi manusia dan bagaimana menyenangkannya ketika berbuat nakal. Saya bisa tahu bagaimana sakitnya ketika disakiti dan betapa indahnya ketika dunia tersennyum pada dirimu. Tuhan, terima kasih…

Saya tahu ucapan terima kasih saya ini aneh.

Tapi Tuhan, saya memang aneh. Jadi mau digimanakan lagi…

Saya juga sebenarnya mencintai-Mu kok, walaupun dengan cara yang aneh.

Senyum dikit dong, Tuhan…

Peluk...

Tuesday, June 28, 2011

PART I: WISATA BAHARI LAMONGAN DAN KAPAN KITA MAIN LAGI?

Sebuah penelitian menyatakan bahwa memori indah jauh lebih berharga dari benda termahal sekalipun.
Saya selalu percaya hal itu maka saya menuliskan salah satu kenangan indah saya bersama beberapa teman seangkatan HI UNAIR saya, 2008.

Pada tanggal 4 Maret 2011 akhirnya kami – saya, Renny, Oki, Arsiel, Olive, dan Lilik – berhasil melaksanakan rencana sejak tiga bulan yang lalu bahwa kami bakal jalan-jalan ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang terletak di kota Lamongan *ya iyalah*. Sayangnya Widha tidak bisa ikut karena dia lagi sibuk belajar (fiktif).

Kami berangkat dengan mobil sewaan tepat pukul 7 pagi. Saya dan Renny boncengan naik motor Absolute Revo menuju tempat mobil sewaan dan bertemu dengan Oki yang saat itu pakai baju hitam-hitam – entah mau melayat kemana -_-“.

Bersama mas-mas supir sewaan, kami menjemput Lilik dan Arsiel. Lilik sang wanita muslimah memakai baju hitam-hitam juga – siapa yang (bakal) mati ya -_-“ –  dan Arsiel sang gadis berani memakai jaket merah menyala. Kemudian kami menjemput Olive yang berdandan imut-imut dengan hot pant dan kaos biru bertuliskan Olive. Sungguh pakaian mencerminkan karakter-karakter pemakainya.

Selama perjalanan kami lebih banyak membicarakan kabar masing masing selama liburan berlangsung: kegiatan magang kami di Deplu, dan kabar Aji yang magang di Deplu. Lalu kabar anak-anak lainnya yang magang di seluruh pelosok negeri serta mereka yang ikut pertukaran mahasiswa ke luar negeri seperti Rusia, India, Filipina dan lain-lain.

Begitu sampai WBL kami langsung menyiapkan senjata untuk berpoto.

Kami berpoto di depan kandang kuda yang tidak ada kudanya (jadi kandang siapa nih?)

.
Lilik tidak mau kehilangan kesempatan berpoto dengan kekasihnya. Lama tak berjumpa, saya kini kembali padamu, memang hanya kamu yang mengerti aku… 

Oki sang pemandu jalan, sibuk membaca peta dan menentukan tujuan selanjutnya…
Yah… kami ke RUMAH KUCING yang kebanyakan kucingnya lagi bolos kerja karena hari itu hari Jumat dan juga masih pagi-pagi buta. Arsiel sibuk meneriaki: woooy, bangun, makan gaji buta! Padahal tuh kucing gaya, pakai AC dan diatur temperature suhu ruangannya. Saya yang kuliah di UNAIR – yang katanya world top university dan excellent with morality (hafalan masa OSPEK)saja seringkali kepanasan karena AC kelas rusak atau kedinginan karena AC ga bisa dikecilin. Macam mana pula… UNAIR ini…

Kami melewati Gerbang Es Krim dan menuju ARENA PERMAINAN KETANGKASAN. Lilik dan Oki mencoba basket sementara Renny mencoba lempar bola. Sedangkan saya… moto aja deh…

Seharusnya setelah itu kami masuk ke RUMAH SAKIT HANTU namun karena saya dan Arsiel sudah pernah masuk ke sana, saya dan Arsiel malas masuk lagi. Saya sih merasa mual soalnya ingat di sana banyak kain kafan beterbangan dan ketika menempel di muka saya, bau ludah orang-orang. Yaks, udah gitu, yang bikin sebel adalah ada petugas yang hobi pegang-pegang kaki pengunjung di kegelapan. Karena minimnya niat masuk kami, yang lainnya ikutan tidak masuk. Tapi kalaupun kami niat masuk sekalipun, kayanya juga ga ada yang mau ikut, wekeke…

well, setidaknya saya dan Arsiel sudah berpoto dengan salah satu penunggunya

Menuju permainan wisata bawah laut yang dikhususkan anak-anak di bawah umur, kami (jelas) malas masuk karena kami adalah wanita dewasa!


Um… mungkin… ehem… kecuali saya…

Setelah duduk di moncong hiu tersebut, sumpah paha saya sakit sekali, mas hiu… gigimu terlalu tajam merobek-robek tubuhku!

Destinasi selanjutnya adalah RUMAH KAPAL DAN KERANG. Di sana kami mengenang pelajaran Biologi masa SMA. Hm…


Mulailah kami masuk ke arena bermain memacu adrenalin. Kami menaiki DROPZONE yang kelihatan serem.
Tapi ternyata setelah di puncak, kami dihadapkan pada pemandangan laut biru luas yang indah. Dan bukannya kami (saya dan Arsiel) berteriak ketakutan, kami malah berteriak mesum: satu… dua… tiga! Go! Oh yeah… oh yeah… OH YEAAAAAH!


Maafkan kemesuman saya kami…
Lalu kami naik permainan ini yang namanya… apa ya? Lupa…
 

Dalam foto bisa kita lihat saya yang imut, Oki yang sibuk baca peta, Arsiel yang ceria menyala, Lilik wanita muslimah, serta Olive yang pegangan erat ke besi – karena badannya kebanting-banting. Lalu Renny mana ya?


Dan ternyata kami memang belum dewasa-dewasa amat. Buktinya kami terpikat untuk maen di mainan ketangkasan buat anak di bawah 15 tahun. Serta berfoto di perosotan dan di ujung kapal Titanic-titanikan.
Well, terus terang, saya tidak pernah masuk TK, jadi saya akui saya belum pernah sekalipun main di arena seperti di atas. Dan ketika saya masuk SD, rsanya sudah terlalu dewasa untuk bermain yang seperti itu. Seandainya saya tidak ke WBL dengan teman-teman saya tanggal 4 Maret yang lalu, hampir dipastikan saya tidak akan pernah merasakan permainan ini seumur hidup saya. Mengingat itu semua, saya sangat beruntung.


Lalu kami main BOM BOM CAR… yah saya cukup OOT dan mobil saya sering nyangkut di pinggir arena. Oleh karena saya (masih) punya rasa malu, saya tidak mencantumkan foto saya.






Lalu kami sampai di Tanjung Kodok. YAYYY!!!
Laut lepas yang biru, cakrawala yang luas, angin sepoi yang membelah udara, serta terik mentari Lamongan yang membara bercampur menjadi satu – menghadirkan sensasi kebebasan yang tak terlupakan.
Begoknya saya, saya pakai sepatu, padahal yang lain pakai sandal. Jadi ketika ada kerikil masuk ke sepatu saya, beginilah aksi saya…




Eaaa... saat-saat berpoto malah saya habiskan dengan mengurus kaki dan sepatu saya… -__-“
Dan betapa teganya Renny memoto saya dalam kondisi begitu ter-humiliate? *puitis*
Dan kenapa pula saya mencantumkan foto-foto di atas ya??
Ya sudahlah… saya kan memang masokis.

Dan semuanya pun… segera pasang aksi maksimal untuk berpoto.
bersambung ke  part II-->


PART II: WISATA BAHARI LAMONGAN DAN KAPAN KITA MAIN LAGI?


Kami lanjut ke Wahana apa namanya? Pokoknya kaya Kora-Kora dan lanjut ke Paus Dangdut yang ga asik sama sekali. Tapi setidaknya, yang lain menikmati kedangdutan dari Paus tersebut. Dan ini adalah wahana pertama yang dinaiki Renny.

Tepuk tangan ! Plok plok plok…

Sayangnya adalah, hari itu hari Jumat yang mana adalah hari Maintenance Service jadi ada beberapa permainan yang ditutup dan lagi diservice dan beberapa loketnya dijaga oleh makhluk-makhluk yang tidak bertanggung jawab. Seperti berikut… 

mbak... mbak... beli tiketnya toh...!
Dari gambar di atas, kita dapat ilhami betapa kecewanya kami pada mbak-mbak penjaga loket. Oki sang Pembela Kebenaran pun melaporkan kekecewaan tersebut ke Kotak Saran.

Sayangnya, sekeren apapun Oki, saya masih berharap saat itu ia tiba-tiba berubah menjadi Sailor Moon, Power Ranger atau mungkin Kamen Rider. Sayang impian tinggallah mimpi… saya kembali dikecewakan oleh khayalan saya sendiri. *melantur

Untuk mendinginkan situasi kami makan es krim, istirahat sejenak, dan lanjut ke arena Permainan Air yang airnya pelit dan juga kolam renang…


Setelah main basah-basahan. Kami ganti baju. Yah, yang tidak bawa ganti baju seperti saya memang harus menjemur badan sekaligus baju di pantai. Anak pantai cinta damai!


Setelah itu kita bermain di Blacksmith Lamongan, bermain tembak-tembakan 3D, menjinakkan banteng liar, memanah, dan yang terpenting… jeng jeng… berpoto…

Semua mencoba pemaianan Panahan kecuali saya. Semua pasang aksi dan semua ternyata bisa pasang aksi memanah. Waw!

Kenapa saya tidak mencoba? Jangan tanyakan saya ya… lupakan saya ada di sana…
Renny yang pernah latihan memanah di Michigan berhasil mendapat poin 30 dan mendapat voucher 10ribu di toko souvenir. Tapi bukannya beli sovenir, malah ditukerin sama akua, coklat dan Pocari -_-

Oki membawa pulang hadiah lebam membiru di lengannya dengan diameter 10 cm. Sementara yang lain membawa pulang foto-foto aksi memanah mereka. Selamat!
Lalu kembali kami foto-foto di INDIAN CAMP kendati panas terik telah memanggang tubuh kami. FYI, sepulang dari WBL kulit kami gosong, hitam, mengelupas, dan terasa sangat sakit. 

It's a really badly SUN BURNING!!!

Well, last but not least, terima kasih atas momen tak terlupakannya. Saya sangat menikmati pengalaman ini. Dari sekian banyak kejadian yang ingin segera saya lupakan, Momen ini terpilih sebagai salah satu kandidat teratas, momen berharga yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.
Tepuk tangan! PLOK PLOK PLOK… 





Love love love <3 <3 <3

Monday, June 27, 2011

#DRAFT#

KARAKTER I

aduh, file jpeg sumber dari mana ya?
Pria itu selalu merokok. Sembari menghembuskan asap rokok yang dihisapnya, ia akan menenggak kopi pahit dalam mug Winnie the Pooh yang sudah boncel-boncel. Tangan kanannya sibuk menggerakkan mouse sementara tangan lainnya sesekali menjetikkan abu rokok ke asbak kodok hijau bermata belo. Matanya tak pernah lepas sekalipun dari layar komputer kendati lingkar hitam di matanya sudah semakin kentara.
“Lagi ngapain?”
“Nge-hack web bank pemerintahan Swiss, mindah-mindahin duit orang.”
“Hah?”
Masih saja terdengar suara klik klik dari ujung telunjukkanya yang sibuk menggenggam mouse yang roll-nya entah sudah kemana – mungkin digondol Anjing.
“Buat apa?”
“Iseng. Haha…,” kekeh jahilnya masih renyah kendati jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Seingatnya, pria itu sudah tiga hari tiga malam berturut-turut tidak tidur sama sekali.
“Haha, lo pikir itu lucu ya!”
Ia mengedikkan bahu.
“Ga tidur?”
Dia melirik sebentar, “Kebayang ga sih kalo pas tidur lo mati?”
Lawan bicaranya tertegun. “Emang lo kenapa?”
“Gue mau punya waktu lebih dari 24 jam,” lanjutnya lagi. Wajahnya terlihat sangat serius seketika.
”Buat?”
“Maen game online.”
“What the hell!”
Dari atas kursi, sembari menghisap rokoknya, pria itu terkekeh-kekeh.
***

Sunday, June 26, 2011

ONE SIDED LOVE STORY


sebuah file jpeg dari laptop
Sore itu angin berhembus membawa riang suaramu ke telingaku. Kembang gula merah jambu di tanganmu mengempis seketika tapi kamu tidak peduli. Kamu sibuk bercerita tentang cinta yang mendominasi hari-harimu, akhir-akhir ini.
“Aku seneng banget pas dia ngajak aku jalan!”
“Oh ya?”
“Waktu dia pegang tanganku rasanya sekujur tubuhku merasakan sensasi yang aneh, tapi aku menyukainya,”
Kamu tahu kan aku juga merasakan hal serupa saat ini? Ketika kamu meremas erat tanganku dan bercerita tentang bahagiamu… saat ini…
“Aku ikut bahagia.” Aku bohong.
Kamu tertawa sembari menyenggol bahuku.
Tolong ajari aku bagaimana caranya mengabaikan perasaan orang lain.
“Aku seneng kamu ikut seneng!” kamu memelukku. Harum rambutmu menginvasi seluruh paru-paru bagaikan sejuta kupu-kupu beterbangan di taman surga, sejuk sekaligus menyesakkan, indah sekaligus mengaburkan.  
Namun aku masih saja, dengan sia-sia, berusaha menyungging senyum palsu untukmu, sore ini.
Ajari aku bagaimana menjadi penipu… kalau seandainya kamu tahu.
Atau ajari aku menjadi pembunuh… karena saat ini aku sedang ingin namun tak mampu.  
***
Penggalan kisah semasa SMA. 

YOU SUCH AN ASSHOLE!!!


Saya marah, benar-benar marah! Kali ini asli marah ga bo'ong-bo'ongan!!!

Sampai saya – yang dalam pergaulan termasuk orang yang jarang mengucapkan sumpah serapah – harus mengucapkan kata:

You are such an asshole! Kalau ga punya otak ga usah sok sok an nulis deh! PAGIAT! HAPUS SEMUA POST PLAGIATMU! Sok sok an pula kaya tulisannya bakal diterbitin. HE-HE-HELO TUNGGU SERATUS TAUN LAGI YOU BITCH!


Anindya (pemilik blog LISTENINDA) adalah teman baik saya, tepatnya salah satu dari teman terbaik saya. DAN tulisan-tulisannya tengah diplagiat oleh banyak orang. Cerita lengkapnya baca:


Sebelumnya hal serupa terjadi pada blog mbak enno. Saat itu saya masih ingusan dalam mengeblog namun kemudian kejadian yang terjadi pada sahabat dekat saya ini benar-benar membuat saya berang. Saking berangnya, tulisan saya sekarang sampai amburadul begini. Saat ini saya menulis sambil gemetaran menahan emosi.

SAYA MARAH!!! AH RASANYA PENGEN BERUBAH JADI GODZILLA LALU MERUMAT-RUMAT MEREKA YANG MEMPLAGIAT BLOGNYA ANIN!!!
SAAT INI MASIH NISA ROCHMI DAN HELDA YANG SUDAH SAYA SERANG. KIRA-KIRA, SIAPA KORBAN SELANJUTNYA ???
CKHUKHUKHU… (KETAWA SETAN)

mbak dan mas... please deh... buat apa sih bikin blog? wong itu lho bukan tulisanmu! wong yang dipuji-puji itu juga bukan tulisanmu!
kalau menyukai tulisan orang lain, apa susahnya memberi link dan meminta izin tulisan yang kalian copas?
mau bilang kalian ga punya otak juga, buktinya bisa bikin blog. mungkin bukan ga punya OTAK tapi emang ga punya HATI.


pict from here


Friday, June 24, 2011

MUSUHKU TERSAYANG


deathnote -- sebuah file yang asal muasalnya terlupakan

“Dia lho… menang kulit putih doang! Mukanya biasa aja juga!“
“Ah… dia boleh jadi populer habisnya otaknya ga oke. Nilai ujian aja jeblok mulu!“
“Dia boleh pinter, tapi antisosialis abis! Memangnya hidup di dunia ini cuma bisa ngandalin akademik thok? Gimana entar dia kalau mau hidup di sosial?“
“Ah… dia menulis kan demi pelarian… sebenernya selain itu dia kan ga bisa apa-apa!”
***
Pernah dengar yang seperti itu kan? Perkataan-perkataan yang menjatuhkanmu. Perkataan-perkataan yang tidak terlalu dipikirkan oleh yang melontarkannya. Saya yakin kalian semua pernah menghadapi perkataan serupa, dari orang lain, terhadap diri kalian. Yup selalu tiba masa ketika diri kalian mendapatkan penghakiman atas eksistensi kalian.

Bagaimana ya? Kita memang makhluk yang tinggal di lingkungan bersosial. Mau tidak mau kita akan menerima penghargaan maupun penghakiman atas keberadaan kita. Lalu bagaimana menghadapi yang seperti itu? Apakah kita harus berubah, pura-pura tidak dengar atau menjadi murung?

Kalau saya ya… saya bakal manjat tower terus lompat dari ketinggian!
Haha, bercanda… *potong lidah*

Saya tidak akan bilang perkataan-perkataan di atas buruk atau baik. Saya bukan Tuhan yang memiliki kapabilitas untuk melakukan penghakiman. Saya sama dengan manusia lainnya, kadang memiliki kesalahan yang disadari namun tidak disadari.

Sebenarnya kata-kata di atas, kesemuanya pernah dilontarkan oleh berbagai mulut kepada saya. Yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Mula-mula saya berang menghadapi yangs eperti itu namun kemudian saya sadar bahwa kita tidak bisa meminta seluruh dunia untuk mencintai kita dan menghargai keberadaan kita. Pasti akan ada beberapa orang yang iritasi atas tingkah laku kita.

Bagaimana saya menghadapi pernyataan-pernyataan di atas kala itu? Beginilah saya waktu itu…

Pada pernyataan pertama, saat itu saya masih SMP dan saya balas ketawa mengejek dia: emang… kalo kulit lo putih, lo yakin bisa lebih oke dari guweh??? Kasian deh!
Pada pernyataan kedua, saat saya SMA, saya hanya tersenyum getir dan berusaha melakukan yang lebih baik dalam akademis saya walau gagal total.
Pada pernyataan ketiga saat kuliah, saya memilih pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan kehidupan saya.
Pada pernyataan keempat, saya sudah menjadi lebih bijak dari sebelumnya dan menjawab dengan senyuman: iya, emang bener, saya ga bisa apa-apa. Daripada ga bisa apa-apa trus ga produktif? Mendingan saya produktif toh ?

Kalau kalian perhatikan ada beberapa pola yang sama dalam penghakiman seseorang. Pertama, mereka yang menghakimi kita adalah orang yang merasa iritasi pada keberadaan kita entah dengan alasan mereka sirik pada kemampuan kita atau memang kita sendiri yang mengiritasi semua orang? (hade -_-“) Dari sini sebaiknya kita menemukan jawaban yang sejujurnya dari diri kita sendiri atau meminta bantuan kepada teman terdekat untuk membicarakan hal yang sejujurnya atas sifat dan tingkah laku yang tidak kita sadari. Kalau dalam pembicaraan tersebut kita menemukan orang-orang tersebut sirik dengan kemampuan kita, kita bisa terus move on dan menganggap nothing happen with them. Namun kalau sikap kita yang memang bikin iritasi, tidak ada salahnya berusaha berubah memperbaiki diri. Jadikan sarkatisme mereka sebagai dorongan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pola yang kedua, bicara soal pelarian… bukankah setiap manusia di dunia ini selalu mencari pelarian? Saya berlari ke tulisan untuk meluapkan unek-unek. Mereka anak populer, melarikan diri pada komunitas sosial untuk mengaburkan kelemahan mereka. Anak kutu buku melarikan diri – dari kekikukkannya dalam bersosialisasi – dengan membenamkan diri pada buku-buku pelajaran. Mereka yang sombong menutupi keminderan mereka dengan memamerkan kekayaan mereka.

Setiap manusia butuh pelindung, perisai, atau topeng untuk melindungi kelemahan mereka. Setiap manusia ingin bertahan dengan cara mereka masing-masing. Entah itu dengan memakai topeng atau justru membangun tembok yang sangat tinggi. Jadi tidak ada salahnya kalau kalian melarikan diri pada sesuatu asal pastikan kamu “berlari ke arah yang benar”, pada hal yang berguna dan tidak merugikan orang lain. Tidak masalah juga kalau seseorang melihat “kelemahanmu” dan mengejekmu, hadapi mereka dengan senyuman, akui, dan lanjutkan hidupmu. Mereka yang berkomentar atas pilihan hidupmu adalah mereka yang sebenarnya ingin menarik perhatianmu, atau ingin mengenalmu dengan lebih baik. Temukan keinginan dari orang yang menghakimimu dan tentukan hubungan apa yang kamu inginkan atas dirimu dan dirinya, saingan, musuh, kritikus, atau mungkin percintaan (halah)?

Sebenarnya kamu bisa mengambil keuntungan dari orang-orang seperti mereka. Perkataan mereka bisa membuatmu menyadari kelemahanmu atau justru memacumu untuk terus maju. Dalam hidup kau akan lebih terpacu dengan keberadaan musuh ketimbang sahabat. Rasanya rumus itu sudah terlalu sering dijelaskan dalam film-film, sinetron, novel, atau bahkan komik. Kalian lihat? Setiap tokoh utama selalu butuh musuh untuknya bercermin… setiap cerita membutuhkan antagonis untuk menentukan kemana arah cerita akan berakhir.

So, pleased your enemy with your revenge!
(*buka kamus* *mewek* mbak… artinya apaaa???)
(*pasang tampang cool*)
Mari menjadi lebih baik untuk menjadikan mereka jengkel setengah mati!
(google translate error :v)

Tulisan ini bukan tentang baik dan buruk seseorang, tulisan ini tentang bagaimana kita memahami pilihan hidup seseorang, bagaimana kita menghadapi penghakiman, memahami orang yang menghakimi kita dan belajar memaafkan mereka. Bagaimana kita menjadi lebih baik dari sebelumnya dan berhenti mengeluhkan hal-hal sepele.

I want your love, and I want your revenge. I want your love and I don’t wanna be friend. Hou… caught in bad romance! – Bad Romance, Lady Gaga 

Thursday, June 23, 2011

AWARD KARENA SAYA SEKSI

Oh yeaa beibe, saya ga pernah nyangka, ada orang lain selain mbak maya yang bisa kena pelet aji-aji paNGAWURan saya. Hum... jadi mungkin saya ini sebenarnya memang seksi cuma banyak aja yang ga rela mengakui keseksian saya. Jadinya setiap kali saya bilang: "aku seksi kan?"; mereka cuma melengos dan pura-pura nggak dengar. Tahu nggak sih perasaan saya gimana?

Sakit! 
Sakit tahu! 

*efek nonton reality show indonesia, termehek-termehek*


Ah... maaf, lagi-lagi saya random dan melakukan hal-hal yang mengerikan. Bagaimana ya, obat gila zaman sekarang ini sudah tidak terjangkau lagi di saku mahasiswa perantauan macam saya *sigh* *prayForDevaniaAnnesya*

Kawans, mohon abaikan kata-kata saya di atas. Lupakan... lupakan... dan mari masuk ke topik utama tulisan ini. Saya barusan dapat award kedua saya dari seorang teman blogger, Amanda namanya. Silahkan berkunjung ke blognya yang kalem dan penuh dengan warna-warna pastel seperti permen gulali yang manis dan membuat anak kecil seperti saya terpukau dan ingin mengemut laptop saya ketika membuka blognya.

award kedua saya

Saya tidak mau tahu apa yang terjadi pada anak ini dan ga mau cari tahu kenapa dia memberi saya award. Tapi saya kasihan dengan anak ini, kawans... bagaimana mungkin dia bisa sembarangan kasih award ke orang yang biasanya gulung-gulung di comberan macam saya? Huft... it can't be helped...

Akhir acara, mari kita menadahkan tangan, berdoa kepada Yang Maha Kuasa menurut agama kita masing-masing. Semoga Amanda diberi kemudahan dalam menjalani kesehariannya dan semoga kegalauannya atas mantan kekasihnya lekas berakhir. 

Amin...

salam mamen selalu,
MAMEN


Tuesday, June 21, 2011

KETIKA SEDIH, GALAU, GILA BERCAMPUR JADI SATU



Wuppa – ikan peliharaan saya – barusan mati karena memang terlalu tua. Sedihnya… hiks...

Untuk sementara waktu mungkin saya tidak akan memelihara ikan dulu. Apa sebaiknya saya pelihara boneka saja ya. Dia ga bakal mati kan?

Oke, Justine… maen denganku yuk! Ouououo... jeng jeng... ouououo... baby baby baby owh... mai...

*obat gila habis*

Justine Beibeh
Ah bagaimana pula nasib MP4 saya yang rusak di tangan kakak saya ya? Saya kan rindu.... nyanyi keras-keras sambil berasa suara saya mirip Mariah Carey atau Rihanna atau Agnes Monica atau Widhi Viera (huek, yang terakhir, ogah).

mp4 saya yang sudah jadi almarhum
Ngomong-ngomong kakak saya sudah dapat kerja, njaga praktekan sebuah klinik dokter gigi di Ambarawa, Semarang. Setelah gaji pertamanya semoga dia segera mengganti MP4 saya. *menangkupkan tangan* *berdoa khusyuk*

Amin...!!!

Dia barusan menge-tag foto-fotonya di Fb dan inilah kegiatan kakak saya di Ambarawa...

kakak saya dan pohon tempat dia biasa buang air kecil :p
Eeergh... jadi dia di sana beneran kerja ga ya... *ragu* 

Tapi yang pasti... kalau foto ini saya ikutkan dalam kontes Miss India, pasti lolos deh. Haha.

Pesan saya, dodot, bekerjalah yang baik di sana. Semoga di sana bisa dipertemukan dengan jodoh yang baik pula. Amin...


salam  Seven Icon,
Ga ga ga kuat... ga ga ga level

DAN HIDUP (HARUS!) TERUS BERJALAN


Karena udara ini musnah ketika bersama. Karena hati ini terlalu retak dan sepertinya sudah terlambat merekatkannya kembali. Terlalu terlambat dan memang mungkin sebaiknya diabaikan saja. Tidak apa-apa, mungkin begini lebih baik.

sebuah file jpeg random dari laptp


Luka yang tertoreh di dalam tidak semudah luka yang tertoreh di luar. Luka di luar, ketika tidak diobati ia akan infeksi, melebar, membusuk, dan mungkin bisa dihentikan dengan amputasi. Atau mungkin kematian, itu adalah akhir terburuk dari luka luar yang terabaikan.

Bagaimana dengan luka yang terjadi di dalam?

Luka yang terjadi di dalam adalah luka yang tak teridentifikasi karena tidak terlihat, dan lebih kompleks. Hanya karena tidak terlihat, bukan berarti itu tidak ada. Luka semacam ini adalah yang terburuk, kalau tidak segera disembuhkan, luka ini akan semakin melebar dan melebar. Sayangnya, separah apapun luka yang dihasilkan, seseorang tidak bisa mati karenanya. Mungkin akan lebih baik kalau “luka dalam” bisa menyebabkan kematian fisik dengan demikian manusia tidak perlu hidup seperti zombie lagi.

Seringkali karena sudah terlalu lama luka yang dihasilkan di “dalam”, kita melupakannya, mengabaikannya, dan menganggapnya seakan tidak ada. Tapi tidak demikian adanya. Luka itu masih tetap tertinggal, dan dengan satu sentuhan kecil… rasa sakitnya akan menyebar ke seluruh sel dalam tubuh. Nyeri, sakit, dan rasanya ingin mati saja.

Tapi masih saja… saya di sini… hidup sebagai zombie berusaha keras menyembuhkan luka-luka saya. Berusaha dengan keras memaafkan semua atau setidaknya… melupakan semua. Masih saja, saya, ingin sekali percaya ada sesuatu yang direncanakan Tuhan untuk saya. Saya ingin tahu rencana itu dan untuk itu saya bertahan.

Seperti yang sering saya katakan sebelumnya, hanya yang bertahan yang mampu melihat ada apa di balik kabut tebal permasalahan kita, ada apa di balik badai cobaan dalam hidup kita, dan menikmati pemandangan indah di balik itu semua.

Life must go on, right?


Monday, June 20, 2011

(S)TUCK EVERLASTING



Pengarang                   : Natalie Babbit
Tahun terbit                 : New York, 1975; Indonesia, Penerbit Atria, 2010
Penerjemah                  : Mutia Dharma
Tebal halaman             : 172 halaman
Harga                          : gretongan dari Serambi Ilmu. Yippie !!!

Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya? -- Itu adalah tagline dari novel klasik anak-anak dari TUCK EVERLASTING.

Kenapa? Merasa tidak asing dengan tagline tersebut? Mengingatkanmu dengan Edward Cullen dan Bella Swan?

Calm down, babe, novel ini diterbitkan tahun 1975 di New York. Tidak ada yang namanya plagiat dari novel Twilight Saga di sini. Dan yang pasti Tuck Everlasting, sebagaimana ciri khasnya sebagai cerita klasik, sangat kentara unsur originalitasnya sehingga Twilight Saga – ah lupakan saja novel teenlit itu! Patut dicatat, sepertinya saya masuk dalam golongan dari sedikit orang yang tidak menyukai novel Meyer-Twilight Saga yang sedang booming tersebut.

Oke deh, dari tagline… anggap saja itu suatu kebetulan yang tidak mengenakkan karena ada kemiripan dengan Twilight Saga. Atau sebenarnya Twilight saga-lah yang terinspirasi dari novel ini? Heavenknows!

So, yang sedikit mengecewakan di sini justru terletak pada kover novel ini yang bergambar seorang gadis berusia 10 tahun tengah berpakaian mengerikan dengan seekor katak di pangkuannya dengan latar sebuah hutan. Oke saya tahu! Kover ini sangat merepresentasikan isi novel ini yang terkesan “dalam” dan “gelap”. Masalahnya adalah tipe kover seperti ini sungguh kurang komersil di Indonesia. Kover yang seperti ini bisa mudah tertimbun tumpukan kover-kover novel lainnya yang berwarna cerah, mencolok, dan berwarna-warni. Saya sangat menyayangkan hal ini karena biasanya saya adalah pengagum berat kover-kover buku Atria.

Menurut saya, kover yang menipu isi buku itu menyedihkan! Namun buku bagus yang tidak tersampaikan ke pembaca karena kover yang tidak mendukung, itu lebih menyedihkan lagi. Sebab TUCK EVERLASTING ini masuk dalam kategori buku bagus dalam list saya.

Oke, masuk ke bagian isi buku untuk “merobek-robek” daging buku ini.

Supaya kalian tidak bingung, saya akan berikan sinopsis cerita dari novel berjudul TUCK EVERLASTING ini – yang mana sudah difilm-kan oleh Disney tahun 2002 yang lalu dengan pemain Alexis Bledel. Jangan tanya film-nya seperti apa, bagus, keren, dan tonton saja sendiri lah… sebab di sini saya sedang konsentrasi meresensi bukunya. Wek!

TUCK EVERLASTING menceritakan tentang seorang gadis bernama Winnie Foster yang mana keluarganya memegang kepemilikan hutan Treegap. Suatu ketika ia merasa sangat bosan dan melarikan diri. Dan saat itu ia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang tengah minum mata air di bawah pohon raksasa, Jesse Tuck. Di sana Winnie berusaha ikut meminum mata air tersebut namun kemudian dia malah “diculik” oleh keluarga Tuck. Kemudian dimulailah perkenalan Winnie dengan seluruh anggota keluarga Tuck yang abadi alias tidak bisa menua, tumbuh dan juga mati. Konflik terjadi ketika pria bersetelan kuning berusaha mengungkap rahasia keabadian keluarga Tuck. Mae Tuck – Ibu Jesse – terpaksa membunuh pria tersebut. Kemudian diceritakan bagaimana usaha Winnie dalam menyelamatkan Mae Tuck dan juga menutup rapat rahasia mata air abadi Treegap.

Kenapa? Keliahatannya seru kan? Itu baru sinopsisnya, mamen!

Prolog dibuka dengan tiga adegan random dalam satu waktu: Mae Tuck yang akan menjemput kedua anaknya (Miles dan Jesse Tuck), Winnie Foster yang tengah berada dalam puncak kebosanan, dan terakhir adalah ketika petang hari seorang pria bersetelan kuning mendatangi rumah kediaman Foster. Di sini yang menarik adalah cara pendeskripsian Babbit yang luar biasa mengagumkan. Di awal cerita ia sudah memperkenalkan konsep circle of life (lingkaran kehidupan) dengan menggunakan konsep bianglala. Babbit berusaha merepresentasikan konsep cerita yang terkesan sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam.

Namun ada yang membingungkan saya di halaman 55. Di sana dituliskan: “bumi yang indah membuka keempat sudutnya yang luas untuknya seperti mahkota bunga…”. Heh? Apa? Bumi punya empat sudut? Apa sih? Dan saya kemudian berusaha mendownload seri asli buku ini lewat Gigapedia namun gagal karena website gigapedia masih dalam perbaikan dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Sepertinya saya memang harus membaca seri aslinya.

Kenapa saya merasa sangat penasaran?

Pertama, karena di sini banyak sentilan-sentilan kata yang membuat kita berpikir. Misalnya di halaman 6:
“kalau kaupikirkan, kepemilikan sebuah tanah adalah hal yang aneh. Sebenarnya, seberapa dalam tanah bisa kaumiliki? Jika seseorang memiliki sebidang tanah, apakah dia memilikinya sampai jauh ke dalam tanah, sampai ke inti bumi?”
It makes me laugh and think in the same time, I have no idea!

Kedua, banyak quote menarik…
Misal hal 7: “sesuatu yang kaumiliki tidak pernah menarik-jika kau tidak memilikinya barulah ia menjadi menarik.”
Hal 135: “dia melihat seberkas cahaya putih. Itu petir. Lagi dan lagi, tanpa bersuara. Itu seperti rasa sakit, pikirnya.”

Terdapat pula adegan yang secara intrinsik  memberi pesan tentang hidup…
Misalnya adegan memancing Miles – kakak Jesse – dan Winnie yang mana Winnie mulai menyadari adanya circle of live. Harus ada yang mati dan hidup di dunia ini.
Serta perbincangan “dalam” antara Winnie dan Angus Tuck – kepala keluarrga Tuck – di danau tentang mata air, keabadian yang tidak semenggiurkan yang terlihat oleh banyak orang.
Semua dikemas dengan kemasan sederhana namun dengan “isi” ekstra. Mau bagaimana lagi, Babbit memang hebat dalam mengemas cerita serius dengan sentuhan ringan – sebagaimana endorsement dari CHICAGO SUN-TIMES.

Sayangnya terjemahan buku ini masih terkesan kaku. Dan juga terdapat beberapa kesalahan ejaan. Misalnya yang saya temukan:
  • di halaman 50 “akan akan” dobel “akan”-nya,
  • hal 97 “bersetelah” yang seharusnya “bersetelan”,
  • hal 107 penggunaan “mengena” terkesan weird coba kalau pakai kata “kena” saja?,
  • hal 110 istilah “mengeletar-geletar” juga aneh coba pakai “menggelepar” saja???

Saya sangat suka cerita seperti ini. Ini cerita yang membuat kita berpikir setelah membacanya. Bukan sampah setelah sekali pakai. Sekali baca langsung buang. Wesss… tanpa kesan tertinggal. Babay, sampah!!!

Dan endingnya… endingnya… endingnya… hiks hiks… I don’t wanna be a big spoiler, but… yang pasti endingnya… beautiful ending! Ending yang seharusnya terjadi. Winnie memilih jalan yang menurutnya paling baik atas pesan bijaksana Angus Tuck. Walaupun dia mencintai Jesse Tuck, walaupun mereka saling berjanji untuk suatu saat bertemu dan hidup bersama selamanya namun Winnie memilih untuk menghadapi hidupnya seperti seharusnya. Walaupun saya sedih, saya suka ending novel ini!

Twist novel ini adalah terkait:
siklus hidup, harus ada yang lahir, tumbuh, berkembang, tua, mati, dan kemudian digantikan oleh kehidupan yang baru. Dunia harus terus bergerak agar bisa terus diperbaharui dan oleh karena itu harus ada yang mati. Dan sebenarnya kematian itu bukan sesuatu yang patut untuk ditakuti dia hanya sesuatu yang harus dihadapi. Dan Natalie Babbit mengambil ikon keluarga Tuck untuk menggambarkan kondisi ini. Dan bahwa keabadian tidak selalu seindah ketika kita membayangkannya. Oh maaaiiii dalam sekaliiii

Kesan saya terhadap novel ini hanya satu: saya lebih setuju kalau novel ini diberi judul (S)TUCK EVERLASTING sebab alur cerita dalam novel ini akan membuat otakmu terperangkap kisah ceritanya... selamanya!

Follower