TENTANG SI CHIMER

Saturday, May 28, 2011

TUHAN, MINTA JOON SATU AJA BOLEH???













































Mbok ya kaya gini kalau punya cowok. Ga habis pikir saya.
Ga perlu ganteng-ganteng… kaya Lee Joon MBLAQ aja cukup.
Tuhan, minta Joon MBLAQ-nya satu boleh???
Boleh ya ya ya… *narohPisauDiPergelanganTangan* *maksaAbis* *bodoAmat* *ketawaNakalan*

Monday, May 23, 2011

BLACK SWAN: TRANSFORMASI ANGSA PUTIH MENUJU YANG TERGELAP


Tahun Keluar : 2010
Negara Asal: USA
Sutradara: Darren Aronofsky
Cast: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel, Barbara Hershey
genre : thriller psikologi


Apa tanggapan dari kebanyakan kawan-kawan saya tentang film ini hanya ada dua:

Pertama, film ini bagus.
Kedua, film ini membingungkan.

Bagi saya pribadi, film ini memiliki relasi kuat dengan selera pribadi saya karena karakter yang dimainkan sangat apik oleh Nathalie Portman sebagai Nina sedikit banyak mirip dengan saya.

Mungkin tidak banyak yang mampu mengapresiasi film ini seperti saya. Kebanyakan dari mereka yang menyukai film ini hanya bilang bahwa akting Nathalie Portman bagus, adegan ini bagus, tarian itu bagus, dan bahwa ceritanya menarik. Bagi saya tidak demikian. Black Swan layak mendapat apresiasi lebih dari itu semua.

Cerita berawal ketika Nina – salah satu penari terbaik di perusahaannya – memimpikan dirinya menarikan tarian Swan Lake dengan koreografi yang berbeda dari biasanya yang mereka pentaskan. Patut diketahui bahwa primadona perusahaan balet tempat Nina bekerja tengah dipegang oleh ballerina yang sudah berumur bernama Beth (dimainkan oleh Winoma Ryder). Nina tinggal bersama ibunya yang mantan ballerina bernama Erica (Barbara Hershey). Di sini ibu Nina – Erica – sangat mendukung kalau tidak bisa disebut menuntut ambisi Nina untuk menjadi primadona dalam pementasan balet Swan Lake.

Masalah bermula ketika artistic director pementasan bernama Thomas Leroy (dimainkan oleh Vincent Cassel) memutuskan untuk mengganti dengan paksa Beth karena masalah usia. Ia mencari bibit baru sebagai Ratu Angsa, di sini kompetisi terjadi antara Nina dan salah seorang teman balerinanya. Dalam Swan Lake pemeran angsa putih dan angsa hitam haruslah satu orang. Walau dalam realitanya terlalu sulit menemukan yang seidealis itu namun Thomas berambisi mendapatkan ballerina yang mampu menarikan keduanya sekaligus.

Dalam audisi, Nina menarikan White Swan dengan apik dan Thomas memujinya. Ia berkata:

Seandainya, ini tentang pementasan Angsa Putih saja, pasti kamulah yang akan mementaskannya!

Maka Nina diminta untuk menarikan Black Swan dan dapat ditebak… Nina yang terobsesi dengan kesempurnaan, terlalu mengontrol segala gerakannya dan gagal menarikan bagian Black Swan  yang memiliki karakter lepas kendali, seksi, dan seduktif.

Nina sempat putus asa namun kemudian berusaha menyakinkan Thomas bahwa ia mampu menarikan kedua bagian angsa sekaligus. Thomas menerima tantangan Nina secara insting. Ia memilih Nina sebagai The New Swan Queen.

Sampai di sini segalanya masih tampak normal-normal saja walau ada beberapa bagian scene yang menampilkan sikap aneh Nina terhadap dirinya sendiri. Entah ia menggaruk punggungnya sendiri dengan tidak sadar, atau ia melihat dirinya sendiri dalam versi hitam. Dalam pesta pengumpulan dana pementasan sekalipun, ada adegan ketika kulit tangannya berkelupas, Nina yang tak suka penampilannya ber-celah, mengelupas kulit tangannya begitu saja, namun setelah dikelupas ternyata (sebenarnya) kulit tangannya baik-baik saja.

Tokoh penentu dari cerita ini adalah Lily (Milla Kunis) seorang balerina baru yang mampu menari dengan lepas sekaligus seduktif. Thomas kagum pada Lily dan menyuruh Nina mempelajari gerakan Lily. Karakter Lily ini dimainkan Kunis dengan sangat baik karena kita akan dibuat menebak-nebak apakah Lily ini baik atau jahat. Yang paling heboh, adalah adegan lesbian sex antara Nina dan Lily. Soal adegan ranjang dan ekspresi wajah, jangan pernah ragukan Nathalie Portman oke? Kau akan dibuat terkagum-kagum dengan perubahan ekspresi wajahnya yang luar biasa menarik. Saya sampai dibuat godeg-godeg sama ekspresi wajah Portman karena terlihat benar-benar natural saat beradegan ranjang, padahal scene ini Portman masih mengenakan bra-nya, begitu pula Kunis, dan kamera hanya menampilkan separuh badan saja.


ketika Nina dilatih Thomas yang rada-rada mesum gitu

Masalah dalam film black swan meruncing ketika Beth sengaja menabrakkan diri dalam sebuah kecelakaan yang membuatnya cacat. Nina juga berulang kali gagal menarikan bagian Black Swan karena terlalu memikirkan agar gerakannya terlihat sempurna dan tidak ber-celah sementara waktu pementasan semakin dekat. Thomas melakukan berbagai pendekatan secara seksual untuk memicu “bagian hitam” dari Nina namun tidak banyak perubahan yang diberikan Nina. Sampai malam sebelum pementasan, Thomas mengajukan Lily sebagai Swan Queen cadangan jika sesuatu terjadi pada pementasan yang dilakukan Nina.


Di sini Nina menyadari perasaan Beth – yang terbuang begitu saja – dan mengunjunginya ke Rumah Sakit untuk mengembalikan beberapa barang-barang Beth yang dicurinya. Nina sedari dulu sangat mengagumi Beth karena ia adalah primadona yang mampu menarikan segala peran baletnya dengan sangat “mengguncang” dan “hidup”. Oleh karena itu, Nina sedikit banyak ingin menjadi seperti Beth walau kemudian ia menyadari dunia Beth tidak semenyenangkan itu.

Kemudian adegan thrilling dari film ini berlangsung ketika Beth menusuk wajahnya sendiri dengan belati miliknya. Nina berusaha menghentikannya namun tidak berhasil, ia lari menuju lift, masih dengan shock. 

Anehnya, belati itu tiba-tiba saja berada di tangannya!

Kemudian ia pulang dan sikap ibunya yang menakan semakin membuatnya depresi. Ia – entah kenapa –berubah menjadi angsa hitam dengan bulu hitam yang muncul di bekas garukan di punggungnya.
Masih bingung dengan isi cerita ini?

Jangan khawatir, cerita ini masih sangat membingungkan sampai adegan ketika Nina tengah mementaskan Swan Lake. Ia terjatuh dalam menarikan white swan dan mendapat banyak teguran di balik panggung. Ia menangis dan berlari masuk ke dalam ruang rias. Dan ia mendapat kejutan! Taraaaa… ada Lily yang tengah bersiap berdandan sebagai The Black Swan. Mereka saling bertengkar dan diikuti oleh perkelahian yang merenggut salah satu nyawa di antara mereka.

Yap! Seratus! Tentu saja Lily yang mati! Secara Nina lakonnya, masa mati di tengah jalan?

Lily tertusuk pecahan cermin dan mayatnya disembunyikan di sebuah ruang kecil. Nina pun segera bersiap berdandan ala Angsa Hitam walau masih shock dengan kejadian barusan. But show must go on, right?

Bisa ditebak bahwa kemudian Nina secara tiba-tiba mampu menarikan The Black Swan dengan sangat sempurna. Ia berubah dari Nina yang putih, lemah, dan innocent menjadi Nina si Angsa Hitam yang hitam, kuat, dan seduktif. Nina mendapat banyak sanjungan dan tepuk tangan. Perasaan saya saat menonton bagian ini, saya merinding cacing. Sayangnya scene ini tidak terlalu panjang.

Ia kembali ke ruang rias dan bersiap memainkan adegan akhir sebagai Angsa Putih. Anehnya, tok tok tok… ada yang mengetuk pintu…

Pintu dibukan dan eeeeaaaaa…..

Lily tiba-tiba muncul sembari mengucapkan selamat atas keberhasilan Nina.

Nina terus gimana? Ya ndlongop…

Saya dan teman-teman saya? Yah, ikutan ndlongop dong…

Ketika Nina membuka ruang tempat ia menyembunyikan mayat Lily, ternyata… kosong! Dan pecahan kaca yang menusuk perut Lily sebenarnya berada di… perutnya sendiri!

Bagus…!!!

Swan Lake adalah cerita tentang sang Putri innocent yang dicintai oleh seorang Iblis. Ketika sang Iblis tidak berhasil mendapat hati sang Putri, ia menjadi kecewa, dan menyihir sang Puteri menjadi seekor angsa putih. Masalahnya adalah… sang Putri masih saja mencintai sang Pangeran kendati ia telah berubah menjadi seekor angsa sekalipun. Dalam sebuah pesta dansa, Iblis tersebut menyamar menjadi sang Puteri dalam bentuk angsa hitam dan menggoda sang Pangeran. Sang pangeran pun tergoda. Dalam film Disney, dongeng ini tentu saja sudah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sang Putri akhirnya bersatu dengan pangeran, menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Namun cerita yang sebenarnya adalah… kendati sang Pangeran meminta maaf karena tergoda oleh Angsa Hitam, sang Puteri sudah terlalu hancur hatinya…

Kalau kau benar-benar mencintaiku, seharusnya kamu bisa membedakan itu aku atau bukan…

Sang Puteri pun mengakhiri hidupnya.

Begitulah isi cerita pementasan dalam film Black Swan ini.

Saya pribadi sangat menyukai karakter yang dibentuk oleh Nathalie Portman. Akting Portman memang jempol sekali. kalau saya bisa beli jempol orang lain, bakal saya beli dan saya kasihkan ke Portman *gaMungkinAbis* *bodoAmat* *emangGwPikirin*

Kelemahan dari film ini adalah… sedikit penjelasan sehingga penonton dipaksa memikirkan film ini setelah menontonnya. Saya pribadi tidak menganggap ini sebagai sebuah kekurangan. Saya memahami Nina yang memendam bagian terhitamnya dalam-dalam karena terlalu takut bagian hitamnya menguasai. Saya juga memahami kenapa Nina punya penyakit tidak sadarkan diri ketika menggaruk tubuhnya karena saya juga demikian. Saya menyebutnya itu alergi, namun saya tahu sebenarnya itu tidak murni alergi. Saya tidak selalu menggaruk ketika memakan pantangan alergi, namun seringkali garukan itu terjadi ketika saya merasa “tidak cocok” dengan sesuatu, misalnya sedang kesal, jengkel, sebal, dan garukan tersebut seringkali dilakukan dengan tidak sadar. Seharusnya ketika semakin dewasa (kata dokter saya) penyakit ini akan hilang dengan sendirinya karena saya akan lebih mampu mengatur emosi saya. Sayangnya, dokter itu salah besar, semakin dewasa, justru tingkat permasalahan akan semakin meninggi dan manajemen emosi akan semakin sulit dikendalikan. Huh… *sigh*

Dan terkait karakter ibunya Nina, Erica yang pemaksa dan tidak menghargai privasi anaknya, itu sedikit banyak mempengaruhi karakter Nina. Nina tidak diberi ruang untuk mengungkapkan. Dalam banyak scene ditunjukkan bahwa Erica ini selalu memanggil Nina ketika ia sedikit lama di dalam kamar mandi, ketika tidur sekalipun Erica terus menunggui Nina. Bahkan tak satupun ruangan di dalam rumahnya yang memiliki kunci brendel sehingga Erica bebas mengakses semua ruang tanpa memedulikan arti privasi bagi Nina. Kadang orang tua juga bisa melakukan kesalahan yang tidak disadarinya. Kadang bentuk cinta yang ia berikan justru bisa menyakiti anak-anaknya. Yah, tidak ada yang sempurna. Satu-satunya cara membenahi hubungan seperti ini kadang memang harus memisahkan diri agar tidak saling menyakiti.

Semakin dewasa saya semakin memahami bahwa memang ada bebarapa hal yang tidak bisa berjalan seideal yang kita inginkan. Kadang kita harus mengambil jalan yang “dipandang buruk” oleh kebanyakan orang. Kadang kita memang harus menerima resiko atas pilihan tersebut. Namun ini hidup kita, memutuskan dan mengambil resiko adalah implikasi dari hidup itu sendiri. Jalani saja…

Kembali ke Black Swan, di akhir film Nina tersenyum dalam scene terakhir mengucapkan:

Aku merasakannya! Aku… sempurna!

Itulah perasaan ketika ia berhasil memerankan angsa putih dan angsa hitam sekaligus. Nina sama sekali tidak menyesali semua perbuatannya. Ia tersenyum. Ia merasa bahagia karena untuk pertama kalinya ia merasa sempurna dalam arti sesungguhnya.

Yah, manusia itu memang disebut sempurna karena ketidaksempurnaannya. Ketika kau bisa melakukan kesalahan dan lain sebagainya. Itulah hakikat sebenarnya dari manusia itu sendiri.

Bukan berarti saya membenarkan sikap Nina yang suka menyakiti dirinya senidri, menusuk-nusuk wajah Beth atau bahkan mereka-reka kejadian buruk dalam hidupnya hingga ia menikam dirinya sendiri untuk “membebaskan”. Saya hanya memahami saja kok…

Inilah apresiasi saya terkait film Black Swan. Ini film yang bagus dan juga kelam. Mungkin karena sebagian pekerja seni yang terlibat dalam pembuatan film ini berasal dari Rusia. Pesona kekelaman Rusia sangat tergambarkan dalam setting suasana film ini. Ini jenis film thriller dengan tingkat originalitas yang tinggi sebab saya (sejauh ini) belum pernah menemukan film thriller dengan tema utama balet. Asyik sekali bukan?

Gerakan ballet Portman dan Kunis di sini juga sangat baik. Walau pada adegan akhir ketika Portman menarikan bagian Black Swan, ia berubah menjadi angsa hitam sungguhan dengan bulu hitam tumbuh di sekujur tubuhnya, (menurut saya) sangat mengerikan. Saya ga suka bagian ini. Lalu pakaian balet Nina memang terlalu kebuka sampai-sampai dadanya hampir kelihatan dan agak melorot-lorot gitu… serem…
Overall, pantaslah film ini menjadi primadona tahun 2010 yang lalu.

Ngomong-ngomong, stats saya sudah 2000 ini cint… makin banyak aja yang nyasar ke sini…

Oh iya, akhir akhir ini aneh, saya ga bisa upload gambar, jadi tulisan saya akan serasa hambar tanpa gambar-gambar tersebut. Doakan semoga lancar lagi ya... ;)

Sunday, May 15, 2011

LOMBA ESAI-NARASI PENDIDIKAN KRITIS 2011

Forum Nasional Pendidikan Kritis-Alternatif mempersembahkan:


Preambule
Sebagai gerbang masa depan Indonesia yang lebih baik, pendidikan sering diabai, sering tak dilakukan dengan dedikasi profesionalisme tinggi. Hanya sebatas mengajar ‘apa adanya’, tak lebih, hanya menggugurkan pelaksanaan kurikulum. Ini bisa disimpulkan melihat prestasi anak negeri yang masih bisa dihitung dengan jari, kondisi politik-ekonomi-sosial-budaya yang tak mencerminkan pelakunya berpendidikan tinggi, tak menjunjung nilai-nilai moralitas-universal. Semua semakin karut marut.
Karut marut pendidikan selama ini bisa kita lihat dari filosofi pendidikan yang membebankan peserta didik layaknya mesin, target kurikulum yang tak berpihak pada kemampuan dan kemajemukan daya peserta didik, pelaksanaan proses pendidikan yang menggunakan kekerasan dan segala anasir subversif, guru tidak kreatif, kaku, tidak menyenangkan. Dan anehnya semua itu seperti sengaja dikekalkan oleh pemerintah. Hal tersebut dikarenakan pemerintah tak serius mengubah arah pendidikan menjadi lebih baik, hanya mengandalkan politik anggaran pendidikan 20 persen saja. Itu tidak cukup.
Lalu, bisakah ini dibebankan pada proses pendidikan yang ternyata telah gagal? Pendidikan adalah ujung tombak perubahan sebuah negeri. Hal ini bisa dilihat dari kejatuhan Jepang setelah dijatuhi bom atom di Hirosima dan Nagasaki, tapi kejatuhan itu segera dibangunnya kembali melalui pendidikan. Dan saatnya kita mempersembahkan semua daya pikir kita untuk negeri.
Untuk itu, dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional bertepatan dengan pelaksanaan seminar nasional oleh Forum Nasional Pendidikan Alternatif bertajuk “Pendidikan Humanis Hari Ini”, panitia pelaksana (panpel) memberi kesempatan bagi mahasiswa dan guru untuk berkarya memberi sumbang pemikiran kritis idealis dan solutif dalam rangka ‘memanusiakan manusia’ secara tertulis dalam Lomba Esai-Narasi Nasional 2011.
Pelaksana
FORUM NASIONAL PENDIDIKAN KRITIS-ALTERNATIF
Waktu pelaksanaan
22 Maret – 22 Mei 2011
Tema
PELAKSANAAN PENDIDIKAN ALTERNATIF
Sub tema
1. Pendidikan dilematis
2. Belajar itu asik
3. Berbenah dari kelas
4. Antara guru, fasilitator, dan orang tua
Alamat mengirim
Naskah dikirim ke narasi.ep@gmail.com
Peserta
1. Mahasiswa
2. Guru
Penilaian
1. Orisinalitas;
2. Gaya bahasa; dan
3. Ketepatan analisa.
Pengumuman kepesertaan
Pertama 5 April 2011
Kedua 3 Mei 2011
Ketiga 22 Mei 2011 (Hari terakhir pengiriman naskah, pukul 24.00 WIB)
Pengumuman pemenang
24 Mei 2011
Ketentuan-ketentuan
  1. Naskah boleh berbentuk narasi atau esai.
  2. Naskah tidak pernah dipublikasikan di media cetak maupun elektronik.
  3. Naskah ditulis di atas kertas ukuran A4, margin normal, 1 spasi, minimal 5 halaman, disertai fotenote / daftar pustaka bila terdapat rujukan atau kutipan.
  4. 1 orang peserta hanya mengirim maksimal 2 naskah.
  5. Naskah fokus pada sub tema, tidak bercabang.
  6. Halaman akhir naskah dilengkapi dengan data pribadi ( nama, alamat, usia, tempat kuliah, tempat mengajar, no HP / kontak, email, dan no rekening -pribadi atau berwakil).
  7. Setiap pengiriman naskah peserta melampirkan ettachment file scan KTP yang masih berlaku.
  8. Setiap peserta diharuskan menulis isi pengumuman lomba ini di note FB masing-masing dengan men-tag 25 teman termasuk akun FB panitia (sebelumnya addforum.pendidikan@ymail.com).
  9. Kepesertaan gugur bila tidak sesuai ketentuan naskah.
10. Naskah yang masuk menjadi milik panitia.
11. Hanya pemenang yang akan dihubungi panitia via email / telepon dan hadiah dikirim ke no rekening pemenang.
12. Keputusan panitia adalah kuat dan tidak dapat diganggu gugat.
Hadiah*
Kategori mahasiswa
Penerima penghargaan pertama Rp. 6.000.000;
Penerima penghargaan kedua Rp. 3.000.000;
Penerima penghargaan ketiga Rp. 1.500.000;
Kategori guru
Penerima penghargaan pertama Rp. 7.000.000;
Penerima penghargaan kedua Rp. 3.500.000;
Penerima penghargaan ketiga Rp. 2.000.000;
* Keterangan : Hadiah sudah termasuk pajak

Menulis Kisah Reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi


Tema: "Berjalan Menembus Batas"

Yuk ikutan menulis kisah reflektif “Man Jadda Wajada” bareng A. Fuadi dengan tema "Berjalan Menembus Batas."

Silakan tulis pengalaman hidup Anda maupun orang lain yang memiliki KETERBATASAN, baik fisik, ekonomi, lingkungan, dan sebagainya. Dalam tulisan Anda, ceritakan bahwa keterbatasan tersebut bukanlah halangan untuk mengukir prestasi dalam bidang apa pun. Misalnya Pak Sidiq (peraih Kick Andy Award 2010). Beliau memiliki keterbatasan fisik (tidak punya kaki) tapi dengan semangat dan pantang menyerah bisa "menaklukkan" Jakarta (Heroes, Bentang Pustaka 2011).

Naskah yang terpilih akan disertakan dengan tulisan A. Fuadi dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
Syarat-syarat dan ketentuan:
  • Panjang tulisan sekitar 10 halaman, Times New Roman spasi 2, Font 12, kertas A4.
  • Belum pernah dimuat dan dipublikasikan di media mana pun
  • Kirimkan tulisan Anda dalam bentuk file ke email redaksi:  man.jadda2011@gmail.comdengan subjek: BERJALAN MENEMBUS BATAS
  • Tulis biodata Anda dalam bentuk narasi di bawah tulisan Anda beserta alamat lengkap dan nomor telepon.
  • Tulisan yang terpilih berhak mendapatkan fee sebesar Rp 300.000,- (Tiga Ratus Ribu Rupiah) dan mendapat paket buku dari Bentang Pustaka, termasuk buku Berjalan Menembus Batas: Man Jadda Wajada Series (jika sudah terbit).
  • Naskah diterima paling lambat 27 Mei 2011.
M Iqbal Dawami
Editor dan Publisis Man Jadda Wajada series

lomba menulis kisah nyata dunia maya

 Bismillahirahmanirahim

      Teman…. Banyak sekali kejutan di dunia maya, bukan sedikit para artis bisa terkenal ke seluruh Indonesia bahkan Internasional melalui dunia maya. Di era berkembangnya komunikasi virtual dan jejaring sosial, yang saya sebut dunia maya ini. Virus pun dapat menyebar cepat dengan menyalahgunakan pertemanan dan kepercayaan. Tak usah mencari contoh jauh-jauh karena saya sendiri pernah mengalami menjadi korban di dunia maya.
       Baiklah tidak perlu panjang lebar. Dunia maya adalah segalanya untuk sebagian orang termasuk saya. Untuk itu, saya pribadi akan mengadakan lomba menulis yang bertemakan ‘Dunia Maya’. Seberapa pentingkah dunia maya untuk teman semua…? Dampak apa yang didapat di dunia nyata akibat dunia maya. Atau teman-teman punya pengalaman menarik di dunia maya entah itu pengalaman sedih sampai mengharu biru, kesal karena ditipu, lucu, inspiratif, menemukan jodoh di dunia maya, buruan tulis kisah teman-teman untuk diikutkan lomba ini.

      SYARAT-SYARAT LOMBA
1.    Terbuka untuk umum, siapa saja boleh mengkuti kecuali anggota FLPHK
2.    Harus punya blog, notes FB juga bisa
3.    Naskah harus sesui dengan tema
4.    Pengalaman fiktif / kisah nyata
5.    Panjang tulisan bebas, panjang lebih bagus (dapat nilai)
6.    Bahasa EYD, boleh juga menggunakan bahasa gaul
7.    Tulis naskah di blog / notes masing-masing peserta
8.    Tempelkan link tulisan di bawah postingan ini (Kotak komentar) http://putrilan9it.multiply.com/journal/item/185/Lomba_Menulis_Kisah_Nyata_Dunia_Maya
9.    Judul bebas, diawali tulisan “lomba dunia maya”. Contoh: (Lomba Dunia Maya) Ketemu Jodoh Di Multiply

     KETENTUAN PEMENANG
·    Cerita sedih, pembaca dapat merasakan kesedihan yang teman rasakan
·    Cerita lucu, pembaca ikut cekikikan (terutama saya)
·    Cerita bahagia, pembaca dapat merasakan bahagia
·    Cerita sukses, pembaca ikut merasa bangga
·    Cerita kesal, pembaca ikut mengepalkan tinju
      Artikel menjadi ketentuan dewan juri

       HADIAH
1.    Pemenang Pertama : Uang senilai HK$ 300 dan buku “Surat Berdarah Untuk Presiden” sumbangan dari FLPHK (Forum Lingkar Pena Hong Kong) dan cendera mata dari Hong Kong
2.    Pemenang Kedua : Uang senilai HK$ 200 Novel ”Ketika Tuhan Jatuh Cinta” dan cendera mata dari Hong Kong
3.    Pemenang Ketiga : Uang senilai HK$ 100 dan cendera mata dari Hong Kong

    Catatan : Hadiah bisa bertambah (Nglirik teman penulis) kalau cerita teman-teman menarik, insyaalloh akan saya usahakan mencari penerbit untuk dibukukan.
  • Lomba  dimulai hari ini
  • Deadline tanggal 9 Juli 2011. Jam 12 malam WIB.
  • Pengumuman tanggal 16 Juli 2011


      DEWAN JURI
Segera menyusul …
Salam Pena
… Aulia…
Yuen Long 14052011

Saturday, May 14, 2011

PERBINCANGAN GALAU DINI HARI



GALAU ITU (BUKAN) AIB



Kata galau mulanya heboh beredar di tweeter, sampai-sampai ada istilah WIG (Waktu Indonesia bagian Galau) ketika mereka aktif di jejaring sosial di atas jam 12 malam dan menuliskan kegalauan mereka. Ya, saya juga sering online pada waktu-waktu tersebut, walau tidak melulu dalam kondisi galau.

Anin, teman SMA dan juga teman blogger saya, pernah sekali bicara dalam statusnya, bahwa untuk menulis kamu tidak perlu teknik yang hebat, kamu mungkin hanya butuh “hati yang retak”.

Saya akui apa yang dikatakannya benar. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mengalir dari hati. Dan “hati yang retak” mungkin adalah stimulus terkuat bagi kebanyakan seseorang untuk mulai menulis. Yang saya pertanyakan di sini. Bagaimana mungkin masih ada orang yang menghakimi tulisan galau seseorang?


Saya punya seorang teman yang sangat pintar menulis, Nadia namanya. Seingat saya, dulu waktu SMA, diantara TRIO DOBOL (yang terdiri dari saya, anin, dan dia) dia adalah makhluk yang paling produktif dalam hal tulis menulis. Saya bahkan berani berkata bahwa tulisan dia adalah yang terbaik di antara kami. Dia bisa membuat novel dalam ratusan lembar dan bahkan jumlah novel yang dihasilkannya sangat banyak sampai saya tidak bisa menghitung.

Diantara kami bertiga, Anin beruntung karena novelnya yang pertama kali diterbitkan. Sementara saya dan Nadia harus menunggu lama-lama-lama… walaupun kontrak sudah diteken sekalipun.
Saya kemudian baru menyusul Anin di tahun ini, lima tahun setelah novel perdana Anin diterbitkan (saya pakai kata perdana, agar ada kata kedua, haha). Sementara Nadia…

“Aku sudah nggak bisa nulis lagi,“
“Alasan!“ saya menyahut.
“Iya, alasan!“ Anin ikut menimpali.

Dan Nadia hanya tertawa.

Suatu ketika saya menemukan alasan kenapa Nadia berhenti menulis, dalam sebuah percakapan Facebook (Mungkin kapan-kapan akan saya post hasil perbincangan kami, saya belum tahu caranya printscreen).

Dulu, sewaktu friendster masih heboh, Nadia sangat aktif membuat note-note yang isinya curahan hatinya. Kebetulan saat itu hatinya sedang retak karena baru saja putus dengan pacarnya. Setiap hari bisa 3 note sekaligus ia ciptakan. Saya biasanya menanggapi note itu dengan komentar-komentar ringan seperti: aduh, capek deh… sabar ya… semangat!… atau kadang kumat deh

Masalahnya adalah… tidak semua orang mengenal Nadia dan kelebayannya – sebaik saya. Saya yang sudah full dengan tingkah laku lebaynya akan dengan santai menanggapi note-note lebaynya tersebut.

Namun yang terjadi adalah kebanyakan dari mereka yang membca tulisannya menghakimi tulisan-tulisan galau Nadia dengan berbagai pandangan miring seperti kata-kata: lebay deh… biasa aja deh… desperate banget sih… dan kata-kata lainnya yang akan terdengar menyakitkan bagi orang yang sedang sensitif.

Semenjak itu Nadia berhenti menulis… sama sekali!

Lihat? Betapa kata-kata mampu mempengaruhi seseorang?

Satu patah kata tak hanya mampu memperbaiki hati orang lain, ia juga bisa dengan mudah mematahkannya!

Seseorang seringkali lupa bahwa di dunia ini bukan dia satu-satunya orang yang memiliki hati. Mereka lupa bahwa ketika ia menghancurkan hati seseorang, ia belum tentu bisa mengembalikannya seperti semula.

Sekarang ketika Nadia berhenti menulis sama sekali. Adakah yang berani memastikan ia lebih baik daripada ketika dulu – ketika ia sering menulis note-note galau?

“Setidaknya ia tidak memalukan dirinya di depan umum,”???

Benarkah? Apa kamu bisa memastikan Nadia tidak bertingkah memalukan di depan umum lagi?

Saya percaya, bahwa hati yang luka selalu butuh medium untuk disalurkan. Begitu pula mereka yang mengalami masalah yang berat, mereka yang patah hati, mereka yang gagal, depresi, mereka butuh medium untuk berekspresi. Menulis mungkin adalah ekspresi paling bebas dari seorang introvert semacam saya.

Menulis memang bukan solusi tapi ia membuat saya “bertahan”.

Sekarang, ketika kata-kata kejam tersebut menutup medium itu, ke mana mereka akan berekspresi?

Kamu mau jadi mediumnya? Kamu mau setiap saat mendengar curhatannya? Tangisannya? Keluh kesahnya? Rengekannya? Dan tetek bengeknya? Kamu mau tidak? Jangan kabur, tanggung jawab dong!

Nah, kalau kamu tidak berani tanggung jawab mencarikan medium bagi ekspresi galau mereka yang tertuang dalam sebuah kreativitas serupa tulisan, jangan sok menghakimi. Jangan berkata seakan-akan itu hal yang memalukan. Jangan seakan-akan kamu lebih baik karena kamu tidak menuliskan kegalauanmu!

Saya yakin seratus persen kamu pernah galau. Mungkin kamu mengekspresikannya dengan cara yang jauh lebih buruk dari Nadia. Mungkin kamu ke diskotik, merusak tubuhmu, menghamburkan uang, bertingkah temperamen pada kawan-kawanmu… yah, itu urusanmu… *apatisAbis

Saya cuma berharap. Bagi para galauers, jangan pernah berhenti menuliskan kegalauanmu. Jangan merasa malu hanya karena kelemahanmu terlihat. Jadilah diri sendiri (setidaknya) dalam tulisanmu.

Setiap hari – ketika kau keluar dari kamarmu, menghadapi dunia –tersenyumlah, berjalanlah dengan ceria, hadapi masalahmu. Namun ketika kau menghadapi layar laptopmu, merenung, dan menggalau ria… tak ada salahnya menjadi dirimu sendiri.

Bagi saya, tak masalah kalau manusia memakai “topeng”, sebab topeng bisa jadi adalah jalan keluar untuk mempertahankan diri. Tapi tak ada salahnya juga kalau sejenak kita menanggalkan “topeng” kita untuk jujur pada diri sendiri. Topeng hanya berguna ketika kau menjalani hidupmu sehari-hari, namun ketika kau tengah dalam proses “menyembuhkan hatimu”, tanggalkan… dan lihat “yang terdalam” dari hatimu.

Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini hanyalah...

Teruslah menulis, kawan… tidak peduli segalau apapun itu… semengerikan apapun hasil tulisanmu!


salam orasi membara,
MERDEKAAAA!!!

Wednesday, May 11, 2011

PUTIH DAN ALASAN KAU MENCINTAINYA


Hampir semua orang berharap ia menjadi sang Putih. Mengapa?
Karena putih adalah lambang kebaikan. Dia adalah cahaya yang memerangi gelap malam. Dia lambang kesucian, dia adalah representasi dari harapan manusia. Putih, bersih, dan suci. Bukankah semakin banyak orang yang terobsesi dengan warna itu?

Warna putih direpresentasikan sebagai pihak yang baik, sempurna, dan tak pernah menyakiti orang lain. Semua kepositifan ada di dalamnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah… apa yang paling kamu cintai, esensi dari putih atau justru warna putih itu sendiri?

Bingung?

Kita ganti pertanyaannya, kamu suka “menjadi baik” atau “terlihat baik”?

Saya mungkin pernah terobsesi dengan yang kedua. Saya ingin “terlihat baik” dengan menjadi sang Putih. Karena apa yang saya lihat dalam layar televisi, malaikat selalu berwarna putih, bawang putih selalu baik hati dan bernasib mujur, dan segala ikon-ikon kebaikan lainnya selalu berwarna putih.
Segalanya menjadi keharusan untuk “terlihat putih”.

Saya selalu bersikap baik, manis, tidak mau menyakiti, dan juga… teraniaya! Saya selalu tidak mau membalas dan membiarkan segala hal buruk menimpa saya. Saya akan menjadi bawang putih dalam hidup saya, saya akan menjadi tokoh protagonist dalam drama kehidupan saya.

Sampai akhirnya saya beranjak dewasa dan semakin mengerti.

Warna putih itu tidak baik walaupun tidak bisa dikatakan jahat.

Putih itu tak ubahnya warna-warna lainnya seperti hijau, merah, biru, hijau, dan bahkan hitam. Mereka sama, dan esensi keberadaannya di dunia ini sama, yakni mewarnai dunia. Apa lagi yang perlu diobsesikan dari warna putih kawan? Penampilannya atau esensinya?

Menjadi pihak yang kalah dan disakiti tidak melulu merupakan “pihak yang baik”. Ada banyak alasan ketika pihak tersebut disakiti. Misalnya, pertama, karena ia sebelumnya telah menyakiti lainnya. Atau kedua, karena ia memang tidak berusaha menjaga dirinya dari rasa sakit.

Ada penderitaan di dunia ini yang diakibatkan oleh diri kita sendiri, kawan.

Contoh konkritnya, misalnya, saya, di awal perkuliahan. Saya adalah anak yang pasif dan tidak mau terlihat menonjol. Dalam berbagai kerja kelompok, saya memilih diam dan mengerjakan. Saya sedikit berbicara sebab tak ada yang mendengar. Saya punya kapabilitas yang lebih baik dari lainnya tapi teman-teman sekelompok saya malah “menginjak-injak saya” dengan cara membiarkan saya mengerjakan segala tugas kelompok sendirian.

Wao, bukankah saya sudah seperti bawang putih dalam cerita legenda Indonesia? Mungkin saja saya ini versi nyata Lala dalam sinetron Ibu Peri ?

Masalahnya, kawan, buka matamu!

Saya bukan bawang putih dan saya juga bukan Lala. Keajaiban itu bukan hadiah lotre yang dengan tiba-tiba jatuh padamu dan ibu peri itu cuma tokoh khayalan bodoh yang membuatmu terbuai dalam kejamnya dunia.
Dari sana saya sadar bahwa selama ini saya hanya mencintai warna putih itu sendiri.
Bukan berarti saya tidak percaya keajaiban, bukan berarti saya tidak percaya eksistensi Tuhan yang MahaAdil. Tapi mungkin, Kawan, berusahalah melawan! Keajaiban itu bukan ditunggu, tapi diraih! Dan keadilan Tuhan itu bukan pula ditunggu, tapi dicari!

Tuhan tidak akan mengubah nasib umat-Nya sampai kita mau berusaha.

Kalian boleh menjadi orang baik tapi jangan menjadi orang bodoh!!!

Berusahalah mempertahankan dirimu sendiri. Berusahalah untuk tidak diinjak-injak. Berusahalah mempergunakan kapabilitasmu untuk mengatur hidupmu. Berusahalah! Berusalah menjadi lebih baik walau kau tahu itu sulit, walau kau ingin menyerah sekalipun!

Dan menjadi baik bahkan tidak harus menjadi terlihat baik!

Berhentilah terobsesi pada warna Putih dan mulailah mencintai esensi dari warna putih itu sendiri!
Kamu bisa menjadi hijau, biru, merah, pink, bahkan hitam di dunia ini. Tidak perlu mengubah “warnamu”, tidak perlu memaksakan diri menjadi putih.

Berhentilah kawan, dan mulai terima eksistensi dirimu. Jika kau memang berwarna hitam, tidak apa. Jika kau memang berwarna hijau, tidak masalah. Jika kau memang merah, apa yang buruk dari warna itu?

Kalian bisa "menjadi baik” dengan cara kalian masing-masing.



Sebuah perbincangan:
A : Aduh, jurnalku numpuk! Gimana ngerjainnya nih? Blablablabla…
B : Ayo, semangat! Semangat! Kamu pasti bisa!
A : Ah, kamu mah enak! Kamu kan pinter! Kamu begini kamu begitu, blablabla…
B : loh... ya jangan gitu. Kamu harus semangat ngerjainnya, ntar nilaimu jelek loh !
A : ah, sudah ngantuk. Sudah capek. Kepalaku pusing, dan blablabla...
C : *tiba-tiba menyahut* Iya! Makanya, udah deh… nyerah aja… ga bakalan selesai malam ini. Nyerah aja loooo !!! ngapain juga ngerjain jurnal, ga penting juga!
A : *tertegun*
C : *senyum jahat*
A : Ngerjain aja deh…
C : *ketawa*




Tuesday, May 10, 2011

TENTANG KAMU, KAMU, DAN KAMU



Pejamkan mata dan rasakan segala…
Ada AKU di sisimu.
Mana?, kau bertanya.
Kau harus diam untuk bisa mendengar.
Tapi aku tidak melihat apapun!
Kamu masih tidak percaya, mempertahankan logikamu.
Kamu terlihat takut…
Takut kehilangan kewarasanmu.
Kamu mungkir, AKU tersingkir.
Pun tak sekalipun AKU mangkir.
AKU abadi tanpa harus menjadi, ada tanpa dipuja.
AKU hanya perlu kamu tahu itu.
Dan kamu mungkin hanya perlu tahu itu kan?
Ya, itu saja, cukup, Tuhan… *senyum*

KEPADAMU, MAAF TLAH MENGABAIKANMU




Kamu tahu kan saya orang yang bebas? Kamu tahu saya sering meninggalkanmu sendiri dan bepergian ke manapun saya suka?
Pernahkan kau bicara, tapi tak didengar? 
Tak dianggap sama sekali.
Entah kenapa diantara ratusan list lagu yang tengah saya putar di Lenovo, lagu Teruskanlah, Agnes Monica tersebut harus ditakdirkan terputar secara random oleh Jet Audio. Itu menyakitkan.
Pernahkah kau tak salah, tapi disalahkan? 
Tak diberi kesempatan…
Kamu tahu kan saya suka terlepas? Dan nyaring suaramu tak lebih saya anggap sebagai sebuah gangguan atas romantisme kesendirian saya?

Bagiku… bersamamu adalah hidup bersama “ikatan” itu sendiri. Saya harus seringkali memperhatikanmu dan juga merespon semua tingkah laku rewelmu. Bagiku, berjalan bersamamu, adalah sebuah tanggung jawab yang harus saya tepati serta janji yang terlarang tuk teringkari.

“Satu pesan tak terjawab,” begitu saya mengerang setiap waktu. 
“Memangnya satu panggilan tak terjawab?” teman saya selalu berseloroh ketika saya berkata demikian.

Ya, bagi saya itu adalah pesan yang tak terjawab. Sebab butuh berjam-jam sampai seharian penuh bagi saya untuk membalas sebuah pesan sekalipun. Kamu terabaikan, saya tahu, tepatnya kamu SENGAJA saya abaikan.

“Ubah dong kebiasaanmu itu!” entah sudah berapa teman-teman saya yang protes, mereka berharap saya bisa lebih memperhatikanmu. 
“Malas ah!” 
“Hu, bilang saja kalo emang ga mau berubah!”
Benar. Saya memang tidak mau dan tidak berusaha berubah. Saya senang meninggalkanmu, saya senang mengabaikanmu.

Saya jahat? Tidak dong, kan saya tidak pernah memperlakukanmu secara kasar.

Saya hanya membiarkanmu berbaring seharian di atas ranjang saya, diam, menunggu, dan sesekali saya akan datang tuk memintamu melayani saya. Dan kamu selalu rela dan berbaik hati melayani saya. Kamu selalu tidak pernah menolak saya. Kamu selalu ramah dan membantu saya dalam banyak hal.

Kendati demikian saya seringkali merasa egois atasmu. Aku hanya datang di saat saya membutuhkanmu saja. Mungkinkah ini refleksi dari rasa bersalaha saya yang mendalam? Mungkinkah jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya sebenarnya mencintaimu? *halah*

Ya, kamu selalu baik pada saya hingga kejadian kemarin sore.

Kamu… meninggalkan saya…
Kamu pergi…
Kamu hilang…
Kamu tak kembali…
Kamu… kamu… kamu…

Kamu yang biasanya selalu setia menanti saya dengan duduk manis dan berbaring di atas ranjang saya! Kamu yang biasanya selalu membantu saya! Kamu yang biasanya selalu mengganggu dengan suara-suaramu di tengah malam! Kamu yang selalu saya abaikan! Kamu yang selalu saya sakiti!

HANDPHONEKUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Hiks… hiks… kembalilah… jangan hilang gitu aja…

Saya kena marah mami gara-gara menghilangkanmu!

NB. Kamu akan lebih memahami arti sesuatu ketika ia hilang dari kehidupanmu


Follower