TENTANG SI CHIMER

Monday, November 28, 2016

Mengapa Harus Berwisata ke Bandung?


Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri, apa yang menjadi pertimbangan mengapa Anda memilih sebuah destinasi wisata? Apakah karena ada objek wisata populer di tempat tersebut? Atau, apakah karena disana ada objek wisata yang sesuai dengan minat Anda?
Terlepas dari apapun alasan mengapa Anda memilih sebuah objek wisata sebagai next traveling destinations anda selanjutnya, salah satu yang direkomendasikan adalah Bandung. Lalu mengapa Bandung harus menjadi destinasi wisata Anda selanjutnya? Alasan-alasan berikut ini mungkin bisa menjawabnya.

Akomodasi di Bandung lengkap dan menarik

Akomodasi di Bandung cukup lengkap mulai dari hotel hingga villa. Salah satu hotel yang unik dan banyak dipesan oleh wisatawan adalah Banana Inn Hotel yang lokasinya ada di Jalan Dr. Setiabudi Nomor 191, Gegerkalong, Sukasari.
Lokasi Hotel ini sangat strategis, berada di antara pusat kota Bandung dan berbagai obyek wisata menarik seperti: Kampung Gajah Wonderland, Jendela Alam, Bosscha observatory, objek wisata De' Ranch, Kebun Strawberry, Taman Begonia, hingga Curug Maribaya.
Karena berlokasi tepat berada ditengah-tengah, jadi bagi siapapun yang datang dari Bandung untuk pergi ke berbagai objek wisata tersebut kemungkinan besar akan melewati lokasi hotel Banana Inn Bandung. Klik di sini untuk melihat dan mengetahui lebih jelas mengenai fasilitas maupun harga yang ditawarkan oleh hotel tersebut.

Cuaca di Bandung menyenangkan

Bandung memiliki cuaca yang cukup sejuk dan menyenangkan. Tidak heran mengingat Kota Bandung berada jauh di atas permukaan laut. Karena Bandung berada di ketinggian, maka Bandung juga jadi jarang banjir, tidak seperti Jakarta.


Ranca Upas Bandung - dolandolen.com

Jadi, berkunjung pada musim kemarau atau musim hujan seharusnya tidak membuat Anda khawatir jika perjalanan wisata Anda akan terganggu.

Ada banyak villa dengan pemandangan menakjubkan di Bandung

Bandung dikenal memiliki pemandangan alam yang eksotis dan mempesona. Diantaranya adalah Gunung Tangkuban Perahu dan objek wisata Kawah Ciwidey. Disekitar tempat tersebut, ada banyak villa atau penginapan yang disewakan dengan harga bervariasi tergantung fasilitas dan ukuran villa.
Namun yang menjadi perhatian adalah, pemandangan alam disekitar villa begitu menakjubkan. Panorama alamnya indah didukung dengan udara khas Bandung yang sejuk. Membuat villa Bandung cocok dijadikan sebagai tempat beristirahat jika ingin menenangkan pikiran dan lari dari keramaian kota.

Ada banyak objek wisata terpadu di Bandung


Rumah mode - tempatwisatadibandung.info

Bandung tidak hanya menawarkan pemandangan alam, melainkan di Bandung juga ada banyak objek wisata terpadu dan objek wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi. Diantaranya adalah:
l  Trans Studio Bandung
l  Saung Angklung Udjo
l  Cimanggu dan Ciwalini Hot Spring Water
l  Rumah mode
l  Kebun binatang Bandung
l  Braga City Walk, dan lain-lain.

Kuliner di Bandung terkenal enak dan lezat



Karedok Bandung - recipecipe.blogspot.co.id

Di Indonesia, masakan sunda cukup populer dan banyak diminati. Diantara beberapa makanan khas Bandung yang sebaiknya Anda coba saat berkunjung adalah:
l  Karedok. Terdiri atas berbagai sayuran mentah seperti mentimun, daun kemangi, kacang panjang, terong, dan lain-lain.
l  Batagor. Merupakan singkatan dari bakso tahu goreng.
l  Mie kocok. Adalah makanan lain khas Bandung yang enak dan nikmat terbuat dari mie kuning dan toge.
l  Perkedel Bondon, yang terbuat dari kentang dan dimasak menggunakan tungku api
l  Surabi khas Bandung
l  Combro
l  Misro
l  Nasi Timbel
l  Hingga, Peuyeum (tape singkong).

Di Bandung ada banyak pusat perbelanjaan murah-meriah

Destinasi wisata belanja yang paling terkenal di Bandung adalah Pasar Cibaduyut. Di Pasar Cibaduyut kita akan dengan mudah menemukan berbagai benda berkualitas tinggi mulai dari sepatu, atas, jaket hingga berbagai bentuk alas kaki yang terbuat dari kulit.


Cibaduyut Bandung - bdgexpat.com

Namun selain berbagai benda-benda terbuat dari kulit yang ditawarkan dengan harga bersahabat di Pasar Cibaduyut, sebenarnya masih ada tempat-tempat belanja murah-meriah lainnya di Bandung yang menarik. Tempat-tempat belanja tersebut diantaranya adalah:
l  Pasar Jumat Pusdai, dikenal sebagai salah satu tempat berbelanja berbagai jenis pakaian sisa-sisa ekspor. Ditawarkan dengan harga murah-meriah.
l  Gang Tamim merupakan pusat perbelanjaan jika Anda ingin mencari berbagai pakaian yang terbuat dari kain denim atau jeans dengan harga antara Rp100.000 hingga Rp200.000.
l  Pasar Baru Trade Center, adalah tempat berbelanja berbagai jenis kain dan pakaian dengan harga terjangkau.
l  Jalan Cihampelas juga merupakan destinasi wisata belanja di Bandung yang ikonik dan terkenal. Disini kita bisa menemukan dengan mudah berbagai jenis oleh-oleh khas Bandung seperti keripik tempe, peuyeum, hingga kaos-kaos lucu dengan kata-kata unik.


Itulah beberapa daya tarik Bandung yang mungkin bisa menjadi alasan untuk memilih Bandung sebagai destinasi wisata Anda selanjutnya.

Monday, November 21, 2016

5. THE REASON

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Arka sudah bangun dari pukul tujuh, mandi, makan beberapa lembar roti, dan kini memeriksa email melalui hpnya. Ada email dari Liz menanyakan kabarnya, Arka membalas email itu dengan wajah cerah. Liz berencana untuk liburan ke Jakarta minggu depan sekaligus berkenalan keluarganya. Arka mengiyakan, mengingat dia sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Nenek Liz di Monterrey. Ketika Arka membalas email tersebut, yang terlintas dalam pikirannya adalah jembatan Puente de la Unidad dan Sungai Santa Catarina yang membelah kota Monterrey menjadi dua bagian. Lalu ciuman hangat mereka di sana. Arka tersenyum mengingatnya.
Ketika menelusuri email-email sebelumnya, Arka barulah ingat perihal hari pertamanya masuk kerja Senin depan. Arka langsung melompat turun dari tempat tidurnya, mengambil jaket, dompet, dan kunci sepeda motor. Ketika ia melewati ruang keluarga, ibunya menanyakan ia mau ke mana. Arka menjawab ia akan keluar ke mall untuk beli beberapa setelan kantor. Ibunya menawarkan diri untuk menemani tapi Arka menolak. Sebelum ibunya memaksa, Arka bergegas kabur ke garasi, menaiki motor lamanya, dan langsung melaju ke rumah Bulan.
          Rumah Bulan hanya berjarak empat rumah dari rumah Arka. Ketika ia mengendarai sepeda motor tuanya, Arka merasa kembali ke zaman SMA. Ketika itu ia dan Bulan sering berangkat sekolah bersama, tidak selalu setiap hari, tapi sering. Sebab Arka menjemput pacarnya sendiri – ketika sedang punya pacar – dan Bulan juga dijemput pacarnya – kalau mereka tidak sedang berantem. Arka senyum-senyum sendiri mengingatnya. Tanpa terasa ia sudah sampai di depan pintu pagar rumah Bulan. 
Arka turun dari sepeda motornya dan terperangah melihat pekarangan rumah Bulan yang ditumbuhi rumput tinggi dan tidak terawat. Cat tembok rumah Bulan tampak usang dan terkelupas di sana sini. Arka mendorong pintu pagarnya pelan dan ternyata tidak terkunci. Arka jadi merasa uji nyali masuk rumah hantu ketika mulai menjejakkan kaki ke dalam pekarangan rumah Bulan.
Perlahan ia menaiki beranda rumah Bulan. Ia menekan tombol bel di sebelah kanan pintu. Suara bel menggema ke penjuru rumah. Sunyi untuk beberapa saat. Arka memencet bel lagi. Suara langkah kaki berat mendekat. Arka undur beberapa langkah. Ia sudah memasang senyum cerah untuk mengantisipasi kehadiran Om Ricko atau Tante Mel yang membukakan pintu. Tak lama suara kunci diputar dan pintu terbuka.
Senyum di wajah Arka perlahan-lahan mengering.
Dari celah pintu ia menemukan wajah lain. Wajah seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya. Tatapan matanya dingin dan menyelidik. Ia hanya mengenakan celana training dan bertelanjang dada. Arka tidak mengenali laki-laki itu.
Pintu dibuka makin lebar. Arka masih mematung di tempatnya. Demikian dengan laki-laki asing di hadapannya. Arka bisa melihat sorot tidak suka di mata laki-laki itu. Laki-laki itu menyungging senyum sinis dan berkata, “Jadi lo, Arka?” 
Arka menyeringai. Pikirannya masih kalut. Bulan anak tunggal dan Arka mengenal seluruh sepupu laki-laki Bulan. Laki-laki di hadapannya kemungkinan besar ada kekasih Bulan. Tapi apa yang dilakukannya pagi-pagi begini di rumah Bulan?
Ego Arka terusik, dengan nada tak kalah arogannya, ia berkata, “Om Ricko sama Tante Mel mana?” ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Laki-laki itu menatap Arka dengan tidak suka. Namun ia sudah lama menguasai rumah ini dan juga penghuninya. Tingkah Arka terlihat seperti pecundang baginya. Ia tertawa sinis dan Arka balik menatapnya dengan nyalang.
Arka berjalan menuju ruang tengah keluarga. Jendela ruang tengah dan kordennya masih tertutup, sementara lampu ruang tengah tidak menyala. Dalam keremangan, Arka melihat onggokan selimut dan bantal di sofa ruang keluarga, lalu berbotol-botol minuman keras, dan juga aroma rokok yang pengab. Arka hampir tidak bisa mengenali rumah ini. Ia mulai ragu ia memasuki rumah yang salah.
Keraguannya tidak berlangsung lama ketika pintu kamar mandi terbuka di belakangnya. Arka menoleh dan menemukan Bulan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Rambutnya basah dan aroma segar menguar dari dalam kamar mandi. Arka terperangah melihatnya dan Bulan tak kalah terperangahnya.
"Arka...," gumam Bulan bingung. Ia antara ingin kembali masuk ke dalam kamar mandi atau menjelaskan apa yang tengah terjadi kepada Arka. Belum sempat Bulan menentukan pilihan, Fero sudah merangkul bahu Bulan, dan menciumi leher Bulan di hadapan Arka. 
Arka mematung di tempatnya.
Begitu pula dengan Bulan.

Image result
randomly from google

Sementara Fero menatap Arka dengan sorot menyebalkan. Arka ingin meninju hidung pria itu, Pria yang kemungkinan besar pacar Bulan saat ini. Arka tidak pernah sebegitu benci pada pacar Bulan sebelumnya seperti saat ini. 

*

Arka memilih untuk menunggu di beranda rumah. Ia merasa asing dengan rumah Bulan dan juga penghuninya yang baru. Entah ke mana perginya Om Ricko dan Tante Mel. Kalau mereka ada di rumah mana mungkin begundal macam Fero bisa berkeliaran seperti itu? Apakah mereka sedang di luar kota selama beberapa hari? Kalau, iya, mengapa Bulan membiarkan ada laki-laki menginap di rumahnya? Dan mengapa keduanya...
Ah, Arka merasa ingin meninju seseorang saat ini. Kakinya menendang kerikil di pelataran rumah hingga melenting jauh ke seberang pekarangan yang tak terurus. Ia ingat dulu Tante Mel suka menanam mawar berbagai warna. Sekarang tanaman itu tampak kering dan diselimuti belukar dan tanaman rambat.
Pintu rumah di belakangnya terbuka. Arka menoleh sedikit. Bulan berjalan pelan mendekatinya. Ia tampak ragu untuk menemui Arka. Kini mereka berdiri berhadapan dalam diam beberapa saat.
“Namanya Fero.” Bulan mengawali perkataannya. “Dia… pemain sinetron stipping di tempatku magang sebagai fashion stylist. Mungkin kamu nggak kenal karena lama nggak tinggal di Indonesia.” Bulan memaksakan diri untuk tertawa tapi gagal dan malah terdengar ganjil. “Orangnya baik kok, aslinya.” Bulan berkata dengan maksud menegaskan.
Arka berusaha untuk mengabaikan panas di dadanya. Membayangkan Fero menyentuh tubuh Bulan, membuat sekujur tubuhnya terbakar amarah. Arka mengenali perasaan itu sejak mereka SMA. Ia selalu cemburu jika Bulan terlalu sering jalan dengan pacarnya dan mengabaikannya. Ia juga marah jika pacar Bulan bertindak sewenang-wenang. Ia pernah menghajar pacar Bulan ketika memergokinya berselingkuh. Bagi Arka itu adalah hasrat ingin melindungi. Bulan sudah seperti saudaranya sendiri. Bukankah seorang kakak laki-laki memang sudah sewajarnya melindungi adik perempuannya? Demikian ia mengartikan perasaannya. Bulan pun memahami tindakan Arka.
“Om sama Tante mana?”
Bulan berdeham pelan membersihkan tenggorokannya. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan itu akan meluncur dari mulut Arka. Ia sudah cukup lama menutup-nutupinya. Dalam email yang sering ia kirim ke Arka, mereka hanya saling bertukar kabar dan bercanda. Bulan tidak pernah sekalipun menceritakan kehidupannya.
“Mereka sudah pisah, Ka… beberapa bulan setelah keberangkatanmu ke Harvard.” Bulan berusaha menjelaskan dengan tersenyum.
“Berpisah?” Arka mengerutkan kening.
“Bercerai.” Bulan menegaskan.
Arka membuka mulutnya hendak berbicara namun diredakannya dulu amarahnya. “Kamu seharusnya cerita semuanya sejak dulu, Bulan. Kamu membuatku tampak tolol!” gumamnya menahan marah. Namun kemarahan Arka hilang seketika begitu melihat mata Bulan yang berkaca-kaca.
“Aku melewati masa-masa yang sulit sejak kepergianmu. Banyak hal berubah setelah kedua orang tuaku bercerai. Aku tidak sama dengan Bulan yang dulu. Semua orang memperlakukanku berbeda. Tapi, Ka…,” Bulan tersedak oleh tangisnya yang tertahan, “aku masih ingin kamu menganggapku sama. Aku ingin kamu memperlakukanku seperti Bulan yang dulu. Itu sebabnya aku tidak menceritakannya ke kamu. I’m sorry.” Beberapa tetes air mata Bulan jatuh. Ia mengusapnya sambil lalu, kemudian memilih membalikkan badan, pergi menuju Fero yang berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada.
Bulan berhenti sejenak di depan Fero, menatapnya sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Arka mengikuti kepergian Bulan dalam diam, matanya kemudian bertumbukan dengan mata milik Fero. Fero menaikkan satu ujung bibirnya ke atas, mengulum senyum sinis. Fero masih bertelanjang dada dan ia menghisap rokoknya dengan santai sembari memperhatikan Arka yang mulai melangkah pergi dari pekarangan rumah Bulan. Fero mengartikan kepergian Arka sebagai pengakuan kekalahan dan Fero menyukai perasaan menjadi pemenang.

*

Monday, November 14, 2016

4. COMING HOME

Iya... saya lanjutin kisah ini begitu tagihan revisi GPU kelar. Lalu ada Novi yang nagih nagih kelanjutannya via instagram. Jadi kayak ditagih debt collector. 
Begitulah, semoga saya bisa menamatkan kisah ini.
Kadang ditagih itu perlu karena kalo ga ada Novi yang nagih, saya bisa lupa benaran buat ngelanjutin ehehehe
Thank you Nov...

*
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Soekarno Hatta, ia merasakan beragam perasaan bergejolak di dadanya. Sampai-sampai ia merasa ingin muntah. Ada rasa sedih berpisah dari kawan-kawannya semasa kuliah, Liz – kekasihnya, ada rasa rindu akan tanah airnya, dan ada pula rasa takut. Empat tahun lamanya ia sama sekali tidak pulang ke tanah airnya. Ia bersekolah di Harvard karena beasiswa dan tidak pernah punya cukup uang uang untuk membeli tiket pulang. Arka diam-diam kerja part time sebagai tukang cuci piring di kafe, tapi ia hanya punya uang sedikit untuk bersenang-senang. Sesekali ia bepergian dengan backpacker ke beberapa negara bagian dengan budget sangat terbatas. Namun itu saja cukup bagi Arka yang berasal dari keluarga sederhana. Ia sudah sangat bersyukur dengan hidupnya.
Arka menghirup napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Turbulensi pesawat terasa semakin kencang ketika roda pesawat mulai menyentuh daratan. Dalam kepalanya berkelebatan wajah-wajah orang yang dirindukannya. Pertama-tama muncul wajah ibunya, ayahnya, lalu teman-temannya, dan terakhir... wajah itu muncul... Bulan.
Turbulensi kini sudah berhenti benar. Terdengar pengumuman bahwa pesawat telah mendarat dengan selamat, penumpang bisa bersiap-siap turun. Arka melepaskan sabuk pengamannya dan tersenyum. Bagaimanapun wajah Bulan selalu menentramkannya. Di rumah ia memiliki ayah dan ibu. Di luar rumah ia memiliki Bulan – sahabat masa kecilnya. Hidupnya akan baik-baik saja meski sudah empat tahun berlalu.
Barangkali justru lebih baik.
Perusahaan yang memberinya beasiswa sudah menghubunginya via email. Mereka meminta Arka mulai masuk kerja minggu depan. Arka tidak memiliki setelah yang bagus, selain satu-satunya setelan wisuda yang dimilikinya. Ia akan meminta Bulan memilihkan setelan yang bagus setelah ini.
 Arka berjalan keluar pesawat bersama dengan penumpang lainnya Ia mengeluarkan hp dan mulai menyalakannya. Ada beberapa pesan masuk selama penerbangan. Pesan dari ayah, ibu, beberapa relasi, teman, dan juga Bulan. Dari sekian banyak pesan, pesan Bulan yang ia buka terlebih dahulu.

Sori, ya, Ka, aku nggak bisa jemput kamu di bandara. Ada urusan penting mendadak. Btw, aku mampir ke rumahmu ya setelah urusanku beres.

Arka mengerucutkan bibir dengan kesal. Ia segera membalas pesan Bulan.

Nggak kumaafin!

Arka memasukkan hpnya kembali ke saku jaket yang dikenakannya. Ia berdiri di depan bagggage claim area, menunggu kopernya datang. Di sekelilingnya terdengar orang-orang berbicara dalam bahasa Indonesia. Arka memejamkan mata sejenak lalu tersenyum. Ah, sudah lama sekali sejak terakhir ia mendengar seseorang berbicarra dalam bahasa ibunya.
Sekitar sepuluh menit Arka menikmati hiruk pikuk di bandara dalam diam. Kemudian kopernya melintas, Arka mengangkatnya turun, kemudian menyeretnya menuju pintu keluar. Jantungnya berdentum-dentum tidak karuan. Ada perasaan bahagia yang meluap-luap sesaat sebelum ia bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.
Begitu ia keluar dari pintu batas penumpang dan penjemput, Arka langsung mendengar jeritan ibunya. Ia menoleh dan menemukan keluarganya berkumpul di satu titik. Arka berlari ke arah mereka dan mendapatkan pelukan dari mereka semua hampir secara bersamaan.
Rasya – adik laki-lakinya yang masih SMA – langsung mengambil alih kopernya agar ia bisa lebih leluasa melepas rindu dengan ayah dan ibunya. Empat tahun berlalu, Rasya masih SMP kelas tujuh ketika ia berangkat ke Amerika. Kini Rasya sudah remaja. Paman dan juga dua sepupunya yang kembar juga berada di sana. Mereka menagih oleh-oleh yang dijanjikannya. Lalu Arka melihat gadis itu berdiri di depannya sambil melipat tangan di dada.
“Kamu nggak benar-benar menganggap serius sms-ku kan?” kata gadis itu sambil menaikkan satu alis. Bulan mengenakan kaos hitam tanpa lengan dan jeans robek-robek sepaha. Kukunya dicat hitam dan ada gelang-gelang perak menghiasi pergelangan tangannya yang kecil. Bulan selalu suka warna hitam sejak dulu.
Arka sedikit terperangah melihat perubahan fisik sahabatnya. Bulan kini jauh lebih kurus dan semampai. Pipi bulatnya sudah hilang. Garis-garis wajahnya kian tegas, tulang-tulang bertonjolan di lengan dan tungkainya. Bulan tetap secantik yang diingatnya, tapi Bulan yang sekarang memiliki kecantikan yang berbeda.
Bulan berjalan mendekatinya dan tersenyum. “Kaget aku sekarang kurus? Kamu nggak akan bisa cubit pipi aku lagi sekarang.”
Arka tertawa dan langsung merangkul Bulan erat-erat. Bulan agak sedikit terkejut tapi kemudian ia ikut tertawa. Ketika Bulan membalas pelukan Arka, Bulan merasa berada di rumah. Ia merasa menemukan kembali jalan pulangnya setelah sekian lama tersesat.
Arka melepaskan pelukannya dan mencari-cari seseorang. “Om Ricko sama Tante Mel mana?”
Seketika Bulan tergagap ketika Arka menanyakan perihal kedua orang tuanya.
Ayah Arka segera mengalihkan pembicaraan dan berkata. “Ayo, cepat pulang, orang-orang sudah lama menunggu. Kami mengadakan acara untuk merayakan kepulanganmu.” 
Ibu langsung merangkul Arka dan membawanya berlalu dari Bulan.
Sementara Bulan masih berdiri di tempatnya, melihat kepergian Arka dan keluarganya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal terjadi setelah kepergian Arka. Bulan yang Arka kenal adalah seorang gadis manis dari keluarga yang bahagia. Bulan yang sekarang berbeda dengan Bulan yang dulu. Bahkan kedua orang tua Arka pun kini memperlakukannya dengan cara yang berbeda.
Semua sudah tidak sama lagi.

*

Bulan tahu dirinya tidak diharapkan di acara ini. Ia tahu kedua orang tua Arka tidak lagi menyukainya. Walaupun dulu, seingatnya, kedua orang tua Arka selalu baik kepadanya. Ayah Arka selalu mampir ke rumahnya dan mengajaknya berangkat ke sekolah bersama-sama dengan Arka. Sebab mereka dulunya satu sekolah dan kantor Ayah Arka searah dengan sekolahan mereka. Ibu Arka selalu menganggapnya seperti putri mereka sendiri sebab mereka tidak memiliki anak perempuan. Setiap bepergian mereka selalu membelikannya oleh-oleh. Seakan-akan ia sungguh bagian dari keluarga.

Image result
randomly from google

Hanya saja semua sudah berubah. Hari sudah gelap, acara makan malam selesai, berganti dengan acara ngobrol bersama sambil menikmati kudapan dan menyetel film keluarga. Kebanyakan dari mereka menanyakan pengalaman Arka selama berkuliah di Harvard, bagaimana indahnya kota, betapa cantik para gadis, dan betapa ia harus berjuang agar bisa lulus cepat waktu. Bulan duduk tak jauh dari sana dan mendengarkan tanpa sekalipun bersuara.
“Kamu dapat pacar di sana?”
Arka terdiam sejenak lalu tersenyum. “Namanya Liz, dia orang Meksiko. Kulitnya kecokelatan, matanya bening, dan senyumnya sangat manis.”
“Aaaa... lihat fotonya! Lihat!” semua berseru dengan antusias.
Arka menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka melalui layar hp. Bulan mengambil botol softdrink dan kembali menuangkan isinya ke dalam gelas kartonnya. Tiba-tiba mata Arka mengarah ke Bulan. Bulan mengangkat dagunya menanyakan maksud tatapannya.
“Gimana sama kamu, Ndut? Sudah punya pacar?”
Ndut adalah panggilan Arka pada Bulan. Dulu ia berpipi bulat dan bertubuh pendek. Baru beberapa tahun terakhir ini tubuhnya mengalami pubertas yang menakjubkan. Tulang-tulangnya memanjang dan ia menjadi kurus. Seberapa banyak makanan yang masuk rasanya seperti sia-sia.
Semua mata sontak menatap ke arahnya. Semua orang dalam ruangan itu tahu jawabannya. Mereka hanya merasa enggan tahu. Bulan meminum coke-nya, menjilat bibirnya sebentar, lalu menjawab dengan pelan. “Jelas punya. Aku kan cantik.”
Suasana masih hening. Arka memperhatikan ada yang aneh setiap kali pembicaraan mengarah ke Bulan. Dulu mereka tidak seperti ini. Bulan adalah sahabat terdekatnya. Kenapa semua orang menjadi orang asing pada Bulan?
Tiba-tiba hp Bulan berbunyi. Bulan mengangkat teleponnya dan mendengar sumpah serapah keluar dari seberang telepon. Orang di seberang telepon marah besar karena ia susah dihubungi sejak tadi pagi. Bulan menjelaskan dengan sabar bahwa ada sahabatnya baru pulang dari luar negeri. Tapi di seberang sana suara cacian terdengar makin keras hingga semua orang di ruangan dapat mendengarnya.
Bulan memutus sambungan teleponnya dan menatap ke semua orang dengan canggung. “Sorry, I gotta go. Bye.” Ia bergegas pergi tanpa permisi lagi.
Arka ingin mengejar Bulan tapi Rasya menahan lengannya.
“Jangan dikejar, Kak.”
“Kenapa?” tanya Arka tidak mengerti.
“Yang barusan menelepon Kak Bulan itu pacarnya.”
Mata Arka seketika membola. “Pacar? Bulan pacaran sama laki-laki sekasar itu? Gimana kalau Bulan kenapa-napa?” Arka langsung bangkit dan hendak mengejar Bulan.
Ayahnya dengan sigap menahannya. “Arka!”
Arka masih berusaha meloloskan diri dari ayahnya.
“Arka!” Potong ayahnya tegas. “Masih banyak tamu! Nggak usah ngejar Bulan.”
“Tapi, Yah!”
“Arka.” Ibunya menyela dengan lembut. “Benar kata Ayahmu.”
Arka tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya kini seakan tidak menyukai Bulan.
Ibunya mengusap wajah Arka lembut dan berkata dengan penuh kesabaran. “Arka sayang... banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi. Bulan yang dulu kamu kenal... berbeda dengan Bulan yang sekarang. Nanti kamu akan mengerti.”
Ibu menuntun Arka kembali ke ruang tengah, di mana orang-orang masih berkumpul. Suara film yang diputar satu-satunya menjadi suara yang terdengar. Semua tampak ganjil setelah kepergian Bulan. Ayah dan ibunya kembali berusaha mengembalikan suasana hangat yang sebelumnya tercipta. Tapi sia-sia. Sepeninggal Bulan, suasana menjadi suram.


*

Monday, August 1, 2016

GERUNDELAN TENTANG BUKABUKU DOT COM


Sebenarnya sebelumnya saya hampir nggak pernah belanja online buku sebelumnya. Karena saya sebelumnya tinggal di kota yang penuh dengan toko buku dan banjir diskon. Tapi setelah saya pindah di kota tanpa Togamas dan Gramedia, saya jadi ketergantungan dengan toko buku online.

Dari sekian tokbuk online yang saya jajal, saya pesan paling banyak di Bukabuku dot com. Dalam sebulan saya menghabiskan 1 juta sekian hanya untuk belanja di Bukabuku saja. Yang artinya saya percaya dengan toko buku ini setelah pemesanan pertama. Hanya saja kepercayaan saya terhadap Bukabuku dot com tidak lebih dari sebulan. Berikut capture sejarah transaksi saya:


klik untuk memperbesar

Kemudian pada pemesanan terakhir terdapat masalah. Setelah transfer tanggal 1 juli, buku baru dikirim sebagian pada 16 Juli (2 minggu lebih). Karena saya orangnya sebenarnya selow, saya santai saja. Yang penting buku sampai sesuai dengan pesanan, saya nggak masalah kalau terlalu lama. Toh, stok buku baru saya juga masih banyak yang belum terbaca.

Tak lama ada email pemberitahuan buku masih dalam masa tunggu. Ada pilihan untuk mengubah buku. Saya iseng-iseng mencobanya, ternyata dikenakan biaya ongkir tambahan sebesar 54 ribu. Jelas merugikan bagi saya.

Saya langsung menghubungi CS via email dan meminta pesanan kembali ke awal. Agar tidak dikenakan biaya tambahan. Tapi CS-nya mungkin kepalanya minta dijedutin ke tembok apa gimana ya, jawabannya bikin emosi ala jakasembung naik ojek, ga nyambung jek. Ini saya sudah agak emosi karena saya bilang saya batal ganti buku tapi CS-nya terus menceracau soal buku Harper Lee yang sebenarnya bukan pesanan saya.


klik untuk memperbesar

Kemudian tiba-tiba dari 4 buku pesanan hanya dikirimkan 2 saja. Saya langsung protes. Mereka bilang bukunya tidak ada. Padahal tidak ada pemberitahuan apapun sebelumnya. Buku dibatalkan secara sepihak tanpa persetujuan dari saya. Singkat kata saya minta REFUND.

Sebenarnya mudah menghitung refund karena hanya tinggal menambahkan harga buku yang tidak dikirimkan ditambah deposit saldo saya yang masih tersisa di Bukabuku. Sejumlah 85ribu. Tapi oh ternyata, CS Bukabuku dengan perhitungannya yang gaje bilang bahwa akan direfund sejumlah 36ribu saja. Saya kesel pemirsa… wekawekaweka… rasanya mau nggak dibalikin juga saya nggak peduli. Saya lelah dengan Bukabuku dan memutuskan untuk nggak akan lagi pesan di sana.

 
klik untuk memperbesar

Nah, barusan saya cek mutasi rekening ternyata ada transfer refund dari Bukabuku yes. Dan transferannya beda lagi, jadi 63ribu. Itu entah dari mana perhitungannya...

klik untuk memperbesar

Saya coba iseng browsing soal Bukabuku dan pelayanannya. Ternyata bukan cuma saya seorang yang mengalami pengalaman kurang mengenakkan ini. Jadi ya salah saya kurang teliti saja dalam memilih toko buku online terpercaya. Sebenarnya kejadian ini sangat disayangkan karena saya sempat berpikir akan terus pesan dari Bukabuku. Karena saya memang sangat butuh toko buku online selama saya tinggal di kota tanpa tokobuku ini. Semoga ke depannya pelayanan Bukabuku makin membaik yes~

Kalian ada rekomendasi toko buku online yang bagus nggak?


Salam,

Annesya

Follower