TENTANG SI CHIMER

Monday, April 4, 2011

MASOKIS TINGKAT AKUT– Kadang-kadang Saya Memang Butuh Menangis

random by Google


Kadang saya merasa kalau saya ini masokis?
Kadang apa sering ya?
Kayanya sering deh…
Jadi saya merasa “kosong” kalau tidak merasa apapun.
Sementara kebahagiaan sangat sulit dicapai di masa sekarang – dengan dunia yang dipenuhi berbagai kendala hidup – saya memilih untuk mencari rasa sakit demi mengisi kekosongan tersebut.

Bukan!
Bukan, seperti yang kalian bayangkan!

Seperti rantai, tali, borgol, cambuk, bla bla bla…
Kenapa masokis selalu dikaitkan dengan hal itu?
Atau emang otak manusia aja yang sering usil dan sering memunculkan stimulus-stimulus yang tidak diharapkan.
Stimulus M.

MESUM.

Oke, kembali ke topik masokis…
Masokis di sini adalah gejala kejiwaan yang mana ia merasa senang atau baik-baik saja walaupun disakiti.
Saya ini seringkali njarak mendekati teman yang lagi badmood, sehingga mereka suka bersikap kasar sama saya.
Saya juga seringkali bermain sama anak yang terkenal suka berkata-kata pedas sehingga saya sering banget dikatai pedas olehnya.

Apa saya marah?

Enggak.

Sebab saya menikmatinya. Menikmati setiap jengkal kata-kata kejam yang terlontar dari mulut mereka dan juga merasa sakit karenanya. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Kenapa saya bisa terus bersama mereka yang berkata kasar pada saya dan tidak merasa marah. Mungkin karena itu pula – kekebalan saya tersebut – mereka jadi semakin nyaman dan leluasa berkata kasar pada saya.

Hm, ya sudahlah… mungkin saya memang masokis *menerimaDenganLapangDada

random by Google


Jadi baru-baru ini saya mengajak teman sekos saya ngobrol. Sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya). Dia sedang dalam mood buruk dan sayangnya, saya sedang tidak tahu itu. Saya mengajaknya bicara tentang pekerjaan dia dan hal-hal semacam itu (dia baru saja lulus kuliah soalnya). Maksud saya adalah… saya ingin belajar dari dia bagaimana agar bisa mandiri. Saya mengajaknya diskusi dan mencari kelemahan dari rencana hidupnya supaya berjalan dengan baik. Dan kemudian akan saya contoh begitu saya lulus nanti.

Namun sayangnya, dia tidak berpikir demikian. Dia mengira saya sedang menghakimi pemikirannya, saya sedang berusaha menyudutkan dia dengan mencari kelemahan-kelemahan rencana hidupnya. Dia menatap saya tajam-tajam dan berkata dengan sinis.

“Memangnya kenapa kalau saya ingin begitu?”
Saya jelas kaget, “Mbak saya ga ada maksud apa-apa kok,”
“Tapi dari nada suaramu, caramu bicara, kedengaran seperti itu bagiku !"
“Maksudnya, Mbak?“
“Kamu bicara seakan kamu yang lebih benar, lebih baik, lebih segala-galanya dari orang lain!“Saya terdiam saat mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya.

Orang bilang kata-kata yang terlontar saat marah ada dua kemungkinan. Pertama, bahwa itu hanya emosi semata. Kedua, itu adalah apa yang dipendamnya selama ini tentang saya.

Dengan memikirkan opsi kedua, saya terdiam.

Saya masuk ke kamar teman saya, Renny, setelah Bunga (bukan nama sebenarnya) mengusir saya. Saya berusaha untuk memejamkan mata namun entah kenapa air mata saya terus keluar. Jadi saya sesenggukan di kamarnya.

Saya adalah makhluk bodoh yang tidak pernah bisa mengekspresikan diri dengan baik. Saya tidak bisa mengatakan pada orang lain siapa saya sebenarnya karena banyaknya ketakutan-ketakutan akan ditolak, dibenci, dan dipandang kasihan oleh orang lain. Jadi ketika Renny menanyakan alasan apa yang membuat saya menangis, saya cuma bungkam, saya merasa sangat malu.

Renny jelas jengkel mengira saya ababil karena baginya diam berarti ketidaktahuan. Salah besar jika saya dikatakan tidak tahu atas apa yang menyebabkan air mata saya terus mengalir. *puitis* Saya tahu betul apa alasannya. Alasan yang tidak logis namun merupakan stimulus yang cukup kuat bagi kelenjar air mata saya untuk memproduksi spesialisasinya, air mata.

Karena saya merasa saya mengganggunya, akhirnya keluar dari kamarnya dan masuk kamar saya sendiri. Pintu saya kunci, jendela saya tutup rapat-rapat, lampu dimatikan, dan saya menangis semalaman *efekNontonCinetronPutriYangTertukar*

Kalau kalian pikir saya menangis karena kata-kata Bunga (bukan nama sebenarmya), kalian salah besar!

Kata-kata kasar tidak cukup pantas menyakiti hati saya. Hanya saja kata-kata Bunga (bukan nama sebenarnya) tersebut menyentil bagian terdalam dari hati saya. Saya kembali teringat pada kehidupan-kehidupan saya yang terdahulu. Apakah benar hidup saya yang dulu-dulu mampu membuat saya “tampak lebih” dari orang lain?

Jawabannya adalah…
TIDAK.
TIDAK SAMA SEKALI.
SAMA SEKALI TIDAK.
Dan saya merasa malu mengakuinya…

Hidup saya – kalau saya bisa bilang – dipenuhi oleh kenangan buruk. Lalu kenapa saya masih bisa tertawa? Karena saya memandang kenangan buruk tersebut sebagai lelucon yang patut ditertawai. Saya memandang masa-masa terburuk saya dengan humor ironis. Beberapa kenangan buruk memalukan yang lainnya – yang bahkan tidak bisa dilihat dengan cara humor apapun – saya tanam dalam-dalam dan saya kasih batu nisan bertuliskan R.I.P. di atasnya.

Naasnya, adanya batu nisan tersebut, saya jadi menyugesti diri saya sendiri bahwa kenangan-kenangan buruk tersebut hanyalah ilusi dan tidak benar-benar terjadi dalam hidup saya. Dan dengan demikian saya menolak kenyataan bahwa pondasi hidup saya berantakan. Saya terus berjalan dan membangun sementara melupakan bahwa pondasi tempat saya membangun sungguh sudah berantakan.

Saya melarikan diri dari kenyataan tersebut.

Selama ini saya terus berjalan dan tersenyum sementara tidak berusaha mengobati luka saya. Karena saya hanya melupakan rasa sakit itu, bukannya mengatasinya.

Tapi bukankah tidak ada rasa sakit yang akan hilang karena dilupakan?

Akhirnya, malam itu, ketika Bunga (bukan nama sebenarnya) mengatakan secara implisit bahwa saya merasa hidup saya lebih sempurna dari orang lain sehingga berhak menghakimi hidup orang lain, nisan RIP yang tertancap dalam memori saya tercabut dan kenangan-kenangan buruk tersebut berlarian tak terkendali.

Saya merasa malu pada Bunga (bukan nama sebenarnya) karena terlihat sok bener dihadapannya – padahal saya sendiri gak bener, saya takut kalau Renny melihat saya yang sebenarnya – padahal dia sahabat terdekat saya, saya malu pada seluruh dunia karena saya selama ini dengan pede “berjalan” – padahal dalamnya “hancur lebur”.

Saya merasa hancur malam itu. Saya menangis semalaman kaya lagunya Audy… *backSoundMenangisSemalamByAudy : on

Bahkan saking lebaynya, saya merasa saya tidak bisa lagi “berjalan” dan mungkin saya tidak layak lagi merasakan bahagia. Karena… bagaimana mungkin saya bisa merasa bahagia kalau terlalu banyak luka di bagian terdalam hati manusia?

Selama ini saya terus membangun hidup saya di atas pondasi yang berantakan dan dengan sedikit hembusan, bangunan tersebut bisa saja runtuh berserakan. Saya baru menyadari hal itu malam itu dan merasa sangat sedih.

Jadi semalaman itu saya menangis dan jatuh tertidur sambil memeluk Justine – boneka Teddy Bear coklat saya. Untung ada dia, kalau ga ada dia, saya akan merasa sangat kesepian malam itu dan bisa saja saya kesambet lalu bunuh diri minum nutrisari dan makan terasi.

Esok baginya, tangis saya kembali pecah. Salah satu ikan peliharaan saya, Woopa, meninggal malam itu dengan cara yang aneh: melompat keluar dari akuarium. Dan karena lampu kamar saya matikan, saya tidak tahu kapan dia melakukan loncat indah dan menghembuskan nafas terakhirnya. Mungkin dia merasakan kegalauan hati majikannya.   


Perkenalkan, yang warnanya merah adalah almarhum Woopa. mengheningkan cipta... MULAI!

Setelah kejadian itu, saya sadar bahwa jiwa saya tidak stabil atau apa yang biasa disebut dengan ababil. Maka saya memutuskan untuk membuat blog pribadi yang isinya adalah curahan hati saya yang tidak mampu saya ungkapkan lewat lesan.

Mungkin hati saya ini terlalu kecil untuk menampung semua rasa sakit ini sendiri. Mungkin saya terlalu congkak untuk bilang bahwa saya tidak akan menuliskan kisah hidup atau pengalaman hidup saya dalam bentuk tulisan. Mungkin saya terlalu angkuh untuk bilang bahwa pengalaman pribadi bukanlah konsumsi publik.

Kadang kita memang butuh menangis, kadang hati kita memang butuh ruang untuk sekedar menyatakan. Kita butuh medium untuk menyalurkan rasa sakit tanpa menimbulkan rasa sakit yang lain.

Mungkin curhat semacam ini memang tidak menyelesaikan masalah namun setidaknya saya akan mulai belajar menerima diri saya sendiri dengan tulus dan membiarkan orang luar memahami “yang terdalam” dari diri saya.

Esok paginya ketika saya bertemu lagi dengan Bunga (bukan nama sebenarnya) saya masih tersenyum dan menyapanya seakan tidak ada apapun yang terjadi. Dia juga melakukan hal yang serupa.

Saya tidak merasa marah padanya. Saya justru bersyukur, kata-kata kasarnya, menyadarkan saya, bahwa saya tidak “sebaik-baik saja” seperti yang saya pikirkan selama ini. Hati saya dipenuhi luka gores dan lebam yang selama ini saya abaikan begitu saja.

Yah, aniwei, saya memang butuh lebih banyak lagi belajar bagaimana berjalan sembari menyembuhkan luka-luka saya…

Saatnya menjalani hidup dan tidak lari dari kenyataan...

random by Google

Follower