TENTANG SI CHIMER

Sunday, August 21, 2016

3. LOT OF THINGS IN COMMON

Dua hari yang lalu mereka menunjukkan foto mana yang mereka pilih untuk kebutuhan campaign. Malam hari ini Eliana sudah bisa melihat campaign tersebut sedang dalam proses pemasangan di beberapa titik strategis di kota ini. Barangkali esok hari ia sudah bisa melihat foto dirinya terpampang di sejumlah baliho di sepanjang jalan.
Eliana mengalihkan pandangannya dari kaca mobil kembali ke tablet di tangannya. Ia membaca sekilas jadwal kegiatannya esok hari. Jadwal gym, konsultasi gizi, dokter gigi, talkshow, meeting untuk membicarakan proyek cover story sebuah majalah gaya hidup terkenal. Jadwal yang mengerikan. Eliana paling tidak suka sesi wawancara dalam bentuk apapun itu. Ia tidak suka membuka dirinya pada orang-orang asing. Inilah sisi yang paling dibencinya dari pekerjaan ini. Ketika seseorang menjadi terkenal, hidupnya menjadi milik semua orang. Once you get famous, being famous became your profession.

pict from weheartit

“Jeremy will come.” Tiba-tiba perempuan yang duduk di sebelah supir memberitahunya. Ia menoleh ke belakang menatapnya dengan tangan kanan masih memegang ponsel. Perempuan itu adalah manager-nya, Sofi. Sofi adalah perempuan yang tidak suka berbasa basi. Ia benar-benar fokus dengan pekerjaan dan target dari managemen. Pekerjaannya selalu bagus, tapi dia bukan tipikal seseorang yang bisa dijadikan sahabat. Jika disuruh memilih antara dirinya dan managemen, Sofi akan lebih memilih kepentingan managemen. Maka Eliana berhati-hati dengannya.
“Thanks.” Sahut Eliana singkat.
Malam ini dirinya dan orang-orang dari proyek pelangsing tubuh HealtySlimBeauty akan merayakan selesainya proyek pemotretan mereka. Perayaan yang terlalu awal sebelum mengetahui hasil penjualan tapi mereka optimis hasil penjualan akan melonjak drastis jika diperkirakan dari respon pasar. Mereka bilang Eliana tidak pernah gagal menjual produk. Produk apapun yang dikenakan Eliana akan selalu diburu di pasaran.
Ketika sampai di lobby hotel, Eliana turun seorang diri. Sopirnya akan mengantar Sofi ke meeting untuk keperluan pemotretan esok hari. Jika meeting selesai, Sofi akan menyusul. Jika seandainya Eliana ingin dijemput, dia bisa langsung menghubungi sopir.
“Nggak usah, aku bisa naik taksi pulangnya nanti.” Eliana berbaik hati. Ia tidak mau Sofi naik taksi malam-malam.
“Jangan!” Sofi lekas memotong. “Kamu nggak boleh naik taksi! Just-don’t!” 
“Oh, aku bisa minta Jimmy antarkan aku pulang.”  Eliana meralat.
Sofi terdiam sejenak kemudian mengangguk setuju. “Itu lebih baik. Lagipula Jimmy juga cukup populer. Jika tertangkap kamera, itu baik buat karir kalian. Nggak ada ruginya.”
Eliana tersenyum tipis. Mobil itu melaju meninggalkan lobby. Dalam hati Eliana merasa geli dengan bayangan dirinya tertangkap kamera dan digosipkan menjalin hubungan dengan Jeremy. They just like bestfriend. Nothing more nor less.
Ketika Eliana melangkah masuk gedung, seorang security membukakan pintu dan tersenyum padanya. Eliana membalas senyumannya dan ia bisa melihat perubahan air wajah security itu setelahnya. Sebelumnya hanya senyum formalitas, kemudian senyum pria itu berubah menjadi senyuman lebar yang tulus dan bahagia. Eliana menyukai perasaan seperti itu. Seseorang yang membalas senyumannya dengan tulus membuat dirinya merasa lebih baik.
Eliana berjalan menuju lift dan menekan tombol anak panah ke atas. Ia memperhatikan penampilannya pada pantulan lift. Ia mengenakan dress pendek sepaha warna perak yang sedikit berkilauan di bagian ujungnya. Rambut sepunggungnya digerai bergelombang dengan sedikit aksen kepang pinggir.
Tiba-tiba seseorang berdiri di sebelahnya. Eliana bisa melihat dari pantulan di lift dan langsung menoleh ke arah pria di sebelahnya. Ini pertama kalinya Eliana melihat Arka dalam pakaian keseharian. Ia hanya mengenakan jeans dan kaos lengan pendek. Ia tampak tidak terlalu berminat pada acara ini jika dilihat dari penampilannya.
Arka tetap menatap ke depan dan tak sekalipun menoleh ke arahnya. “Alone?” pertanyaan itu jelas ditujukan untuknya sebab hanya ada dia seorang di lobby.
“Yes.” Eliana lekas meralat. “I mean no.”
Arka mengangguk seakan-akan mengerti. Atau sebenarnya ia hanya tidak peduli. Sebab ia tidak menanyakan apa-apa lagi. Ketika pintu lift terbuka, Arka melangkah masuk. Eliana mengikutinya. Kemudian sepuluh detika paling menyesakkan terjadi. Keduanya sama-sama diam dan tak seorang pun berniat memecah keheningan.
Ketika pintu lift terbuka, Eliana merasa lega seketika. Ia melangkah keluar lebih dahulu tanpa menunggu Arka. Seumur hidup Eliana belum pernah merasa begitu sesak jika bersama seseorang. Bahkan ketika ia bersanding dengan orang yang ia benci sekalipun, Eliana hanya akan pura-pura tidak melihat keberadaan orang tersebut. Tapi Arka berbeda. Eliana tidak membenci pria itu. Ia juga tidak bisa menganggap keberadaannya tidak ada. Eliana hanya merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Sejak awal sekalipun, sebelum insiden kamar mandi terjadi, Eliana sudah merasakan hal yang berbeda pada Arka.     

*

Harusnya Jeremy sudah sampai. Seharusnya dia mengabari itu janjinya. Eliana menatap layar hpnya dan tidak menemukan pesan baru di sana. Pesan terakhir adalah satu jam yang lalu, ketika Sofi memberitahunya Jeremy akan datang ke perayaan.
Eliana duduk di sofa. Orang-orang dari perusahaan SlimHealthyBeauty mulai larut dalam pesta dan merekam keseruan perayaan menggunakan hp. Suara piringan dj yang berdecit-decit, dentingan gelas beradu, seseorang membuka botol wine lagi, orang-orang berdansa. Sementara dirinya harus puas dengan segelas lemon juice. Sebagian club telah disewa, masih ada beberapa pendatang yang dibatasi jumlahnya.
Tiba-tiba seseorang menyadari kediamannya. Orang-orang yang Eliana kenali sebagai staf yang bekerja di hari pemoterannya, mereka duduk di dekatnya dan mengarahkan kamera ke arahnya.
“This is Eliana Latisha, a super model. She’s quite gorgeous, right?”
 “Yes, say hi, Ana!”
“Hallo.” Eliana melambai ke kamera.
“Kamu minum apaan? Ya ampun, cuma jus? Good girl banget!”
“Besok ada pemotretan, aku harus sober.” Dalihnya. Tidak ada pemotretan pun sebenarnya Eliana tidak begitu suka minum. Ia tidak suka perasaan di pagi hari ketika bangun dan efek alkhohol menguasainya. Kepalanya seakan terhimpit di mesin pressing. Ia membencinya.
“Ah, we know someone just like you, Ana.” Seorang gadis yang sudah agak sedikit mabuk berbisik sangat dekat ke telinganya. “That guy!” ia mengarahkan telunjuknya ke sudut di seberang ruangan. Eliana mengikuti arah telunjuk gadis itu dan menemukan Arka duduk bersandar di sofa dengan wajah bosan. Di depannya ada segelas minuman yang terlihat seperti jus.
“Hahaha, you, guys, have a lot of things in common!”
Yang lain menyetujui kemudian tertawa terkekeh kekeh. Sepertinya pembicaraan itu terdengar oleh Arka hingga ia melayangkan tatapan ke arah mereka. Suara mereka rupanya terlalu keras mengalahkan musik. Seketika mereka terdiam dan ber-sst panjang.
“He hears!”
“We’ll dead.”
“But we’re telling the truth!”
“Knock it off already!”
Mereka benar-benar sudah mabuk, batin Eliana sembari tertawa sopan. Di antara lampu warna warni yang berputar-putar, Eliana menemukan seseorang yang dicarinya dari tadi. Ia berpamitan pada rekan-rekannya dan berjalan menuju meja bar tempat pria itu duduk dengan gelas cocktail di hadapannya.
“Jimmy!” sapanya.
Laki-laki itu tidak mendengarnya dan malah menelan sesuatu dari tangannya. Melihatnya, Eliana berlari berusaha menghentikannya, tapi terlambat. Jimmy telah menelan butiran berwarna putih itu dan langsung menenggaknya dengan segelas cocktail.
“Jimmy!” Eliana mencengkeram lengan laki-laki tersebut.
Jeremy menoleh ke arahnya dan baru menyadari keberadaannya. “Oh, my lovely Eliana! My beautiful lil sunrise! I need you. You have no idea how hurts it is.” ia langsung memeluk Eliana erat dan mulai menangis seperti bayi.
Eliana ingin marah. Ia ingin mendamprat sahabatnya ini. Ia ingin bilang ia mengajaknya ke sini untuk sebuah misi. Eliana sedang membutuhkan bantuannya dan sebelumnya ia pikir rencanya itu juga bisa membantu Jeremy. Tapi ia salah. Jimmy muncul di perayaan dalam keadaan berantakan. Ia tetap tampan tapi ia tidak dalam kondisi terbaiknya. Sudah dipastikan rencanya akan gagal. Jeremy justru menjadi masalahnya saat ini. Ia tidak bisa meninggalkannya seperti ini.
“Jimmy, kamu bilang kamu sudah berhenti make! You promised, remember?
I drifted.”
“No way...,” desis Eliana. “Ayo pergi dari sini.” Eliana langsung mencengkeram lengan Jeremy dan menyeretnya pergi. Jeremy jatuh terkulai dan menjatuhkan gelas-gelas. Suara pecahan gelas terdengar nyaring. Beberapa orang menoleh ke arahnya. Eliana langsung panik. Jeremy tersungkur di lantai, terlalu mabuk untuk berdiri.
“Use my card.” Seseorang menyerahkan selembar kartu kredit ke seorang bartender. Satu-satunya orang yang masih sober selain dirinya di acara ini. Eliana tidak menyangka Arka akan menceburkan diri dalam insiden ini.
Eliana ingin berterima kasih tapi tidak jadi sebab Arka menatapnya tajam-tajam dan berkata dengan nada marah, “Jangan buat masalah, Eliana. Kamu adalah brand ambassador kami.”

*
Dadanya masih bergemuruh sangat kencang. Bagaimana jika ada yang menyadari insiden ini? Kalau managemennya sampai tahu ia pasti akan dikenakan sanksi. Eliana menggigit bibirnya dengan panik. Jeremy masih teler dan bersandar di bahunya. Sementara Arka duduk di kursi kemudi. Ia tidak berkata apa-apa sedari tadi. Ia membantunya membopong Jeremy dan bahkan berinisiatif mengantarkannya pulang.
Eliana tidak suka dengan orang yang pendiam. Mereka seperti bom waktu. Ia jadi tidak tahu apa yang orang itu pikirkan. Arka bagi Eliana seperti itu. Eliana lebih suka orang yang banyak bicara sehingga ia bisa diam menikmati pembicaraan yang ada.
Begitu sampai ke apartemen tempat Jeremy tinggal, Arka tanpa berkata apa-apa langsung membantunya membopong Jeremy. Untunglah Jeremy tidak muntah-muntah. Ia hanya menceracau tentang mantan kekasihnya, Luke, dan betapa ia menjalani hari-hari penuh penderitaan.
Mereka bertiga naik ke lantai tujuh belas. Jeremy sempat terjatuh di tengah lorong. Eliana bisa mendengar Arka sedikit mengeluh ketika membopong,“Ya, Tuhan.” Arka berulang kali mengucapkan kata-kata itu.
Eliana menahan tawa mendengarnya. Ia tahu ia tidak pada tempatnya untuk menertawai Arka. Tapi ini pertama kalinya ia melihat Arka dengan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Arka biasanya selalu terlihat dingin, rapi, dan terkendali. Malam ini ia memiliki emosi seperti layaknya manusia. Eliana menyukai Arka yang seperti itu.
Bukan jenis suka seperti itu, suka yang... yah..., Eliana meralat dalam hati.
Begitu sampai di depan pintu apartemen, Eliana langsung memasukkan kode password. Untunglah, Jeremy belum mengubahnya. Mereka bertiga masuk ke dalam dengan susah payah. Eliana berjalan terlebih dahulu untuk menunjukkan kamar Jeremy. Begitu sampai ke tempat tidur, Arka langsung menghempaskan tubuh Jeremy ke sana. Jeremy jatuh terlentang di atas kasur dengan mata terpejam dan tangan terentang lebar.
“Ya, Tuhan!” keluh Arka keras-keras.
Kali ini Eliana tidak berhasil menahan tawanya untuk lepas.
Arka menatapnya tajam.
Eliana menghentikan tawanya dengan berdeham-deham kecil. “Sorry.”
Arka berkacak pinggang dan menatap Jeremy lekat-lekat. “Bukannya dia ini model juga?”
Eliana mengangguk.
“He’s your boyfriend?”
“Yes.”
“Oh.”
“Eh, I mean no. Uh, yes. I mean... boy friend with space between it!”
Arka menaikkan satu alisnya ke atas. Saat itu Eliana baru menyadari betapa menariknya pria di hadapannya ini ketika tidak dalam mode kulkas. Barangkali ia perlu mengenal Arka di luar jam kerja sebab ia terlihat berbeda. In a good way.
“Dia-cuma-teman.” Eliana menakankan setiap suku katanya.
“Oh.” sahut Arka pendek. “Aku lihat kamu tahu password masuk, jadi pasti kamu sering berkunjung.”
“Iya.” Jawab Eliana polos, kemudian menyadari kekeliruan jawabannya. “Enggak. Enggak. Iya, aku sering datang. Tapi nggak seperti yang kamu bayangin!”
Arka berjalan menuju kulkas, membukanya, mengambil salah satu botol air putih, membuka tutupnya, dan langsung menenggaknya tandas. Eliana menatapnya dalam diam, meski isi kepalanya penuh dan berdesakan.
“Nggak haus?”
Eliana mengangguk dan ikut mengambil botol air di kulkas. Ia menenggaknya langsung karena malas mengambil gelas. Air dingin ini tidak juga menjernihkan pikirannya.
“Jadi, gosip itu benar?”
“Apa?”
“Kalian dekat?”
“I told you we are just friend!”
“Teman tapi tidur bareng?”
Kepala Eliana kini seakan mau pecah. Dia sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan ini. “Dia gay, for god sake!!! Haven’t you heard that?! Itu kan rahasia umum.”
“I heard that.” Jawab Arka enteng dengan satu ujung bibir ke atas.
Eliana mengerutkan kening tidak mengerti. “So?”
“I’m just teasing you.” Ia tertawa kecil sembari memasukkan kembali botol air minumnya ke kulkas. “Dan aku nggak nyangka kamu sepanik itu, hahaha...,”
“Hahaha.” Eliana menirukan tawa Arka dengan nada menyebalkan.  “Jerk!” desisnya pelan sambil membalikkan badan.
Arka terkekeh makin keras mendengar umpatannya. Melihatnya tertawa seperti ini, membuat Eliana makin tidak memahami debaran jantungnya. Jika sebelumnya, ia memahami debaran jantungnya sebagai ketakutan. Arka mengetahui rahasianya. Arka memiliki kekuatan untuk menghancurkan karirnya. Kini ia sudah tidak tahu lagi arti dari debaran di dadanya.
Apakah aku mulai menyukainya?, ia menanyakan itu dalam hati.
“Oh, ya, aku boleh minta nomor telepon temanmu?” tanya Arka.
“Hah?”
“Temenmu yg nyusahin itu.” Ia mengarahkan dagunya ke arah Jeremy.
“Jimmy?”
“Ya.”
“Oh, bisa.” Hati Eliana sedikit mencelos tapi kemudian dia menyadari bahwa rencananya berjalan dengan baik – meski awalnya berantakan. Ia memberikan nomor telepon Jeremy pada Arka.
“Okay, thanks.”
Eliana tersenyum. “You’re welcome.”
Setidaknya kini Eliana bisa tenang. Kemungkinan Arka membongkar rahasianya menjadi semakin tipis. Ia bisa menjalani hidup seperti biasa setelah ini.
Seharusnya.


*

Monday, August 15, 2016

2 ALL SHE KNOWS

“No, I wouldn’t quit modeling of course. That crazy man who know nothing ‘bout women.” Eliana mengomel pada sahabatnya, Fira. Eliana mengambil botol air mineral di meja dan menenggak isinya dengan gemas.
Sementara Fira terkekeh kencang sampai-sampai cheese cake di mulutnya berhamburan ke luar. Eliana mengerang jijik melihatnya. Fira adalah sahabat kentalnya sejak duduk di bangku SMP. Tentu saja penampilan fisik mereka bagai bumi dan langit. Mereka bagaikan angka sepuluh, begitu teman-teman masa SMA menjulukinya. Fira sebenarnya tidak gemuk-gemuk benar. Hanya saja tubuhnya yang berisi dan berlekuk itu tampak gendut jika disejajarkan dengan tubuhnya yang semampai.
Sesi pemotretan tadi siang berlangsung lancar. Arka tidak mempermasalahkan insiden toilet di hadapan CEO – yang kebetulan juga hadir di sana. Ia hanya diam menonton. Sesekali ia mengecek pekerjaannya melalui tablet. Seakan-akan tidak ada masalah yang berarti. Sepulangnya, Eliana telah janjian dengan Fira yang menunggunya di kafe di seberang gedung untuk makan siang. Tentunya Eliana hanya berani memesan sebotol air mineral.
“Bukannya Arka itu ganteng dan jomblo kamu bilang? Rayu aja biar diem.”
“Iya, ganteng. Tapi gosipnya nggak suka cewek.
“Ah, cuma gosip!”
“Eh, beneran lho. Dua kali dia ngeliat aku hampir telanjang. Kamu tahu, kadang aku ganti baju di hadapan dia pas fitting baju untuk keperluan promosi dan iklan. Mukanya nggak ada nafsu-nafsunya dong!”
“Serius?”
“Serius!”
Fira mengusap dagunya sesaat. “Bukannya Jeremy or something baru aja putus dari pacarnya yang fotografer itu?”
Seketika Eliana mengetahui arah pembicaraan Fira. “Eh, iya, coba aku umpanin Jimmy buat tutup mulutnya Arka.”
Fira menjentikkan jari tanda setuju. “Nah!”
Jeremy adalah teman modelnya yang kebetulan gay. Temannya itu terkenal pandai menaklukkan hati laki-laki. Bahkan menurut yang lain, Jeremy bisa menaklukkan laki-laki yang sebelumnya straight dengan wajah tampan dan pesonanya. Kadang Eliana iri dengan kemampuan Jeremy. Barangkali Eliana memiliki wajah cantik, tapi ia tidak memiliki kemampuan menaklukkan hati laki-laki. Mantan-mantannya bilang dia membosankan. Bagi mereka ia hanyalah gadis modis dengan perangai konvensional yang membosankan.
Mereka benar. Eliana lebih suka menghabiskan waktu di rumah dengan menonton film dan membaca buku. Padahal seharusnya ia bisa mengikuti pesta-pesta liar yang menyenangkan. Begitulah kemudian hubungan cinta Eliana selalu berakhir dengan si pria berselingkuh dengan perempuan lain.
“Tapi, Ana...,”
“Yes?”
“Arka was right.”
Eliana menggeleng tidak mengerti dengan pernyataan Fira.
“You need help.” Ujar Fira sembari tersenyum.
Eliana hanya terdiam. Ia mengarahkan tatapannya ke arah jalan raya, mobil-mobil berjarak sangat dekat satu sama lain, saling berhimpitan. Dari balik kaca kafe ini, Eliana merasa dirinya tidak berarti. Dia bukanlah siapa-siapa tanpa tubuh size zero-nya. Ia bukanlah siapa-siapa jika saja ia bukan model. Tidak akan ada seorang pun yang peduli bahkan mengenalinya jika ia menjadi gadis yang biasa-biasa saja. Eliana tidak bisa membayangkan dirinya jika ia bukan seorang model. Pekerjaan ini telah menjadi hidupnya. Satu-satunya hal yang ia bisa. Satu-satunya hal yang ia tahu. “This modeling things are all I know.” Gumamnya pada diri sendiri.
“Permisi.” Tiba-tiba seorang pramusaji menghampirinya.
“Ya?”
Pramusaji yang mungkin masih kuliah itu tersenyum malu menatapnya. Ia memegang ponselnya dengan gelisah. “I’m sorry, Miss Eliana... I am your biggest fan.”
“Oh, halo, mau foto?”
Gadis itu menangguk dengan senang karena Eliana langsung mengetahui maksudnya. Gadis itu langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka berdua untuk selfie. Kemudian Fira menawarkan diri untuk mengambil foto mereka berdua.
“You are so kind and beautiful. I also want to quit college and pursue my dream to be a model like you.”
“No!” Eliana cepat-cepat menukas.
Gadis pramusaji itu tampak terkejut dengan nada suara Eliana yang tiba-tiba meninggi. Cepat-cepat Eliana menjelaskan maksud perkataannya. “If I were you I wouldn’t do that. Kamu harus selesaikan kuliahmu.
“Tapi, Miss, Anda sukses menjadi model terkenal walau nggak kuliah. Anda membuktikan bahwa kesuksesan nggak harus melulu melalui pendidikan.” Gadis itu masih kukuh pada pemikirannya.
Eliana terhenyak sesaat. Ia ingin berkata bahwa impiannya yang sebenarnya bukanlah menjadi model. Ia ingin bilang bahwa menjadi model barangkali hanya tentang takdir. Sebab sewaktu duduk di bangku SMP, seorang agensi pencarian bakat melihatnya ketika sedang bermain di gamezone. Orang itu menawarinya untuk bergabung dalam agensinya, ada casting untuk iklan sabun wajah untuk remaja. Atas dorongan Fira, ia mengiyakan.
Eliana tidak mendapatkan casting itu karena kemampuan aktingnya belum sebaik sekarang. Namun pada casting selanjutnya, ia berhasil membuktikan bahwa ia memiliki potensi. Ia membintangi banyak iklan di bawah agensi kecil tersebut dan mulai dilirik untuk melenggang di catwalk karena postur tubuhnya yang mendukung. Semua tentang kebetulan dan kebetulan yang tidak ia rencanakan. Tak lama sebuah managemen model terkenal di Indonesia memintanya bergabung dan setelah itu karirnya semakin cemerlang.
Namun terlalu sulit menjelaskan segalanya pada gadis pramusaji itu dan Eliana tidak ingin menghancurkan impiannya. Gadis itu masih terlalu polos. Jadi Eliana hanya tersenyum dan berkata, “Good luck, my dear. See you on top.”
Seketika senyuman riang merekah di wajah gadis pramusaji. Dia mengucapkan terima kasih berulang kali dan memuji betapa baiknya dia. Ia kemudian pergi menuju teman-temannya yang menunggunya di dekat meja bar. Yang tidak Eliana sadari saat itu adalah seseorang mengawasinya dari kejauhan. Arka sedang memesan segelas kopi Americano di meja kasir.
Gadis pramusaji yang barusan meminta foto kembali ke balik meja dan menyiapkan pesanan Arka. Satu krat kopi Americano disodorkan ke arahnya. Arka menerimanya dan menyerahkan sejumlah uang ke kasir.
“Bukankah dia sangat cantik?”
“Siapa?” Arka balas bertanya.
“Kak Eliana.” Gadis itu berkata dengan riang.
“Perempuan secantik itu, bisa-bisanya diselingkuhin. Kalau saya jadi cowoknya, saya jagain bener-bener deh. Mana baik, nggak sombong.” Sang kasir ikut-ikutan berkomentar.
“Diselingkuhin?” Arka lagi-lagi bertanya.
“Kakak nggak dengar beritanya? Ramai diberitakan di televisi, pacarnya yang terakhir menghamili cewek lain, Pak.” Gadis pramusaji menjelaskan dengan semangat.
“Ini, Kak, kembaliannya.” Pemuda penjaga kasir memberinya kembalian.
Arka menolaknya. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan memasukkannya ke dalam toples tip. Arka menaikkan alisnya sembari tersenyum tipis kemudian berjalan keluar dari kafe.
“Kakak itu sering kasih tip ya?” Arka masih bisa mendengar sang pemuda kasir membicarakannya. “Baik ya,”
“Iya, baik, ganteng juga, tapi aneh.” Jawab si gadis pramusaji. “Dia selalu sendirian setiap ke sini.”
“Hush.”
“Hehe.”
Arka membuka pintu kaca kafe dan keluar dari sana. Di luar sana udara terik dan panas menyengat kulit. Ia menenggak americano coffee ice-nya dan menyeberang jalan ketika lampu pejalan kaki berwarna hijau.

pict from weheartit

*

Ketika Arka kembali orang-orang sedang sibuk berkumpul di depan layar laptop. Arka meletakkan krat di meja dan berjalan mendekatinya. Rupanya mereka sedang melihat hasil pemotretan barusan. Mereka memuji kemampuan Eliana dalam berpose tapi kemudian mereka bingung harus memilih foto yang mana karena hampir kesemuanya memukau.
            Teran, asistennya, yang memegang mouse laptop. Ia menakan tombol next terus menerus sambil terus bergumam betapa luar biasanya Eliana. Kalau tunangannya tahu ia memuji perempuan lain seperti itu, bisa dipastikan pernikahannya bulan depan batal. Tiba-tiba ada satu foto yang menyita perhatian Arka.
            “Berhenti.”
            Teran kaget karena baru menyadari kehadiran Arka. Begitu pula yang lainnya. Di layar laptop terpampang foto Eliana berpose dengan satu tangan di pinggang, ia menarik sedikit dagunya ke atas, memamerkan lehernya yang jenjang, rambut gelombang kecokelatannya berkibar tertiup blower, gaun satinnya memeluk tubuhnya dengan sempurna di bagian dada dan pinggangnya yang kecil. Wajahnya menunjukkan pose wajah penuh percaya diri dengan bibir sedikit terbuka, sedikit senyuman, terkesan mahal, tapi masih terlihat bersahabat.
            “Aku suka foto yang ini. Dia terlihat mahal.” Ujar Arka dengan nada datar. “Tentu saja, dia memang dibayar mahal. Yang kusukai dari foto ini dia terlihat seperti gadis cantik yang kau temui di pesta, semua orang ingin mengenalnya, kamu tahu gadis itu berasal dari level yang berbeda, tapi gadis itu masih mau menanggapi obrolanmu. Mahal yang seakan-akan tergapai bagi kebanyakan orang. She’s everybody’s goal.
            Semua terbengong-bengong mendengar pengandaian Arka. “Kenapa? Bukankah itu alasan pilihan jatuh pada Eliana? She’s kind of a girl next door? Ada kopi di meja, ambil saja.” Arka menaikkan gelas kopinya ke arah rekan-rekan kerjanya dan berlalu pergi.
            “Arka memang kaya gitu. Terlalu fokus sama kerjaan. Pantes jomlo.
            “Iya, nggak bisa nikmatin hidup banget. Nggak kaya kita yang masih sempat-sempatnya gagal fokus mengagumi Eliana.
Uh, kapan badan aku bisa kaya dia. Huhuhu,”
            “Duh, coba istriku macam Eliana.”
            “Wah! Ketinggian amat ngelamunnya!”
            “Hahahaha...,”


*

Sunday, August 14, 2016

1. PROLOG: ALL SHE KNOWS

            Harusnya Eliana tidak menuruti ajakan Fira semalam untuk makan steak. Hari ini ia ada sesi pemotretan dan coba tebak... dress merah marun itu jadi agak sulit untuk dirisleting pada bagian punggungnya. Eliana mencoba menahan napas, menarik otot perutnya ke dalam sekuat tenaga. Ya, tentu saja ia berhasil merisleting pada akhirnya. Tapi kini ketika melihat bayangannya di cermin, ada sedikit buncit di perutnya.
            “Shit...,” umpatnya dengan mata membelalak lebar. Bayangan wajahnya di cermin tampak sangat panik. Ia telah mengenakan make up dramatis yang makin menonjolkan tulang pipinya yang tinggi dan rahangnya yang tirus.

pict from weheartit

Tidak, ia tahu ia tidak bisa melakukan pemotretan dengan baik dengan perut seperti ini. Tidak, ia tidak mau kehilangan gelarnya sebagai brand ambassador obat pelangsing ini. Ia sudah melakukan apa saja demi memenangkan casting ini di antara puluhan kandidat lainnya yang mendaftar. Kandidat yang bukan orang biasa. Kandidat yang kesemua adalah model terkemuka di negeri ini. Kesalahan sekecil ini akan melengserkan gelarnya. Ia hanya menang ukuran pinggang setengah inchi lebih kecil dari Pamela – saingan terberatnya. Sekarang dengan perut buncit ini, Pamela jelas lebih unggul darinya.
            “They’re waitin’ me to fall, but not today... not today, Eliana....” gumamnya dengan tatapan mata  tajam pada bayangannya sendiri. Perlahan ia mengendap-endap menuju pintu keluar ruang rias. Bagus, sedang tidak ada orang di lorong. Ia berjalan keluar dengan napas tertahan. Tak seorang pun boleh tahu perutnya sedang buncit. Ia masuk ke dalam toilet. Bagus, tidak ada orang juga di sana.
            Eliana melepas napasnya dengan lega. Perutnya kembali membuncit. Ia berdiri di depan wastafel, menatap bayangan dirinya di cermin sesaat, lalu dengan lihai ia memasukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke mulut hingga menyentuh dalam langit-langit mulutnya. Seketika tubuhnya merespons, perutnya bergejolak, tenggorokannya panas, dan sejumlah makanan yang belum sepenuhnya tercerna keluar dari mulutnya.
            Ia terus muntah dan muntah. Ia menyalakan kran air untuk membersihkan wastafel dari muntahannya. Muntahannya berhenti. Ia memasukkan lagi jarinya ke dalam mulut kemudian muntah lagi.
Bukan sekali dua kali ia melakukan hal seperti itu. Ia hampir melakukannya setiap hari. Tapi tidak di tempat umum, apalagi di studio pemotretan. Ia sangat berhati-hati menjaga citranya. Tak seorang pun boleh mengetahui kebiasaan buruknya ini. Dia bisa kehilangan pekerjaannya. Ia harus mempertahankan citranya sebagai model bertubuh jangkung yang makan banyak tapi tidak bisa gendut.
Sebenarnya itu citra yang tolol, Eliana membatin. Semua orang tahu semakin bertambahnya usia, sudah sepantasnya seorang perempuan menjadi mudah gemuk. Dulu ketika Eliana pertama kali terjun di dunia modelling pada usia lima belas, ia bisa makan banyak dan tetap kurus. Sekarang jangan harap. Ia sudah memasuki usia dua puluh lima. Kemampuan metabolisme tubuhnya sudah tidak sebaik ketika ia masih remaja. Ia melakukan diet ketat untuk tetap mempertahankan size zero-nya.
Ketika dirasanya gaunnya sudah tidak terlalu melekat erat perutnya, Eliana mencuci mulutnya dengan air. Tidak apa-apa lipstiknya sedikit berantakan, dia bisa touch up nanti. Ia berdiri tegak dan memeriksa bayangan dirinya di cermin. Buncit di perutnya sudah hilang.
“Yeah, this is how we do.” Gumamnya pada diri sendiri. Ia tersenyum lebar pada dirinya sendiri seakan-akan ia telah melakukan kerja bagus. Ia berjalan menuju pintu dan tepat di depan pintu, seorang lelaki tegap berdiri. Eliana menengadah dan menemukan tatapan dingin lelaki itu menghujamnya. Eliana lekas menutupi kegugupannya dengan senyuman lebar.
“We are looking for you everywhere, Ms. Eliana. Pemotretan akan dimulai, harusnya kamu sudah berada di set sekarang. Katanya. Ia tidak menyusahkan diri untuk membalas senyuman Eliana. Tanpa menunggu jawaban dari Eliana, laki-laki itu membalikkan badan dan berjalan pergi.
Eliana lekas memburunya dan menyejajari langkahnya. Namanya Arka, Project Manager di perusahaan tempat Eliana menjadi brand ambassador produk pelangsing tubuh. Pria itu jelas penting bagi keberlangsungan karirnya. Eliana menggigit bibirnya dengan gelisah, ia bertanya-tanya dalam hati berapa lama Arka berdiri di depan pintu kamar mandi. Apakah ia mendengar suara muntahannya dari luar sana? Apakah yang ia pikirkan ketika mendengarnya?
Eliana bisa saja menangkis. Ia bilang ia sedang tidak enak badan. Ia bisa mengelak dari tuduhan yang mungkin pria itu lontarkan. Namun Arka tetap diam, tidak menanyakan apapun.
“Mr. Arka.”
“Cukup Arka.” Potongnya.
Eliana mengangguk. Lagipula usia mereka juga tidak terpaut cukup jauh, Arka mungkin hanya empat-lima tahun lebih tua darinya. Ia terlalu muda untuk menduduki jabatannya yang sekarang. Tapi ia lulusan universitas terkenal di dunia, Harvard kalau Eliana tidak salah dengar. Jadi posisinya yang sekarang jadi masuk akal.
            “Arka, how long were you standing outside?”
            “Long enough to hear everything.”
            Seketika Eliana tercengang. Ia membersihkan tenggorokannya dan mencoba memberi alasan yang masuk akal. “Aku sedang nggak enak badan. Habis ini rasanya aku harus ke dokter.”
            “Kamu mau tahu apa yang aku pikirkan, Anna?” tukasnya.
            “Ya?”
            “You should looking for help or just quit modeling instead.”

*

Wednesday, August 10, 2016

ALL SHE KNOWS


pict from weheartit

Namanya Arka – sama seperti arti namanya – dia adalah matahari di hidup Eliana. Walau Eliana sendiri, juga berarti matahari, tapi Eliana tidak sebercahaya penampilannya. Gadis itu menyimpan kegelapannya tersendiri.

Tiga hari lagi Eliana dan Arka akan melangsungkan pernikahan. Semua persiapan sudah mencapai final. Kemudian perempuan itu muncul, Bulan, perempuan yang pernah menjadi malam bagi hidup Arka. Perempuan yang pernah membuat Arka meninggalkan kekasihnya demi sahabat masa kanak-kanaknya itu.

Perempuan yang memiliki kemampuan dashyat untuk menghancurkan pernikahan Eliana.


Jika saja Bulan berniat melakukannya.

Follower